Youniverse [10 of ?]

Youniverse3

a story by bapkyr (@michanjee)

YOUNIVERSE

10 of ?

“Love happens only with two people, if there are more than two, it is not love, it is a mess.


“Senangnya punya seseorang yang sudi mendengarkan.”

Dengan segelas cokelat panas buatan tangan sang empu rumah, Hani baru saja menyelesaikan cerita panjangnya. Matanya masih memerah, tapi tak ada lagi tangis tiba-tiba yang pecah dari bibirnya. Alih-alih ia berulang kali berusaha tersenyum, mengagungkan betapa beruntungnya ia dapat mengetahui kebenaran identitasnya sebelum ia benar-benar dewasa.

Hani bercerita bahwa secara tak sengaja ia menemukan bukti bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari kedua orang tua yang merawatnya saat ini. Saat ia mencoba meminta penjelasan dari kedua orang tuanya, mereka menangis dan meminta Hani tak menyalahkan mereka atau dirinya sendiri. Diceritakan pula bahwa kedua orang tua Hani yang asli sudah lama meninggal dalam kecelakaan yang disebabkan oleh kedua orang tuanya saat ini. Dengan dalih tak memiliki keturunan dan sebagai penebusan dosa, itulah sebabnya mereka merawat dan membesarkan Hani.

“Jangan sungkan. Berceritalah semaumu.”

“Haruskah aku?” Hani tertawa. Dielusnya cangkir cokelat panas yang kini mulai kehilangan kehangatannya. “Aku yakin aku tidak marah pada mereka. Aku tak mengerti mengapa aku kabur dari rumah.”

Yuri meletakkan cokelat panasnya di atas kotatsu. Setelah sebelumnya ia mematikan televisi dan meredupkan lampu tengah, kini suasana di ruangan tersebut menjadi gelap dan sunyi. Yuri benci kegelapan, tapi Hani bilang ia menyukainya. Yuri memutuskan ia tidak bisa egois di depan gadis yang kini terlihat sangat terpuruk. Ia juga benci memberi solusi, tapi demi Hani, ia berusaha mencari kalimat yang tepat untuk disarankan.

“Kau mungkin takut. Saat ayah dan ibuku bertengkar hebat tepat sebelum perceraiannya, aku juga kabur dari rumah. Pada saat itu aku sangat ketakutan, takut akan macam-macam; takut mereka mengabaikanku; takut aku dipaksa memilih salah satu dari keduanya; takut tumbuh dewasa tanpa kasih sayang tak lengkap. Tapi pada akhirnya ibu menemukanku. Aku bersembunyi di dalam kardus di pinggir jalan saat itu. Kalimat dan air matanya berhasil membawaku kembali ke rumah.”

Hani mendengarkan. Ia memang mendengar bahwa kedua orang tua Yuri bercerai sesaat sebelum Yuri pindah ke Sapporo. Tapi hari itu adalah kali pertama ia mendengarnya langsung dari bibir sang gadis. Hani tahu bahwa Yuri adalah gadis yang sangat tertutup jadi ia tak pernah mengungkit masa lalu menyedihkan bagi Yuri. Hani selalu menjaga perasaan sang gadis hingga Yuri merasa siap untuk bercerita.

Dengan permulaan yang bagus ini, Hani merasa Yuri baru saja membuka diri padanya. Hani ingin selamanya tetap seperti itu, ia ingin menjadi sosok teman yang dapat mencairkan bongkahan es besar di hati Yuri.

“Apa yang ibumu katakan waktu itu?” ujarnya dengan suara rendah.

Yuri menjengitkan kedua bahunya. Jari-jemarinya memainkan pinggiran dari gelas di depannya, memutar-mutarnya pelan, kemudian menerawang pada riak-riak kecil di permukaan larutan cokelatnya. “Dia bilang: berlari dan bersembunyi adalah cara lain untuk meminta orang lain mengejar dan menemukanmu. Saat itu aku sadar bahwa aku benci sendirian dan memilih untuk menghadapi ketakutanku.”

Hani sadar bahwa dalam cerita singkat tersebut, emosi Yuri sepenuhnya tersedot. Yuri, yang biasanya berbicara tanpa ekspresi, berlakon dingin, dan bersikap menyebalkan, kini menjadi sesosok gadis yang lain; sosok kecil yang rapuh tapi menolak untuk runtuh. Senyumnya disesumbarkan segera setelah Hani menggarap ekspresi iba pada wajahnya. Dalam beberapa cara, Yuri tetap menolak untuk dikasihani.

“Kau orang yang kuat, Yuri-chan.” Hani meraih jemari Yuri. “Aku sangat suka berteman denganmu. Terima kasih sudah bercerita sedikit tentang hidupmu padaku.”

Di luar agak dingin, jadi tak masuk akal kalau Yuri merasa tubuhnya panas. Hangat yang tiba-tiba menyerang tubuhnya terasa serupa dengan cokelat panas yang baru diseduh; serupa dengan sentuhan ibunya dari celah di balik kardus waktu itu. Tangan Hani sangat lembut, merangsang keinginan Yuri untuk memeluknya dan menangis pada bahunya. Tapi hal tersebut tak terjadi. Yang butuh atensi lebih adalah Hani, tak pantas bagi Yuri untuk membuatnya sebaliknya.

Jadi sebagai ungkapan rasa syukurnya atas kehadiran Hani, Yuri memeluknya. Sebuah pelukan persahabatan pertama untuknya, dan untuk Hani.

“Yuri? Kau di dalam? Halo, Yuri-chan?”

Nampaknya waktu tak ingin berlama-lama bersama dengan Hani dan Yuri. Mereka harus rela diinterupsi dengan suara seorang pemuda yang berteriak di luar pagar. Saat Yuri hendak melangkah ke pintu, Hani menahannya. “Suara Natsu-kun,” katanya. “Kalau dia mencariku, bilang saja aku pulang besok. Aku pasti akan pulang, tapi sekarang aku belum siap. Yuri-chan… apakah kau bisa menemui Natsu-kun dan mengatakan itu padanya?”

Yuri biasanya akan selalu menolak permohonan yang membuatnya repot. Tapi tidak kali ini. Dengan sukarela dan tanpa memikirkannya lama-lama, ia mengangguk. Yuri berjalan keluar dengan pasti, membawa pesan yang harus disampaikannya tanpa ragu.

“Ah! Yuri-chan, apa kau—“

“Natsu-kun,” ujarnya. “Bisa kita pergi sebentar?”

.

.

“Cih, cewek itu,” Natsu merogoh kantung plastik belanjaannya, meraih sebuah kaleng kopi hangat dan menyerahkannya pada Yuri. “Nih, udara di sini sangat dingin.”

“Terima kasih,” jawab Yuri. Cepat-cepat diraihnya kaleng tersebut untuk menghangatkan kedua telapak tangannya. Ia lupa kalau musim dingin sudah tiba, dan karena tadi ia agak terburu-buru, Yuri melupakan sarung tangan hangatnya. Ia tak terbiasa berada di taman bermain di jam-jam seperti ini, tapi sepertinya Yuri tak punya pilihan. Dirinya sendirilah yang mengajak Natsu ke sana. Dorongan untuk menolong Hani telah membuatnya bertindak gegabah.

“Hani-chan pasti akan pulang besok. Akan kuantarkan sendiri kalau perlu,” Yuri tidak ingin mengatakannya tapi karena udara begitu dingin, ia merasa harus bicara sesuatu untuk menghangatkan udara di sekitar wajahnya.

“Tidak perlu, kalau cewek gila itu bilang dia pulang besok, ya dia pasti pulang. Hani tak pandai berbohong.”

Yuri menatap wajah Natsu dari samping. Ya, dia memang tidak salah, Hani memang tak tampak seperti seseorang yang bisa menyembunyikan sesuatu terlalu lama, beda sekali seperti dirinya.

“Kau sangat dekat ya dengan Hani?” tanya Yuri.

“Aku? Yah… tidak juga sih. Hani itu, bagaimana ya? Anak yang payah. Dia senang sekali merepotkan orang lain dengan tiba-tiba ingin berteman. Ah iya, saat itu dia berusia delapan. Aku baru pindah ke Sapporo saat diperkenalkan dengannya, Hani tak pernah berhenti bicara soal mimpinya menjadi atlet. Benar-benar cewek yang merepotkan.”

Yuri tersenyum. “Kau memang dekat dengan Hani ya ternyata. Aku harus banyak belajar darimu.”

“Eh?” Natsu berhenti meneguk kopi kalengannya. “Bukankah kau temannya sejak tingkat satu?”

“Bagi Hani begitu, bagiku tidak… yah, kau ‘kan tahu soal julukan si Gadis Es yang aku sandang?”

Natsu tertawa hingga cipratan kopi dari kaleng yang bergoyang menempel di celana jinsnya. Ia menepuk pundak Yuri beberapa kali, membuat sang gadis keheranan.

“Kau lupa menambahkan tadinya di akhir kalimatmu, Yuri-chan.”

Yuri memiringkan kepalanya. Bibirnya melengkungkan senyum setengah hati.

“Ya?” tanyanya kebingungan.

“Sejak awal kita bertemu,” Natsu menghentikan tawanya. Matanya mengekori sebuah daun yang terbang ditiup angin dan menghilang di balik perosotan merah muda. “Aku tidak berpikir kau sedingin yang dibicarakan orang-orang. Caramu panik, ketakutan, cemas dan tersenyum, kau sama seperti gadis-gadis lainnya. Kau cuma tak menunjukkannya ke semua orang secara gratis. Benar ‘kan?”

Siapa yang sangka Natsu yang Yuri dikira tak begitu perhatian, kini menjadi satu-satunya orang yang bisa menunjuk tepat pada sebuah wajah di balik topeng yang dikenakan Yuri, tanpa sedikit pun berusaha melepasnya. Kalimatnya diucapkan dengan nada bicara yang konstan, mata yang tak bergetar dan makna yang begitu jelas. Tak ada usaha menginterogasi dalam kalimat itu sehingga Yuri merasa dirinya seolah sedang dipahami pelan-pelan alih-alih dihakimi.

Dan kejutannya, Yuri memilih tak melawan.

“Yah, aku ketahuan,” katanya. “Semua orang butuh image ‘kan.”

“Dan kau memilih menjadi orang yang membosankan?”

“Membosankan? Haha,” Yuri tertawa. “Jadi di mata orang lain aku seperti itu ya? Aku malah lebih suka kalau orang-orang bilang aku menakutkan.”

“Supaya kau bisa terus tidur sendirian di kelas?”

Yuri menjengitkan kedua bahunya. “Kau detektif atau apa?”

Natsu kembali memainkan kaleng kopinya yang kini sudah kehilangan ruam hangat. Meski begitu, ia memutar-mutar benda tersebut di tangannya, memindahkannya dari satu tangan ke tangan yang lain. Tubuhnya agak membungkuk ke depan, berharmoni dengan angin yang menyergap tengkuknya dari belakang. Yuri tak dapat melihat profil samping Natsu. Wajahnya ditutupi oleh rambut cokelat panjang yang acak-acakan.

“Aku memiliki sepasang kakak perempuan, satu paket orang tua, dan Hiro—anjing kecilku. Bisa dibilang keluargaku adalah idaman setiap rumah tangga. Aku dapat akses kemudahan di segala bidang: keuangan, transportasi, makanan, dan lainnya. Kebiasaan buruk itu membuatku tumbuh menjadi pribadi yang seperti ini; yang dibilang malas; yang dibilang tak acuh; yang dibilang payah. Aku tidak suka merepotkan dan direpotkan orang lain. Aku tidak suka terlibat dalam masalah-masalah mereka, dan sebaliknya.”

Yuri masih terkejut dengan cerita Natsu. Yah, dia tak menyangka Natsu akan bercerita soal keluarganya dengan tiba-tiba seperti ini. Juga, Yuri tidak punya petunjuk mengapa ia sukarela mendengarkan.

“Maksudku bercerita begini adalah, seperti Hani atau dirimu, aku juga punya rahasia. Boleh-boleh saja kau menyimpannya erat bagi dirimu sendiri, tapi biasanya yang disimpan terlalu erat bisa meledak dengan hebat. Ayah dan ibu Hani contohnya.”

Secara tidak sadar, kalimat itu merasuki Yuri. Pikirannya mengembara ke masa lalu pahit, ke berbelas-belas kenangan yang tak pernah ingin diingatnya lagi. Pecahan memori itu masih berada di sana, sekeras apa pun Yuri berjuang menarik diri. Ditinggalkan, diasingkan, ditolak, dipermalukan—perasaan-perasaan tak menyenangkan itu berjejalan ke dalam otaknya, memaksa jiwa Yuri untuk merasakannya sekaligus. Dadanya sesak. Diafragmanya menolak untuk bekerja keras.

“Aku mendengar semuanya,” Natsu berujar lagi. Berubah dari posisi sebelumnya, ia duduk tegak, menoleh lama pada sorot curiga dari binar mata seorang gadis di sampingnya. “Hari itu, di ruang kesehatan. Aku mendengar apa yang kaubicarakan dengan Sayaka Sensei.”

Yuri bisa menjadi sangat emosional kalau dia mau. Namun terakhir kali ia begitu emosional, dirinya telah lepas kendali dan berkata yang macam-macam pada Luhan—tak sengaja melepaskan perasaannya yang sudah susah-payah ia pendam. Yuri tak memiliki perasaan semacam itu pada Natsu, tapi ia tak ingin kehilangan pengendalian dirinya. Pasti ada suatu kesalahan yang bisa Yuri putar-balikkan di sini.

“Aku tidak bisa menangkap apa yang kaubicarakan, Nats—“

“Kau mencintai seseorang yang mencintai orang lain. Itukah yang kausembunyikan di balik topeng esmu, Yuri?” Natsu menyela. Melihat ekspresi tak nyaman dan terkejut dari wajah sang gadis, ia buru-buru mengoreksinya. “Ah… maaf aku sangat lancang. Sebaiknya kita lupakan saja pembicaraan ini.”

Yuri tertegun sebentar, memindai hati-hati mata cokelat sang pemuda. Natsu bagai selembar kertas putih; begitu polos—atau bodoh. Caranya berbicara atau tertawa, pemilihan kata yang diucapkan bibirnya, padanan-padanan ekspresi yang melengkapi, segalanya berhasil mengetuk sesuatu di dalam otak Yuri. Ada sebuah rantai yang baru saja terlepas, jatuh berdebaman ketika sang gadis memandangi Natsu.

Tadinya. Kau melupakan sebuah tadinya pada kalimatmu.”

Natsu tadinya ingin beranjak, tapi ia malah terduduk kembali atas kalimat Yuri. Dipandanginya sang gadis yang kini mulai berjuang melawan hawa dingin sambil mempertahankan suaranya. Ada keraguan terselip pada matanya, juga ketakutan di setiap getaran bibirnya. Namun, sang gadis memberanikan diri untuk menjelaskan. Entah dengan realita atau sedikit dusta.

Tadinya aku memang mencintai pria itu, tapi sekarang kuputuskan tidak lagi. Ada banyak persoalan pelik yang lebih ingin kupikirkan ketimbang perasaanku pada seorang pria.”

Natsu menyipitkan matanya yang perih diterpa angin. “Dan kutebak kau tak akan bercerita lebih soal persoalan-persoalanmu padaku.”

“Ya,” Yuri tersenyum. “Bukankah kau terlalu ingin tahu untuk seseorang yang katanya tak ingin ikut campur pada persoalan orang lain?”

“Hihi,” Natsu terkikik. “Kau meninju kelemahanku.”

Natsu melemparkan kaleng kosongnya ke depan. Kepribadiannya yang selalu ingin dilayani telah membuatnya tak sudi berpikir soal daur ulang atau hal-hal bersifat ramah lingkungan lainnya. Kaleng itu menggelinding cepat menuruni sebuah undakan dan berakhir menjadi pemandangan di bahu jalan.

“Sudah larut, aku harus pu—“

Usaha Yuri untuk meninggalkan bangku gagal secepat Natsu menjawat tangannya. Tanpa permisi, ia menarik tubuh sang gadis, membawanya ke dalam dekapannya. Mantel tebal Natsu yang kelebaran berhasil menjadi pemersatu keduanya setelah Natsu membawa Yuri ke dalamnya, berbagi mantel yang sama. Yuri dapat mendengar jelas jantung Natsu yang berdetak. Ia tak pernah sedekat ini dengan seorang pria selain ayahnya. Bahkan ia tidak akan pernah menyangka bahwa pria pertama yang memberikan pengalaman ini padanya adalah seseorang yang baru ia kenal beberapa hari.

“Na—Natsu…” Yuri berusaha memanggil namanya. Karena ia cukup terlonjak, suara itu tak pernah benar-benar sampai di telinga Natsu.

“Aku juga bertanya kenapa,” sahut Natsu kemudian. Pandangannya menekuk ke bawah, bertemu dengan wajah Yuri yang mulai mendongak. “Aku bukan jenis orang yang akan melibatkan diri untuk masalah orang lain, jadi aku bertanya mengapa aku rela melakukan itu untukmu.”

Jarinya membelai surai Yuri, membagi kehangatan yang tak pernah dibayangkan oleh sang gadis. Natsu tidak bercanda. Mata cokelat di balik poni panjang miliknya tak akan bergeming seperti itu jika ia memang berniat melakukan sedikit kelakar. Lagipula, Natsu benar-benar memeluknya tanpa izin, melingkarkan tangannya di pinggang Yuri, membuat sang gadis mematung seketika.

“Na—Natsu-kun…”

“Jangan bicara,” katanya. Jarinya masih menelusuri helaian rambut Yuri. “Kau membuatku semakin ingin melibatkan diri dalam persoalanmu. Jadi, diam dan biarkan aku berpikir.”

Natsu memang seenaknya sendiri, tepat seperti apa yang ia jelaskan. Kepribadiannya itulah yang membuatnya begitu rileks memeluk seorang gadis di tengah malam bersalju seperti ini. Anehnya, sebagai seseorang yang kelihatannya baru saja mengatakan sesuatu yang penting, jantung Natsu berdetak sangat normal. Alih-alih Yuri-lah yang tak bisa mengendalikan detakan jantungnya sendiri. Darahnya mendidih, membuat rona-rona merah di seluruh wajahnya. Saat dekapan Natsu mengerat, ia memutuskan untuk menenggelamkan wajah itu ke dada Natsu, menyembunyikannya agar tak sampai terlihat memalukan.

Dalam tiga puluh detik tanpa tanda kehidupan, Natsu melepaskan pelukannya. Ia menarik mantelnya untuk kembali dikancingi, tanpa Yuri di dalamnya. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing; membereskan mantel; menyisir rambut dengan jari; menggosok-gosokkan kedua tangan—apa pun, selama itu menjauhkan keduanya dari ingatan soal tindakan super sinting barusan.

“U—udara sangat dingin hari ini,” ucap Yuri mengalihkan perhatian. Ia berupaya menjernihkan pikirannya dari apa yang telah Natsu lakukan barusan. Yuri ingin sekali meyakini bahwa udara dingin membuat Natsu jadi agak edan sampai ia kehilangan akal sehatnya. Ia ingin percaya itu.

“Aneh,” sahut Natsu. Ia menggaruk kepalanya. “Aku merasa tidak salah.”

“Eh?”

Natsu memberi sebuah kejujuran pada matanya saat ia kembali berbicara. “Tadi itu bukan kesalahan seperti yang kupikir.”

“Apa?”

Otak Yuri sudah tumpul, sungguh.

“Yuri-chan, kau gadis yang aneh,” kata Natsu kemudian. Kepalanya diangguk-anggukkan seolah ia telah mencerna sesuatu hanya dengan melihat langsung binar gelap di netra Yuri. Kalimat per kalimatnya tak memiliki pengertian mendalam, membuat sebongkah tanda tanya di kepala Yuri tumbuh membesar.

“Aku tak sepenuhnya mengerti, tapi sudahlah, lagipula ini sudah terlalu malam. Akan aku lupakan apa yang terjadi barusan.”

Lengan Natsu lagi-lagi berkait dengan lengan Yuri. Kali ini pemuda itu melepaskannya pelan-pelan sambil tertawa. “Nah ‘kan, kau gadis yang aneh. Kau membuat tubuhku bergerak dengan sendirinya sekali lagi.”

Yuri tak bisa berlama-lama di luar, tapi ia tak bisa mengenyahkan konversasi yang bisa menjurus kepada kesalahpahaman seperti itu. Yuri memilih tinggal. Mengurai benang kusut yang baru saja terjadi. Secepat kilat, mata Yuri melirik pedas. “Otakmu sudah beku ya?”

Alih-alih gentar, yang menjadi penyebab kejengkelan Yuri malah tertawa kecil. Sepatunya mengentak pelan ke salju, meninggalkan bekas yang tak terlalu dalam. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri, kemudian menatap frustasi pada Yuri sekali lagi.

“Keren,” katanya. “Semakin kau berbicara semakin ingin aku bergerak menggapaimu. Aneh. Sangat aneh. Mungkinkah…”

Natsu melenyapkan wajah cerianya dalam sekejap, secepat Yuri mengembuskan embun dari kedua hidungnya.

“Aku menyukaimu?”

.

.

Tok tok tok.

Luhan mendengar bunyi ketukan itu sejak setengah menit yang lalu, tapi ia tak memiliki niatan untuk membuka pintu kamarnya. Tubuhnya masih keasyikan berbaring di atas dipan, bergelung dengan selimut tebal yang hangat. Kasurnya berhadapan dengan jendela, jadi ia bisa melihat salju turun dengan deras malam itu.

“Luhan, ini aku.”

Sayaka.

Luhan berhenti. Waktunya seakan berhenti.

“Tidak dikunci,” katanya kemudian.

Sosok Sayaka muncul di balik pintu dengan balutan piyama terusan berwarna biru. Rambutnya tergerai sepunggung, tak terlalu panjang, namun tak terlalu pendek jika dibandingkan dengan rambut ibunya. Ia membawakan senampan camilan, ada panekuk dan kukis serta segelas susu hangat yang disajikan estetik di atas sebuah nampan besar.

“Ibu menyuruhku menyerahkan ini padamu,” katanya sembari meletakkan nampan di atas meja belajar Luhan.

“Ah, ya. Terima kasih.”

Sayaka berdiri sebentar mengamati jendela. Ia teringat saat-saat ketika ayah dan ibunya masih lengkap, dan ia tak cukup dewasa untuk memikirkan masa depannya. Saat itu salju merupakan berkah, kesenangan tersendiri yang hanya datang beberapa bulan dalam setahun. Dahulu ia sangat ingin tinggal di Sapporo alih-alih Tokyo. Ia ingin tinggal di tempat di mana kedua orang tuanya bertemu semasa muda. Sayaka kecil pernah berharap di sini jugalah tempatnya bertemu dan berakhir dengan seseorang yang akan menjadi teman hidupnya.

Tapi,

Sayaka dewasa tak pernah mau berharap pada hal-hal naif seperti itu. Waktunya sudah berhenti 2008 silam, ketika usianya empat belas, saat di mana satu-satunya mahkotanya sebagai wanita terenggut paksa tepat di malam natal, di sebuah hotel tua, oleh pria yang merupakan seorang ayah dari pemuda yang ditakdirkan menjadi adik tirinya.

Insiden itu memiliki perkembangan buruk yang lambat. Reputasi sang pria dipertaruhkan. Berdalih mabuk dan tak sadar, ia bebas dari jeratan hukum meski Sayaka dan keluarganya berjuang setengah mati agar didengar. Putusan mengejutkan itu kemudian tumbuh menjadi domino, menyebarkan hal-hal buruk yang lain. Ayahnya mulai kena PHK dan menjadi pemabuk menyedihkan. Tak lama ibunya wafat karena sakit keras dan lambatnya pengobatan. Marah karena hidup yang semakin memburuk, Sayaka pergi ke rumah pria yang paling bertanggung jawab untuk segalanya. Ia berteriak histeris, mengguncangkan hati seorang wanita bergincu yang kemudian jatuh pingsan di tempat. Meski Sayaka harus berhadapan dengan petugas keamanan, ia masih penuh energi untuk mengumpat di gerbang depan, mengungkapkan betapa busuknya pria besar di dalam sana.

2009, pembalasan mengejutkan terjadi. Ayahnya melakukan hal mengerikan pada pria yang menjadi musuh keluarga. Orang berdosa itu kemudian tewas, meninggalkan seorang ibu muda baik hati yang menjerit ketakutan dan seorang bocah lelaki yang menangis marah. Keduanya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan Sayaka tak berniat menceritakannya. Ia tak mengakui dirinya menyimpan dendam, tapi setiap dirinya melihat salju, yang terbayang hanyalah kemarahan dan kesedihan tak terperi. Sebuah kekecewaan yang mengantarkannya pada kehancuran.

“Sudah dua tahun ya?” katanya. Sayaka memperlihatkan wajahnya pada Luhan. “Aku masuk ke rumah ini dan menjadi kakakmu. Tapi kau tak pernah memberikan ruang bagiku untuk bicara. Adik yang kejam.”

Luhan mendengus. “Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu, tutup lagi pintunya. Aku ingin tidur.”

“Aku dan ayahku mungkin tidak akan pernah hidup seperti ini jika tidak bertemu dengan ibumu.

“Dan aku juga tidak akan pernah hidup seperti ini jika kau tak bertemu ibu.”

Sayaka tersenyum. “Apa kau menyesal?”

“Aku tidak berhak menjawab itu,” Luhan bergerak di atas kasurnya, menyibakkan selimut agar wajah penuh dendamnya dapat diterjemahkan lawan bicaranya. “Sebetulnya aku lebih penasaran kenapa kau mulai membahasnya sekarang. Kupikir kita sudah sepakat untuk melupakan segalanya.”

Sayaka memiliki tubuh kecil, dan ia dengan mudah memosisikan tubuhnya itu di dekat meja, menyandarkan panggulnya pada pinggiran meja seraya mengabaikan netra lawan bicaranya. Masih dipandanginya salju yang turun pelan-pelan di luar jendela. Terkenang beberapa memoar menyakitkan tak menyurutkan niatnya untuk bicara. Waktu katanya mengobati, tapi Sayaka sudah melewati dua tahunnya di sini, dan tak ada satu pun lukanya yang sembuh.

“Ayahku menyerahkan diri ke kepolisian Tokyo seminggu yang lalu—kalau kau ingin tahu. Ia mengakui dirinya sebagai dalang atas kematian ayahmu. Sidangnya dijadwalkan paling lambat bulan depan.”

Sayaka menjadikan meja Luhan sebagai tempat duduknya. Salah satu kakinya terangkat, sementara sisanya digoyangkannya maju-mundur. Dengkul yang setinggi dadanya digunakan Sayaka sebagai tempat bersandar untuk dagunya. Rambutnya turun ketika ia mulai melamun, bergerak seolah ialah pemilik sah rasa dingin malam ini. Agak kontras, duduk di atas kasur penuh keraguan dan keterkejutan adalah Luhan. Ketidakpeduliannya membuatnya tak menyadari absennya seorang pria paruh baya malang itu selama seminggu terakhir.

Luhan sukses dipunggungi Sayaka, bahkan bisa jadi tak dianggapnya lagi. Namun ia mengecap getir di jiwanya kala mendengar kalimat sekompleks itu bisa diucapkan Sayaka tanpa suara serak. Kasus itu—kematian ayahnya—sudah berusaha ditutupi oleh ibunya setengah mati, semata agar Sayaka dan ayahnya bisa terbebas dari tanggung jawabnya. Sang ibu bahkan mempertaruhkan kebebasannya di lini depan, menawarkan sebuah rumah tangga baru untuk menebus semua kesalahan mendiang suaminya.

Tapi,

Semua hal tersebut nampak menemukan titik buntu hari ini. Orang bijak bilang kejahatan selalu akan lebih menyengat baunya. Meski seharusnya Luhan menjadi pihak yang senang dan dimenangkan dalam duel mental tak berujung ini, faktanya ia merasa sebaliknya. Ada sesak yang bersemayam di dalam dadanya, enggan enyah. Ia tahu betul rasanya kehilangan sosok ayah, entah sebanyak apa pun dosanya. Sayaka mestinya merasakan hal yang sama meski ia berpura-pura kuat. Ayah tetaplah ayah.

“Aku bertemu dengan seorang pengacara sabtu lalu. Dia salah satu temanku di Tokyo dahulu. Dia berjanji akan membantu ayah.”

Sabtu lalu? Saat festival?

“Aku ke sini untuk memberitahumu kalau ibu akan mengunjungi ayah di Tokyo selama beberapa minggu. Kuharap kau tidak berkeberatan ditinggal hanya denganku.”

Luhan tak mendengar. Bergerak di dalam pikirannya adalah seorang pria tampan berjaket abu-abu yang tengah menggandeng seorang Sayaka di tengah kerumunan festival musim dingin. Keduanya berkeliling, mengunjungi satu kios ke kios lain, kemudian saling menggoda dan tertawa satu sama lain. Sebuah pertanyaan menggelembung di benaknya, apakah pengacara selalu seperti itu pada kliennya?

“Luhan? Kau mendengarku?”

“Oh,” Luhan dipukul paksa kembali ke kenyataan. Saat ia sadar sepenuhnya, gadis berambut sepunggung sudah berdiri di hadapannya. Luhan berdecih sebal, “Terserah kau saja,” katanya, tanpa tahu apa yang tengah dibicarakan.

Sayaka menelengkan kepalanya ke arah pintu, membayangkan sesosok pria paruh baya yang memiliki kemiripan wajah dengannya, berdiri di sana sembari menyunggingkan senyum. Ayahnya adalah pemabuk berat, Sayaka kerap protes soal itu. Tapi berapa kali pun ia mencoba memberikan nasehat baiknya,

Aku mabuk biar aku ingat dosa-dosaku.

Ayahnya selalu berkata demikian.

Sayaka memang tidak suka alkohol, tapi ia sudah diajarkan untuk selalu mengingat dosa-dosanya; memandangi wajah penuh kepalsuan Luhan. Sayaka berusaha memecahkan kode sulit pada ekspresi ramah yang dibuat-buat sang pemuda, tapi ia selalu berakhir dengan pertengkaran. Luhan sulit ditaklukan. Luhan yang penuh kepalsuan, apalagi. Namun saat ekor matanya tak sengaja berkendara ke sebuah benda perak di atas nakas, Sayaka tahu sebuah jawaban.

“Horikita memiliki benda yang serupa denganmu. Kebetulan?”

Tak seharusnya Luhan kesal ditanya demikian, tapi itulah yang terjadi.

“Bukan urusanmu.”

“Bukan urusanku, lagi-lagi kau mengatakan itu. Untung saja aku serahkan benda itu pada Hiroyuki.”

“Hiroyuki?”

“Nah, kau mulai penasaran ‘kan?” Sayaka memunggungi Luhan. “Maaf, tapi itu bukan urusanmu.”

.

.

tbc


Keep loving this guys, unlocked one because i dont feel wanna lock it.

nyun

27 thoughts on “Youniverse [10 of ?]

  1. ziah berkata:

    yuri ama natsu ajah kak, natsu lebih care ama yuri n buat cemburu luhan kekekek #tawa evil trus buat luhan nyesel …

  2. afifahcaku berkata:

    mari berbahagia bersama kak nyun
    momen natsuyul panjang..romantis lagi..
    uadh Yuri sama Natsu aja..*diamuk fansnya yulhan
    baca partnya luhan buat sakit hati.. terasa banget luhan juga terluka kayak yuri
    kasihan yuri juga kalau bareng luhan yang sama-sama pakai topeng
    tapi kalau sama-sama menyembuhkan luka pasti jadi romantis banget..#sotoymodeon
    dan aku juga bahagia yuri nganggap hani sahabatnya..yeye
    ditunggu ya kak part selanjutnya

  3. Hara_Kwon berkata:

    Ahh akhirnya Yuleon bisa sedikit membuka hatinya kepada orang lain.🙂 Natsu sangat polos, dia memberi tahu apapun yg ada dipikirannya kepada orang lain. Natsu berani banget tanya ke Yuleon ‘apakah aku menyukaimu?’ ohh..
    Hehehe kurasa Lulu menyukai Yuleon sekarang, dia penasaran sama siapa itu ‘Hiroyuki’..
    Okee, ditunggu lanjutannya ya kak!😀
    Semangat!!

  4. joohyun berkata:

    wooo.. berasa ini terlalu cepat untuk Natsu yg gk ada angin gk ada hujan tiba” meluk-meluk yuri😦 ewww.. maaf kak, aku lebih ke yulhan wkwk~ tp sepertinya yuri udah move on tuuu…
    argh luhan, what’re u doing?😥 yaudah sih ya.. daripada gk dianggap sama luhan mending sama natsu aja yg jelas” lebih peduli🙂
    kasihan sayaka😥 luhan pasti juga kaget.. semoga ayahnya sayaka menang di pengadilan.. ya meskipun dia udh mbunuh tp kan……

  5. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Wah kak nyun back!!! Seneng deh.. Aku bingung mau pilih couple yg mana nih, haha.. Karena di part ini lebih bnyak adegan yuri natsu nya, jadi aku lebih srek ke yul natsu, tapi kalo liat moment yulhan sebelumnya malahan pengen yul sama luhan juga.. Susah kalo disuruh milih luhan apa natsu, semuanya keren.. Ditunggu deh kak lanjutannya^^

  6. The Blackpearl berkata:

    kaknyunnnn tambahinn momenn natsu-yuri donggg..
    yang banyakkk yaaaa.. suka bangett soalnyaaa..
    oiya makasiii yaa uda update part 10 ini.. soalnya aku suka banget sama ff iniii.. hohoho
    seneng bangettt pas part 10 keluar swtelah sekian lamaa ..
    fighting kaakkk

  7. Ckh.Kyr berkata:

    Posternya ganti lagi, udah di donlot dong xD abis posternya bagus sih.

    Ternyata masalah keluarga toh. Kasian ya Hani.

    Nah loh, Natsu blak-blakan banget bilang sukanya, yah walaupun masih ragu.
    Luhan, cepetan bergerak napa, ntar kecolongan sama Natsu loh, nyesel ntar.

    Siapa sih temannya Sayaka? Beneran teman atau ada hubungan lain selain teman?

    Btw, baru sadar udah chapter 10 aja.

  8. vialee945 berkata:

    Omaygod!! Natsu 😍😍😍 seketika backsound nya ost the heirs lagunya ft island apa ya lupaaa hihi..
    Natsu ampun dah manis banget. Yuriyah pilih natsu aja plissss.. 😚😚😄

    Bingung sama perasaan nya si luhan. Luhan itu suka nya sama siapa sih ?
    Tapi luhan kek nya mulai cemburuan deh. hihi saingan lo susah men.. natsu itu cowo impian banget deh ❤

    Ditunggu kelanjutannya ka nyun 😃

  9. zcheery berkata:

    Yeeyy akhirnya datang lagiii~~~~~~
    Yauda yuri samaa hiroyuki ajala
    Luhan udah basi, tolong find your true love, jangan luhan lagi, salaah luhan dia udah menyia nyiakan yuri-_-
    Lohalah jadi si hani bukann anakk kandung yaaa, cian dee
    Bannyak keluarga yg di ceritakan kali ini ya kak😂 well ty for this cute romance story as always, your stories are amazing, God bless~~~ (masih banyak yg ditunggu loh kak; ToZ & TSD coontohnya😂)

  10. Cynthia berkata:

    Mulai cemburu??
    Ato cuma kaget??
    Pingin tau kelanjutannya.. Pingin tau gmn perasaan yuleon ke natsu bsknya pas ketemu disekolah atau dmn pun.. Hehehehehe..
    Aq harap yulhan moment..😀

  11. aloneyworld berkata:

    Banyak banget rahasia yang mulai kebongkar disini😀 nahloh bapanya sayaka nyerahin diri, dan cowo di festival itu temennya yang bakal jadi pengacara bapanya? Yaampun padahal luhan udah galau gara-gara itu😄 hahaha scene terakhir lucu banget si luhan kena omongannya sendiri😄 ah ya ngomong-ngomong sayaka-sensei aku pun mulai penasaran sekaraaaang~
    Daaaannn yaampun bagian pas natsu sama yurinya aku sukaaaa banget apalagi yang pelukan dimantel itu udah gitu natsunya ngelus rambut yuri pisan <3<3 tapi kenapa aku kebayangnya jadi si kim tan sama cha eun sang yak -_- hahaha
    Pokoknya yuri sama natsu aja titik!! Aku bener-bener senyum-senyum sendiri pas bagian natsuyurinya😀 yaampun apalagi yang pas natsu bilang "nah kan, kau memang gadis yang aneh. Kau membuat tubuhku bergerak dengan sendirinya sekali lagi." Aduuuhhhh kapan ada cowo yang begitu ke gueee kapaaan?? *nahloh* hahaha udahan deh kak makin absurd nantinya😄

  12. seungmi1214 berkata:

    Sempet lupa chapter sebelumnya bahas apa karena… *ehem* kaknyun updatenya cukup menurunkan semangat ini ehehe. Syukurlah sekarang udah bisa baca kelanjutannya.
    Uhm, di chapter ini ada banyak yang bisa dibahas. Tapi boleh gak sih aku jejeritan karena itu WHAT THE… ! Natsu hugged Yul!! Dammit dammit dammit! Aaaaakh, aku ganyante kak! Natsu emang edan (jowoannya kaknyun keluar), Sukaaaak yaampun tangannya ngelus ngelus rambut Yuri, huwaaa aku bisa apaaaa aku suka merekaaaaaa, Luhaaaan maafkan aku T___T please, I need more NatsuYul buat chapter selanjutnya kak, udah ngeship nih ehehe.
    Apaan suka banget sih ngelesnya pake bilang kalo Yuri itu cewek aneh, ngaku aja deh kalo beneran suka iiih gemez kan jadinya.
    Gatau mau komen apalagi, pokoknya MAKASIH banget kak buat chapter ini, sungguh! Ya ampun, aku bayangin adegan NatsuYul itu kayak Ao Haru Ride deh, Natsunya yang punya rambut kayak gitu langsung ngingetin aku sama Kou, entahlah. Apalagi mereka pelukannya malem2 di bawah salju. Aku suka setting cerita yang winter winter gitu dan tulisan kaknyun yang bagus bikin feelnya dapet banget! Duh, pengen ngelike chapter ini bolak balik.

  13. chy23 berkata:

    Finally!!!!!
    Suka suka banget yuhuuu natsu suka sama Yuri :*
    dan Luhan yang kelihatan penasaran dgn cerita Yuri dan Natsu. Hayoloh suka loh😄
    Kaaak kurang panjaaaang😄 hehe kidding
    Gabisa banyak komentar soalnya selalu speechless dgn ff buatan kk :))
    semangat terus buat ngelanjutinnya!!! :))

  14. lizanining berkata:

    asik nih tampaknya yuri mulai banting setir ke natsu. apa cm ekspektasiku aja ya kak? wkwk
    scene yg di taman ngena banget sumpah bacanya sampek deg2an pas mereka pelukan 30 detik TT

    please continue your great work kaknyun we will support youuu :***

  15. Lulu KEG berkata:

    akhirnya bisa baca lagi:’)
    senangnya Natsu peluk Yuri? ternyata Banyak hikmah ya d balik galaunya Hani haha #plak
    “Keren,” “Semakin kau berbicara semakin ingin aku bergerak menggapaimu. Aneh. Sangat aneh. Mungkinkah…”
    “Aku menyukaimu?” kyaaaaa gue suka gaya lo Natsu walau sdikit somplak jah tapi bener; KEREN! haha
    buat Kak Nyun Makasih banget udah memberikan sedikit harapan buat #teamNatsuYul ekekk~ tp tetep sih kayanya Yuri nya udah Luhan banget. ah bodo. Gemes abisan ampun aku suka banget! udah jadiin aja deuh mreka kak Nyun😀
    Luhan mmh kaget ya apa yg dbilang sayaka? aku aja kaget *loh itu Sayaka bkin aku gimana gitu deh. entah knp mnurutku dia banyak kejutan(?) haha kelewat Kece dah Kak Nyun mah

    lagi; makin Suka jatuh cinta dah aku sama Youniverse, apik banget kak Nyun keren, pokonya gak rela klo crita ini cepet abis ato gada kabar:( penting bgt kelanjutannya!!
    ywdh kusudah kan kalimat2 gaje ku hha. pokonya aku sllu nungguin kelanjutan ceritanya Mangatse dan Terimakasih banyak Kak Nyun^^

  16. Luluu berkata:

    Kaknyuuunnn! Keren banget! Suka banget sama natsuyul moment😄 alurnya asik juga kak, yuri akhirnya sedikit terbuka sama hani sama natsu juga. Keren kaknyun! Apalagi ending chap ini, luhan dibalikin sama sayaka kan hahaha. Ga sabar nunggu chap berikutnya! Keep writing kaknyun! Fighting!

  17. mellinw berkata:

    Natsuuuuuuuu yuriiiiiii aaakkkkk *melt
    Suka suka suka, thankyou to hani, dia jadi penghangat yuri, pertama krn dirinya sendiri, kedua krn dia, natsu datang, dan yuri pergi bersama natsu alias minhyuk. Hahahahaha senangnyaa..

    Suka suka suka.. Ditunggu selalu kak :3

  18. dindavanesaja berkata:

    Hai kak Nyun,aku cuma pengen komen klo ff Youniverse bagus banget. Maaf aku gabisa jelaain secara detail dri segi mananya yg bagus. Oya,btw aku masi tetep nanya,knp email aku ga direply. Aku sedih bgt 2 minggu+ nunggu2in balesan email dari kak Nyun. Aku uda penasaran bgt ama part yg diprotect. Atau ga gini aja deh,kal Nyun yg email aku.email aku dindavanesaja@gmail.com plis bgt ya Kak,aku kayaknya udah kecanduan bgt baca ff deh makanya gasabaran gini minta pasaword nya. Soalnya sih hobi aku baca gitu *gananya* plis bgt ya Kak,makasih sebelumnya.

  19. Retha Lee berkata:

    natsu kamu polos banget deh. sini peluk wkwk
    tapi lebih pengen peluk luhan yg ga peka sih wkwk
    ahahahay. jangan natsu yuri pokoknyaa. walopun natsu nya sweet banget disiniii wkwk

  20. rynwu berkata:

    Kerennn kk nyun..
    Ff jepang trnyata gk klah keren dr ff korea..
    Bhkan mnurut aku ff ini feelnya dpt bgt,,aku yg bca aja smpe emosional gtu..
    Kerennn deh pokoknya..

  21. Aoralight berkata:

    hiroyuki? siapa itu? tuhkan konflik nya tambah banyak lagi, wah wah kak nyun deh emang best kak bikin readers penasaran, greget sama tegang juga. good job kak nyun terus berkarya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s