YOUNIVERSE [11 of ?]

Youniverse3

YOUNIVERSE

a story by bapkyr

“Don’t let a man fall for you after you’ve fallen for another one.”


“Yuri-chan, apa kau sudah tidur?”

Futon yang Yuri miliki terbatas, jadi Hani harus puas dengan tempat yang ia tiduri saat ini. Di rumahnya yang besar, ia tidur di atas kasur berdipan yang empuk, sama sekali tak bisa dibandingkan dengan futon sederhana di rumah Yuri. Meskipun beberapa kali Hani berusaha untuk memejamkan mata, kedua kelopak matanya tetap tak berhasil menutup. Hani takut sendirian, oleh sebab itu ia berusaha membuat Yuri tak tertidur sebelum dirinya.

“Belum,” jawab Yuri. “Ada apa?”

“Bisa kita ngobrol sebentar sebelum tidur? Aku tidak bisa tidur cepat.”

“Emm,” Yuri menarik selimutnya sebatas leher. Ia tak memiliki alasan untuk tidur cepat setelah apa yang terjadi antara dia dan Natsu barusan. Pikirannya kalut. Terlebih ketika Natsu mengatakan hal-hal tak masuk akal—pengakuan cinta? Ayolah! Jelas sekali ia mengatakannya dengan sebuah tanda tanya besar—yang berarti ia sendiri tak yakin.

Karena tidurnya sudah gagal oleh hal-hal demikian, Yuri mengiyakan ajakan Hani.

Beberapa menit setelahnya, konversasi tercipta secara alami. Tujuh puluh persennya dikuasai oleh Hani yang mulai menceritakan kisah hidupnya sejak kecil. Dugaan Yuri tentang betapa bahagianya menjadi Hani tak sepenuhnya meleset. Orang tua yang baik, keluarga besar yang menyenangkan, dan seorang sepupu menyebalkan seperti Natsu, merupakan komposisi sempurna untuk bahagia. Tapi tidak sepenuhnya demikian bagi Hani. Saat sang gadis mulai bercerita tentang kehidupannya semasa SMP, Yuri merasa hatinya disentil kecil.

“Aku menjadi bahan gunjingan dan kekerasan verbal karena wajahku. Setiap hari aku diteror melalui e-mail dan surat-surat yang ditaruh di loker. Aku merasa begitu kecil dan lemah, oleh sebab itu aku melatih diriku untuk menjadi kuat dengan olahraga agar tak lagi ditindas.”

Hani memiliki tujuan yang jelas dalam proses pendewasaannya. Ia memenuhi ekspektasinya sendiri. Meskipun keadaan di kelas menjadi tak jauh berbeda dengan pengalamannya di SMP, namun kali ini ia bisa melindungi dirinya sendiri. Sementara jika Yuri mau bercermin sedikit dari Hani, ia semestinya malu. Gadis itu merasa tak banyak yang terjadi dalam dirinya selain soal julukan barunya. Ia tak berhasil mengubah apa pun. Yuri cuma sedikit menyembunyikannya. Berbeda dari Hani yang semakin kuat secara fisik dan mental, Yuri sedikit demi sedikit mulai merasa runtuh. Jiwanya, memorinya, resolusinya, seluruh kesiapan yang ia punyai melebur ke dalam topeng yang diciptakannya sendiri, perlahan-lahan menelannya.

Yuri tahu ia hampir tertelan kehampaan, tapi ia tak memiliki cara untuk menggapai daratan.

Tidak, sampai Hani menjawat tangannya.

“Aku tahu kau menyembunyikan banyak hal dariku, bahkan dari dirimu sendiri, Yuri-chan. Jika tidak sekarang, aku ingin kau mengatakannya padaku suatu hari. Beban yang dipikul sendirian itu tidak pernah akan membawa siapa pun sampai garis finish.”

Yuri meluangkan waktu merenungnya sedikit hanya untuk menatap tangan Hani di atas punggung tangannya.

Hangat.

Keduanya terdiam untuk waktu yang sangat lama.

“Soal Takegaya,” Yuri berujar. Kalimatnya sontak menarik perhatian Hani hingga sang gadis menoleh terkejut. “Aku pernah mengatakan cinta padanya.”

“Eeeeh?!”

Hani memang berharap Yuri bercerita, tapi ia tak menyangka jika Takegaya-lah yang akan diceritakannya. Serius? Takegaya Luhan pernah menjadi seseorang yang disukai Yuri?

“Aku masih SMP waktu itu. Kami bersekolah di SMP yang sama di Tokyo. Dia murid baru, pindahan entah dari mana, masuk di tahun-tahun tanggung saat musim gugur. Berbeda dari saat ini, ia adalah sosok pria yang cuek dan jahat. Kata-katanya setajam picingan matanya. Ia lebih suka menggerutu daripada memuji; sosok pemuda yang seharusnya tak pernah didekati kutu buku sepertiku.”

“Eeeeh?!”

Yuri tak menyalahkan Hani jika ia terus-terusan terkejut dan mengeluarkan suara aneh melengking. Ceritanya memang terkesan sinting untuk konsumsi publik, itulah salah satu alasan mengapa ia tak ingin mengisahkannya.

“Sepertimu,” Yuri menjelaskan. “Aku dulu dijauhi karena aku terlalu pintar dan rajin belajar. Teman-temanku menyebutku si Orang Kaku; aku pemalu, kikuk, dan luar biasa pintar—meski agak aneh memuji diriku sendiri, itulah kenyataannya.”

“Jadi itu sebabnya pada saat konseling tadi, kau—“

“Ya. Aku benci menjadi pusat perhatian para guru. Mereka selalu memintaku melakukan ini dan itu, tanpa memberi kesempatan pada teman-temanku yang lain. Aku jadi dibenci mereka karena hal sepele seperti itu.”

“Eh, aku tidak menyangka Yuri-chan adalah orang yang seperti itu di masa lalu.”

Yuri menjengitkan bahu. “Aku pun tidak menyangka pada akhirnya aku bisa berubah jadi seperti ini.”

“Ceritakan soal Take-kun. Apakah ini soal cinta pandangan pertama?”

“Lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan. Takegaya-kun menolakku saat pertemuan pertama kami.”

Hani menggigit bibirnya. “Maaf… aku tidak tahu… .”

“Buat apa minta maaf kalau kau tidak melakukan kesalahan, bodoh.” Yuri terkekeh. Dalam kesempatan itu ia menyentil dahi Hani. “Itu cerita masa lalu. Aku sudah berubah, Takegaya-kun juga sudah lebih banyak berubah. Aku dan dia bukan lagi orang-orang di masa lalu.”

“Tapi Yuri-chan, justru itulah yang harus kaucemaskan.”

“Hmm?”

“Karena kau dan Take-kun bukan lagi orang-orang di masa lalu, bagaimana seandainya kali ini dia yang mengejarmu?”

Yuri sempat mendramatisir suasana dengan menarik dirinya ke dalam memori sureal di mana ia dan Luhan hidup bersama. Tapi itu pun terjadi hanya dalam sepersekian sekon. Memoarnya amblas menjadi sebuah kumpulan debu di mana seorang pria berseragam hitam berdiri di tengahnya. Dengan wajah tertunduk, segumpal kata maaf dengan nada kelewat rendah digumamkannya untuk Yuri.

Secepat kabutnya hilang, tawanya kini meledak. Ada tetes air mata di ujung mata kiri Yuri, entah didapatkannya dari luka atau suka. Hani memerhatikannya dengan seksama; sebuah topeng yang semakin dipertebal oleh sahabatnya.

“Itu hal terbodoh yang menjadi pilihan terakhirnya untuk bertahan hidup,” Yuri melepaskan genggamannya dari Hani. Tubuhnya memutar ke samping, membelakangi Hani.

“Lagipula, hati Takegaya-kun sudah dimiliki oleh wanita yang lebih berhak.”

.

.

“Dah, sampai jumpa di sekolah!”

Hani melambaikan tangan segera setelah Yuri berbalik arah dan pergi menjauh dari rumahnya. Meski Hani bersikukuh tak ingin ditemani pulang, Yuri bertindak sebaliknya. Memakai alasan ingin berjalan-jalan sebentar, Yuri berhasil memboyong Hani kembali ke rumah dengan cepat, secepat ia pergi setelahnya.

Takut-takut, Hani berhasil melangkah sampai ambang pintu. Meski demikian, ia tak segera membuka pintunya. Alih-alih, Hani berdiri kaku seperti seorang tamu jauh yang lama tak berkunjung. Untung saja seseorang di balik pintu tahu hal itu akan terjadi. Natsu berdiri di sana setelah pintunya menjeblak. Tampak sekali ia sudah memerhatikan kedatangan Hani sedari tadi.

“Selamat datang,” katanya ramah.

“Kenapa kau ada di rumahku?”

“Kenapa ya?” Natsu mengedikkan bahu. “Karena kupikir orang tuamu butuh seorang teman ngobrol. Kau membuat om dan tanteku sedih, bodoh.”

Hani memukul dada Natsu hingga sang pria merintih.

“Untuk apa itu?” katanya penuh penghakiman.

“Ucapan terima kasihku.”

“Cih,” Natsu berdiri menyamping. Tangannya bersidekap tatkala punggungnya bersandar ke dinding. “Dasar sinting.”

Hani tersenyum, “Selepas ini ayo makan sesuatu di luar, aku yang traktir.”

“Tidak perlu, aku ada urusan.”

Hani hendak mendebat penolakannya, tapi hal tersebut urung ia lakukan. Meskipun Natsu tidak menceritakan apa pun padanya, sesungguhnya ia sudah tahu apa yang akan pria bodoh itu perbuat. Natsu adalah pecundang di matanya. Tak ada cara baginya untuk terlibat dalam urusan apa pun. Natsu sama sekali bukan tipe pria yang akan mengatakan hal-hal serius seperti itu. Akan tetapi dinilai dari bagaimana Natsu tak tertawa begitu memberitahu Hani, gadis itu menangkap maksud yang lain; tujuan Natsu yang tak pernah ia bayangkan.

“Urusan dengan seorang gadis, ya?”

“Apa kau peramal?”

“Terakhir kau bertingkah seperti ini ketika dirimu jatuh cinta pada seorang gadis,” Hani mengedipkan matanya. “Saat kau pertama kali mengunjungi Sapporo, bertahun-tahun lalu.”

“Hmm,” Natsu menggaruk-garuk kepalanya, cenderung merusak tatanan rambutnya yang sebelumnya lebih rapih. “Jawaban apa yang ingin kaudengar? Kau sudah menebak dengan tepat.”

“Yah, itulah mengapa aku ditakdirkan jadi sepupumu. Jadi, siapa gadis yang super sial itu?”

Hani lagi-lagi mengedipkan matanya penuh kejahilan. Ia tahu dirinya sedang diburu-buru oleh urusan keluarganya sendiri. Namun, melihat Natsu berdiri di sana, berusaha membesarkan hati kedua orang tuanya, Hani tak bisa mengabaikannya. Ia berpikir setidaknya ia harus berterima kasih dan membantu Natsu dengan segenap kekuatan yang ia miliki untuk membalas kebaikannya. Hari ini Hani memutuskan untuk mendengarkan, tapi kali lain, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membantu kisah cinta pemuda super baik seperti Natsu—oke, Hani menyerah menyebutnya pria gila.

“Kurasa kau akan terkejut,” sambut Natsu terkekeh. Tubuhnya kembali menegak dengan kedua tangan tersembunyi sempurna di balik kedua saku celananya.

“Fakta bahwa kau sedang mengejar seorang gadis saja sudah membuatku terkejut. Tak ada yang lebih mengejutkan lagi, tahu.”

“Begitu ya?” Natsu berjalan ke sisi yang lain, meraih mantel abu-abu yang tersampir di gantungan dekat pintu. Ia mengenakannya, lengkap dengan sebuah syal hitam yang melingkari lehernya. Ia memandang manik hitam Hani setelah kegiatannya selesai.

Dengan tawa kecil, ia menepuk kepala sang gadis.

“Kalau kubilang gadis itu Horikita-chan, apa kau masih juga tak ingin terkejut?”

.

.

Luhan tertawa.

Membayangkan dirinya bisa berjalan di tengah salju hanya untuk berhenti dekat tepian sungai Toyohira rasanya konyol. Rumput-rumput hijau di tempatnya berdiri sudah sangat licin oleh hujan salju, begitu pun alas kakinya. Salah sedikit melangkah, Luhan bisa terperosok ke sungai, bermandikan es yang bisa mematikan inderanya seketika.

Tapi itu juga bagus.

Pemikiran tadi membuatnya mendadak tertawa. Tak dinyana ia masih memiliki kepribadian gelap yang sudah lama disembunyikannya. Dua tahun sudah berlalu, dan rasa mengerikan di dalam dadanya masih tetap di sana, bersemayam kemudian tumbuh menulari jiwanya yang lain. Tak lain adalah Sayaka dan ayahnya yang patut dipersalahkan untuk semua kepura-puraan Luhan selama dua tahun terakhir.

Pemuda itu mulai melempari permukaan sungai yang hampir beku dengan kerikil kecil yang telah dipungutnya. Satu lemparan membuatnya melepaskan satu beban. Meski tak serta-merta baikkan, Luhan merasa ia bisa bernapas untuk sementara. Lemparan yang lain berlaku sama, susul-menyusul melepaskan banyak memori buruk dari otaknya. Luhan menjadi sangat emosional. Luapan energi buruk yang dilepaskannya seolah berkendara untuk kembali, melubangi sisa-sisa jiwa Luhan yang masih utuh untuk mencari jalan masuk. Saat itulah kerikil terakhir dilepaskannya dengan amarah; dilempar kuat hingga tak terlihat; tenggelam dengan lebih cepat.

“Itu yang terjadi kalau kau tak bisa berdamai dengan dirimu sendiri. Kau akan tenggelam lebih cepat.”

Sayaka sudah berdiri di belakang Luhan. Ia mengenakan pakaian musim dingin lengkap sembari membawa-bawa sebuah syal rajut berwarna biru polos. Sembari tersenyum ia berkata, “Kau melupakan syalmu.”

Gadis itu melingkarkan syal pada leher pemuda di hadapannya. Luhan tak protes meski ia tak pernah membayangkan dirinya dan Sayaka bisa sedekat ini kembali. Aroma tubuh sang gadis adalah favorit Luhan. Bahkan di antara parfum mahal yang kerap dibeli ibunya, bau keringat bercampur cologne yang menguar dari tubuh Sayaka masih lebih kuat menarik atensinya. Rasanya ia ingin syalnya lebih panjang atau lehernya lebih tebal agar Sayaka tak cepat-cepat menghentikan aktivitas itu.

“Kembalilah sebelum petang, kata ibu.”

“Tunggu,”

Luhan bisa melakukan apa pun yang ia inginkan pada gadis yang memiliki perasaan mutual dengannya. Tapi pengecualian berlaku keras bagi Sayaka. Meski jelas ia menyukainya dan Sayaka sepertinya juga memiliki perasaan yang serupa padanya, Luhan masih belum mengerti batasan di antara keduanya. Kebencian selalu hadir tepat kala cinta merekah dalam jarak pandang keduanya, membuat Luhan susah mengerti sebenarnya jenis perasaan bagaimana yang tersisa untuk Sayaka.

Yang bisa ia lakukan adalah menahannya; menolak kepergian buru-buru Sayaka—meski tak ada alasan di balik tindakannya.

Sayaka memandangi kedua binar hitam adik tirinya seksama. Sembari menorehkan sebuah senyum pada wajahnya, ia mulai bicara.

“Apa pun yang akan kaukatakan sekarang, katakan itu di rumah. Kautahu kesepakatannya bukan? Dilarang mempublikasikan—“

“Tak perlu diingatkan soal itu, aku sepenuhnya tahu.”

“Kalau begitu selesai. Aku akan pergi keluar sebentar. Menemui pengacara kenalanku, kalau kau ingin bertanya kemana.”

Luhan tak bisa menolong dirinya sendiri untuk tidak merasakan ledakan-ledakan kecil dalam dadanya. Dirinya teringat memoar kecil menyakitkan pada festival musim dingin beberapa hari silam. Belum juga pulih, Sayaka seolah menaburkan kembali garam di atas lukanya.

“Ini hari libur,” balas Luhan. “Seorang pengacara biasanya—“

“Namanya Amagiri Jin. Dia kenalanku, sudah kubilang ‘kan? Sebagai teman, kami bebas bertemu kapan pun. Lagipula, memberikanku saran dan menahan-nahanku, kau seperti bukan dirimu, Lu. Jika ada yang mengganggu pikiranmu—“

Grep.

Dipengaruhi desakan alam bawah sadarnya, Luhan telah melanggar peraturan keras yang ia buat untuk dirinya sendiri. Tangannya melingkar begitu saja di pinggang Sayaka tanpa izin. Wajahnya begitu dekat dengan sang pemilik pinggang, hingga ke titik di mana embusan karbondioksida keduanya bercampur dan hilang diganti odua baru.

Sayaka terkejut. Bukan main kagetnya.

Tak seperti Luhan, hal yang membuatnya sedemikian terkejut adalah tindakannya sendiri. Sayaka sudah tahu kalau Luhan menyukainya sejak dahulu—begitu pun dirinya—tapi sejak kejadian buruk yang menimpanya bertubi-tubi, Sayaka yakin ia sudah mengganti rasa berbunga itu dengan darah mendidih dari benci. Tak ada kesempatan bersama bagi dua orang yang saling membenci, apalagi kesempatan untuk melakukan hal-hal seperti ini di muka umum. Meski demikian, tubuh Sayaka tak bergerak. Ia benci mengakuinya, tapi, jauh di dalam lubuk hatinya ia menginginkan ini.

Sayaka sangat menginginkannya hingga ia lupa dunia tempatnya berpijak. Ia lupa siapa dia dan siapa pemuda di depannya. Ia lupa apa yang pernah dilakukan keluarga Luhan pada keluarganya. Ia juga lupa bahwa saat itu di pesisir Toyohira, sepasang mata sedingin es tengah melihatnya dari kejauhan.

.

.

Segera setelah Natsu pamit dari manik mengintimidasi milik Hani, dirinya langsung dihadapkan pada udara dingin di sekitar blok-blok rumah mungil tak jauh dari sekolahnya, Minami High School. Tujuannya sudah jelas, mengunjungi Yuri dan mengklarifikasi apa yang terjadi semalam di antara keduanya. Pertama kalinya ia menyukai seorang gadis adalah ketika ia berusia delapan, saat seorang gadis kecil tak sengaja membantunya berdiri dari papan seluncur terbalik di ski resort Gunung Teine. Saat itu ia telah sukses membuat pernyataan cintanya berantakan karena gerakan memeluk tiba-tiba. Sang gadis menjerit, menyebutkan nama sang ayah dan berlari ketakutan.

Hal buruk itulah yang kemudian menjadi bekal bagi Natsu hari ini. Meski Yuri tak menjerit, apalagi melapor ini-itu pada kepolisian setempat, jauh di lubuk hatinya pasti ia merasa aneh. Setidaknya, terkejut. Natsu tidak ingin kesalahpahaman ini berlanjut di kemudian hari, jadi ia harus memberitahu Yuri soal alasan di balik kejadian semalam.

Beruntung bagi Natsu. Belum juga ia tiba di jalanan kompleks rumah sang gadis, Yuri sudah muncul di belokan pertama, membawa sekantung belanjaan. Mata mereka bersirobok sebentar sebelum wajah Yuri memerah.

“Se—selamat siang, Natsu­-kun.”

Secepat dialognya berakhir, secepat itu pula sang gadis berbalik arah.

“Tunggu!”

Natsu membuat kata-katanya tak terdengar seperti sebuah perintah menakutkan, tapi justru hal itulah yang terjadi. Yuri berjalan semakin cepat, hingga bunyi gemeletuk dari dalam kantung belanjaannya terdengar sampai ke telinga Natsu yang tertinggal tak jauh di belakang.

“Aku tidak berniat jahat,” koreksi Natsu buru-buru sebelum Yuri semakin salah paham dan mengira dia memiliki hobi menguntit. “Aku ingin menjelaskan soal… anu… yang semalam…”

Belum-belum, Natsu sudah kikuk. Kalau begini ia tak yakin bisa menjelaskan perasaannya dengan rinci pada Yuri tanpa harus terbatuk parah dahulu.

“Aku sudah melupakannya,” sahut Yuri.

“Tapi kau tak perlu melupakannya.”

“Kau tak sadar karena udara dingin. Masalah selesai,” ujar sang gadis sembari terus menghindar.

“Bagaimana bisa aku melakukan itu!” Natsu berlari kecil. Syalnya berayun tertiup angin yang menerpa wajahnya dari depan, meski demikian, ia gembira. Tak lain karena berhasil menghentikan tungkai Yuri. Natsu tak berusaha memandang wajah Yuri—karena hey! Yuri juga terlihat belum siap melakukan itu—tapi ia bersikeras berdiri menghalangi jalannya agar Yuri tak kabur. Diam-diaman bukan lagi perkara pentingnya di sini, jadi Natsu buru-buru mengisinya dengan klarifikasi singkat. “Aku sepenuhnya sadar dan aku sepenuhnya ingat apa yang kukatakan dan kulakukan padamu tadi malam. Aku sungguh-sungguh, tahu,” rona kemerahan muncul dari kedua pipi Natsu. Pemuda itu berusaha keras menyembunyikannya dengan gerakan ringan garuk-garuk kepala dan batuk-batuk kecil.

“Aku menyukaimu,” tambahnya.

Semilir angin nakal mengetuk tungkai Yuri, mengibarkan kelepai bagian bawah mantelnya, kemudian menguraikan helaian rambut yang tadinya tersisir rapi di belakang telinga. Ia tak salah dengar. Tapi Yuri berharap sebaliknya.

“Kuanggap aku tak mendengar itu,” katanya kikuk.

“Aku tak meminta jawabanmu, kok,” balas Natsu. “Aku tahu kau menyukai orang lain. Jadi aku ke sini hanya untuk menjelaskan perasaanku padamu, aku tidak ingin jadi pengecut.”

Yuri masih tak mengerti bagian penting dari apa yang diungkapkan Natsu. Pernyataan cinta biasanya untuk mengetahui perasaan orang yang dicintai; apakah serupa atau tidak. Namun Natsu, dengan segala permainan kalimatnya, seolah memberitahu Yuri kalau dia menyukai sang gadis tanpa syarat, bahkan ketika ia tahu kalau Yuri mencintai orang lain. Hal tersebut sukses membuat sang gadis dilanda keheranan.

“Padahal akan lebih baik kalau kau tidak mengatakannya, Natsu-kun.”

“Kalau kaubisa mengerti perasaanku hanya dengan menatap mataku, mungkin aku akan melakukannya. Tapi yah… aku tahu itu tidak mungkin. Aku ke sini hanya ingin memberitahumu itu. Segala tindakanku sebelumnya murni karena dorongan rasa sukaku padamu, tidak ada niat jahat, apalagi pikiran mesum.”

Yuri tertawa. Kalimat Natsu dirasanya begitu lucu.

“Kau takut aku berpikiran buruk tentangmu ya? Itu konyol sekali.”

“Emm, soalnya aku punya pengalaman buruk dengan seorang gadis kecil bertahun-tahun lalu yang lari ketakutan setelah aku memeluknya tiba-tiba. Kupikir kau juga sama.”

“Bodoh,” Yuri tertawa. “Mana mungkin aku seperti itu.”

“Begitu? Syukurlah.”

Yuri memukul ringan lengan Natsu sembari melepaskan tawanya. Sang gadis mungkin tak merasakan apa pun selain dadanya yang tergelitik karena kekonyolan dan kenaifan pemuda di hadapannya. Namun Natsu, merasakan kegembiraan yang luar biasa sejak ia mengenal Yuri. Hari itu adalah kali kedua ia melihat tawa renyah dari seorang gadis yang katanya sedingin es. Kali ini tanpa intervensi dari gantungan kunci berwarna perak yang ditemukannya. Tawa manis itu murni berasal dari usaha Natsu—yang mana membuatnya bangga akan dirinya sendiri.

“Kau sangat menghibur. Sudah lama aku tak tertawa seperti ini.”

“Lalu bisakah kau berikan sebuah ucapan terima-kasih untukku? Jawaban pernyataan cinta, misalnya? Eh, bercanda.”

Natsu menggaruk kepalanya. Yosh. Dia keceplosan.

Yuri menanggapinya dengan sebuah gelengan singkat.

“Aku tak bisa memberikan jawaban bagus untuk pernyataanmu,” katanya. “Tapi aku bisa memberikan segelas ocha* hangat. Mau mampir ke rumah?”

.

.

Kejadiannya berlangsung sangat cepat; Yuri mendadak berhenti di ujung jalan, pandangannya terpaku pada sebuah titik koordinat mengejutkan; Sayaka dan Luhan berdiri berhadap-hadapan, berpelukan, terlihat berdebat, kemudian berpelukan kembali. Secepat pemandangan tersebut tersembunyi oleh sebuah mobil yang lewat, Yuri menjatuhkan kantung belanjaannya ke atas aspal sehingga beberapa makanan kaleng yang tersimpan di dalamnya menggelinding keluar.

Natsu bergerak refleks meraih beberapa kaleng yang menggelinding ke arahnya kemudian mengumpulkannya di kantung mantel. Saat ia baru akan memberikannya pada Yuri, dilihatnya titik kecil yang telah mencuri perhatian sang gadis.

“Sa—Sayaka Sensei?”

Otaknya menjerit karena kekurangan pelumas untuk menggerakkan gigi-gigi rodanya. Natsu memang bodoh, tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengakuinya. Dunia begitu sempit. Dari semua tempat, Natsu dipertemukan dengan fakta aneh justru di tempat sesepi Toyohira. Apalagi di sisinya berdiri gadis cantik yang mematung seolah jiwanya baru saja tersedot ke alam lain. Tangannya gemetaran, senada dengan matanya yang nampak ragu-ragu untuk tetap terbuka. Natsu tidak yakin apakah ia benar, tapi dipikirnya, ia melihat riak-riak bening di pelupuk sang gadis sesaat sebelum Yuri menyembunyikan wajahnya di balik surainya yang turun saat ia menunduk.

“Natsu-kun…” Yuri membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan dengan tujuannya semula. Ia berjalan tanpa memedulikan isi kantung belanjaannya yang masih terserak di sekitar kaki. Tak setuju dengan tindakan Yuri, yang dipanggil masih berdiri di tempatnya, memandang pemandangan unik di sisi Toyohira sekali lagi untuk memastikan.

“Natsu-kun?” Yuri mengingatkannya lagi, kali ini dengan suara yang lebih kecil karena ia semakin menjauh dari sang pemuda. Yuri bertindak di luar nalarnya, disetir oleh kecemburuan dan sakit hati yang teramat dalam. Ia ingin berhenti menunggu, katanya? Ia ingin berhenti menyukai Luhan, katanya? Dusta.

Hati kecilnya tak ingin menghapus kenangan kecil tentang pemuda satu itu. Meski hanya sakit dan penderitaan yang diberikan Luhan, Yuri tetap menolak untuk lupa. Jauh dalam palung hitamnya, ia masih ingin tetap menggalinya, ia masih ingin tetap menunggu meski hal tersebut kelak akan mengoyak-ngoyak jiwanya. Cinta atau obsesi?

Entahlah. Satu hal yang ia tahu pasti: orang yang ditunggunya masih juga belum sadar bahwa ada hati yang ia sakiti.

“Yuri, lihat itu. Dia seseorang dari kelasmu ‘kan?”

Eh? Apa?

Dipikirnya Natsu hanya mencari cara untuk sekadar menarik atensinya, lekas saja Yuri mengabaikannya. Padahal bisa saja Yuri melewatkan momen paling krusial dalam hidupnya. Di ujung jalan yang lain, berdirilah sepasang gadis yang sibuk mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Salah satunya mengenakan mantel merah muda bercorak Gudetama, salah satu yang menjadi maskot bagi Satsuku Aoda, si Ratu Gosip sekolah. Sementara Natsu sibuk mengingat-ingat nama sang Ratu Gosip—yeah, dia terlalu lemah untuk menghapal sebuah nama yang tak memiliki kepentingan bagi dirinya—Yuri memutuskan untuk menoleh ke arahnya. Matanya menyipit, mencoba fokus pada apa yang kiranya dipandangi Natsu hingga mulut embernya berhenti berbicara.

Satsuku?

Bodoh dan pura-pura bodoh bedanya memang terlihat. Ketimbang Natsu yang cuma terbengong sembari memandangi Aoda diam-diam, Yuri sudah berlari ke depan, melesat bagaikan anak panah yang baru dilepaskan dari busurnya. Tindakannya sangat mencolok, sehingga sosoknya tercitra jelas pada netra Luhan, membuatnya buru-buru melepaskan Sayaka dari rengkuhannya.

Sayaka hendak bertanya ada apa, tapi saat ia menoleh ke belakang dan mendapati sosok Yuri tengah berlarian ke sisi seberang jalan, ia enggan bicara. Sebuah senyum tipis merekah pada wajahnya, menampakkan bagian jiwanya yang tengah bertarung setengah mati menolak membuat ekspresi demikian.

Di sisi lain, Aoda masih begitu asyik memeriksa hasil jepretan gambarnya tanpa tahu ada seorang gadis yang tengah memburunya. Ia bersenandung kecil saat Yuri hadir di sisinya, merebut ponsel merah muda sang gadis sembari menggeram kecil. Seorang gadis yang tak Yuri kenal di sisi Aoda sudah berlarian entah kemana, meninggalkan seorang Ratu Gosip sendirian menghadapi Yuri.

“Yo, Queen Elsa, bagaimana hari minggumu? Bisa kaukembalikan ponselku?”

Alih-alih menjawab, Yuri menjauhkan diri dari lengan Aoda yang tak berhenti menyintungnya—memohon agar ponselnya dikembalikan. Yuri malah membuka sebuah folder di dalam ponsel Aoda, menghapus beberapa gambar yang memuat Luhan dan Sayaka. Setelah memastikan tak ada yang terlewatkan olehnya, Yuri memberikan ponsel bercorak gudetama tersebut pada sang pemilik orisinalnya.

“Terima kasih,” sambut Aoda ketus. “Padahal ini bisa jadi berita besar di sekolah.”

“Coba saja kalau kau ingin mencari masalah denganku.”

“Kau sangat sensitif. Memangnya kau siapa?”

Yuri memicing galak, “Kau tidak perlu tahu.”

“Huh,” Aoda mendecih. “Jadi gosipnya benar ya? Kau suka pada Takegaya-kun?”

Yuri memunggungi Aoda selagi ia bicara. Tak ada niatan baginya untuk menimpali, apalagi bertanya darimana Aoda tahu berita yang harusnya hanya diketahui oleh dirinya dan segelintir orang saja. Meski demikian ia tak menampik pertanyaan Aoda. Diamnya Yuri, merupakan motor baru bagi mulut Aoda yang terkenal teramat beracun.

“Tapi aneh, harusnya kau membiarkanku menyebarkan foto tadi di sekolah, biar mereka ketahuan pihak sekolah dan Sayaka Sensei bisa dipecat. Kau akan memiliki kesempatan untuk mencuri hati Takegaya-kun, bukankah harusnya begitu, Horikita-san?”

Secepat buih di kedua sudut bibir Aoda menghilang, Yuri menamparnya dengan sebuah gerakan ninja yang hampir-hampir luput dari penglihatan Aoda. Saat gadis itu sadar, tahu-tahu pipinya sudah terasa pedas. Aoda geram, ditatapnya Yuri dengan emosi, “Maksudmu apa!” sentaknya.

Tanpa mengindahkan protes yang dilayangkan keras padanya, Yuri berbalik sekali lagi, berjalan menjauh dari seorang gadis yang terbakar amarah di belakangnya. Kewaspadaannya diturunkan ke titik nol, sehingga ia tak mengira bahwa Aoda dapat menjadi sangat marah dengan tiba-tiba mendorong tubuh Yuri ke depan, tepat ke tengah jalanan.

“Apa yang kaulakukan, bodoh!”

Yuri menyentak Aoda sesaat setelah dahinya terantuk aspal. Lelehan cairan merah merembes melalui pori-porinya, memperlihatkan sebuah celah kecil di atas alis kanannya. Ketakutan melihat luka di dahi Yuri, Aoda tak berusaha memperbaiki kesalahannya. Alih-alih ia berlari kencang ke arah yang berlawanan dibarengi dengan gemetar hebat yang menguasai seluruh tubuhnya.

“Yuri!”

Bantuan datang. Natsu terengah-engah menepi, menjulurkan tangannya pada Yuri, membantu sang gadis berdiri. “Terima kasih,” sahut Yuri. Saat ia mendongak, Natsu langsung terkejut melihat lelehan darah yang hampir menutup separuh wajah sang gadis.

“Yuri, kau terluka!” pekiknya heboh. Yuri meraba wajahnya. Ia tak benar-benar menyadari bahwa lukanya separah itu, jadi ketika tangannya dipenuhi dengan lengketnya darah, kepala Yuri mendadak terasa pusing. Yuri tidak takut darah, tapi ia takut kalau-kalau ia kehilangan kesadaran di momen-momen krusial seperti ini. Ia tak ingin dikasihani, tak ingin terlihat lemah, apalagi memohon ingin ditolong. Pingsan adalah pilihan terakhirnya untuk hari ini, dan ia tak berharap itu terjadi.

Sayang,

Kesadarannya justru pergi meninggalkan tubuhnya kala ia mendengar suara familier yang memanggil-manggil namanya.

Ironis,

Yuri benar-benar pingsan ketika Luhan menghampirinya.

.

.

tbc


Sorry,
Waktu update-nya jadi kelamaan gini. Salahin B.A.P aja. Salahin Himchan aja. Salahin kehidupan fangirling-anku.

nyun.

53 thoughts on “YOUNIVERSE [11 of ?]

  1. vialee945 berkata:

    Aku penasaran sama reaksi nya hani kak 😁😁
    Yuri sama natsu aja deh.. ngapaen coba suka sama cowo yg jelas2 suka sama cewe laen 😒
    Duh yuleon kasian amat dirimu hiksss 😭😭

  2. afifahcaku berkata:

    waduh keren..
    udah yuri sama natsu aja..
    yuri terlalu baik tapi kok aku yang ikutan baper
    yuri unnie keren rela terluka untuk menyelamatkan luhan dari gosip padahal dirinya juga bisa jadi bahan gosip
    aduh penasaran sama kelanjutannya
    unnie ditunggu selanjutnya.. B.A.P di masukkan aja ke dalam cerita supaya unnie juga semangat..hehe *maafsotoy

  3. nalyyullie berkata:

    So luhan n sayaka likes each other???
    Natsu and yul so adorable…
    Yul’s injured!!..
    Yulhani moments…
    Finally yul told hani about herself too…
    Better yul be with natsu too…
    Thanks for updated^^

  4. seungmi1214 berkata:

    Rasanya gemes liat Luhan meluk Sayaka. Aaah, emang hati udah fix ke NatsuYul sih. Kasihan, Yuri terlalu baik buat Luhan yang melempem huhuhu. Tapi pasti Kak Nyun ntar bikinin moment YulHan yang bakalan menggoyahkan para NatsuYul shipper kkkk. Tetep semangat kaknyun! Fangirlingan sepuasnya aja kak sebelum fangirling dilarang kkkk /nyeramahi diri sendiri/

  5. gita saraswati berkata:

    huaaaa kaknyunnnnnn
    kirang panjangg wkwk
    aku greget bacanya kaknyun
    ihh natsu lucu banget, makasih udah buat yuleon ketawa lagi
    oh yaaoda itu menjengkelkan sekali kaknyun
    keren kaknyun chapter ini aku terbawa banget wkwk
    makin ga sabar buat baca chapter selanjutnya kaknyun
    mangat ya kak
    😍😍😍🙌🙌🙌

  6. Rania SonELF berkata:

    Akhirx di update,..!! Kak Nyun kenapa hruz pke acra Tbc dsitu pkokx next part jangan lama” & please bkin Luhan cemburu..!!

    Kak Nyun TOZ ditunggu loe

    Pada tanggal 10/12/15, BlackPearl Fairy Ta

  7. Cynthia berkata:

    Aduhhh semakin seru nih… Yuleon pingsan trs ada Luha gege sm natsu yg nolongin..
    Apakah ini jdinya yulhan ato yuri-natsu???
    Aq benci adegan mesranya lu gege sm sayaka.. Huffff..
    Kak nyun ditunggu bgt ya kelanjutannya..😀
    Fightinggg!!!!

  8. chy23 berkata:

    Kaaaak seneng bangeeet ada part 11 nyaaaaa yuhuuuuu
    Yaaah Luhan sama Sayaka mesra2an lagi :’) bikin cedih😦
    Yuri-Natsu!!! Yeeey mending sama Natsu aja Yuri😄 tapiiii lebih bagus sih kalau sama Luhan XDDD
    kaknyuuun makin keren ajaaaa haha jangan bosan aja dipuji mulu karena emg keren sih kak :)))
    Ditunggu part 12nya!!! ^^

  9. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    Ya ampun kakk.. demi apa ini jadi bimbang mau pair yuri ama natsu or luhan, dua dua nya bikin kesemsem.. kak nyun emang paling bisa deh, keren banget bahasanya, jadi ngebayangin sendiri, adegan natsu yuri itu sesuatu banget di part ini, ditunggu selalu ya kak lanjutannya^^

  10. Hara_Kwon berkata:

    Akhirnya update juga kak nyun, hehehe iya ndak papa kok kak kalo update nya lama, tapi jangan terlalu lama kekekeke😀
    Akhirnya Yuleon bisa lebih terbuka sama Hani, senang sekali, semoga bisa terus membaik dan Yuleon bisa kembali seperti dirinya yg sebenarnya.
    Haaahh.. Momennya Luhan-Sayaka membuatku tidak bisa berkata kata. Apalagi pas Yuleon tau kejadian itu :”
    Apaan sihh Aoda, knapa tiba2 dia ada di sana waktu kejadian Luhan-Sayaka? Untung aja Yuleon tau dan dia berani buat ngambil hp nya dan menghapus fotonya Luhan-Sayaka. Ahh tapi karena hal itu Yuleon sampai terluka.
    Kak nyun, Luhan itu suka sama Yuleon nggak sih?? Aku kadang2 bingung sama perasaan Luhan ke Yuleon. :3
    Semoga di part2 yg akan datang hal itu bisa dijelaskan.
    Ditunggu update annya kak! Semangat!!

  11. dindavanesaja berkata:

    Awawaw! Chapter ini yg bikin aku makin menggila. Next ya, kak Nyun. Maigaatttt, jan lama2 next nya. Aku gasabar banget nunggu kelanjutannya. Kesel banget sumpah sama Aoda! Apa2an coba usahanya nyelakain anak orang!? Next nya kalo boleh jangan lama2 ya, Kak. Aku greget bgt bacanya

  12. Luluu berkata:

    Kaknyuuuunn!!!!!!! Aku suka banget sama natsuyul momentnya, jadi makin ngeship mereka di sini. Scene trakhir dpt banget thor dari yg ketemu aoda smpe tbc. Aku suka banget flow ceritanya enak gitu bacanya. Natsu sadar tidak si kalo yul hatinya buat luhan? Semoga yul bisa tercerahkan oleh natsu deh. Tapi dengan siapapun yul berakhir, semua ditangan kaknyun~ semangat ya, kaknyun!

  13. ziah berkata:

    udh deh yuri ama natsu ajah kak, kesel liet luhan disini …
    natsu jelas2 cinta n ngelindungin yuri jd please yuri ama natsu ajah ya🙂 …

  14. zcheery berkata:

    Hani pasti terkejut bukan main wkwkwkwk
    Udalaaaa Yuri sama Natsu ajaaa jangan Luhan, nyesel loh ntar! Please be with someone who makes you happy, don’t be with someone who makes you sad.
    Yo, Natsu, fightingg! Wkwk

    I like dat moment, “yo, queen elsa, bagaimana minggumu?”😂

    Yha daku jadi baper wkwkwkwk nungguin kanyun ga kambek kambek yang akhirnya kambek membawa gantungan cerita wakss btw fighting yaa kanyun~ ty for the story yg bapering as always haaha God bless~!

  15. Ckh.Kyr berkata:

    Setelah bisa ketawa karna Natsu, eh malah di buat nyeri karna ngeliat Sayaka dan Luhan. Ngenes emang si Yuri.
    Kalau begini terus bisa2 jadi NatsuYul ini maaah ;A;
    Kayanya bakal ada gosip heboh di sekolah mereka nih, setelah kejadian ini.

  16. Ckh.Kyr berkata:

    Sebagian yg terlupakan:
    Akhirnya Hani bisa bikin Yuri menceritanya masalalunya ;A;
    Part ini bener2 menggoyahkan ke-YulHan shipper-anku :””

  17. mellinw berkata:

    Ohmygoooooooodddd kaaaak.. Duh duh duh

    Luhan sayaka bener bener deh yaaa, tapi yuri natsu buat aku seneng kak.
    Kak lagi dong updatenyaaa lagi dong,
    Ga sabar dengan cerita selanjutnya. Mungkin nanti natsu jadi tau juga akhirnya,

    Ditunggu updatenyaaa kak haha

  18. Lulu KEG berkata:

    Kaco kaco!! itu ya momen nya Sayaka sama Luhan bikin naik darah masa kitati akuh hiks.. Yuri-yah eh Yuri-Chan udah sih sama Natsu aja yak! dijamin gk bikin nunggu lama kok kaya Luhan- –
    Gila emosinya dapet banget Kak Nyuun! kak Nyun sllu bisa banget bkin pembaca terhanyut ke dalam cerita syalalah~~ makin ngeppens aku sama Kak Nyun..:*
    Oya Kak Nyun Hani adain dong cowok nya yg sama2 kaya dia ato sebaliknya tp entaran2 aja hehe *plak
    Okedeh makasih kak part-11 nya ditunggu part-12 nyaa, mangatsee!! sekali lagi terimakasih^^

  19. aloneyworld berkata:

    Hihi lucu banget si natsu, suruh siapa suka tiba-tiba meluk orang jadinya kabur kan orangnya haha😄 udah luhan sama sayaka aja deh, natsu sama yuri :3 pokoknya natsu sama yuri aja jangan sama luhaaan *ko maksa sih*😄
    Jadi sayaka gaenak banget pasti ya, sebenernya suka tapi gara-gara ada rasa benci jadi begitu, tapi jadi yuri lebih sakit sih dia rela ngapain aja demi luhan sampe luka begitu tapi si luhan sukanya cewe lain -_- hani berarti sekarang udah dipercaya sama si yuri ya sampe udah mau cerita gitu :3 itu lebih baik daripada dipendem sendiri terus kan -_- aku masih bingung yang bagian si hani pernah dibully gara-gara wajahnya itu tuh haninya terlalu cantik apa terlalu jelek*eh?* kayaknya gara-gara terlalu cantik ya kak?
    Keren deh kak😀 tapi ya ini updatenya emang telat banget sih hihi tapi daripada ngga diupdate kan😀 aku gabisa kalo salahin mas-mas ganteng itu kak ._.

  20. joohyun berkata:

    Waaa… Akhirnya yuri uah mulai sedikit terbuka sama hani🙂 lumayan lah.. Progress wkwk
    Berasa liat kisah cinta segitiga yg di drama” gitu😀 tp ini kayaknya bakalan lebih rumit
    Yuri jangan bosen” sama luhan ya😀 waah.. Gk nyangka yuri masih nyimpen rasa buat luhan

  21. Puput berkata:

    Kasihan banget si yuri 😭 rela didorong sampe berdarah2 dan pingsan demi nyelametin luhan sm kk cwenya . Aku kok ngakak ya pas bagian si ratu gosip bilang ke yuri Queen elsa dan kesel jg sih si ratu gossip nggak tanggung jawab

  22. imaniarsevy berkata:

    aduh…. yuri natsu aja deh….
    kok aku bacanya berasa ikut baper gitu ya kak ya???
    aduh…. sudahlah nyobain aja deh couple baru… kekeke…
    keeep writing kak nyun….

  23. aeyoungiedo berkata:

    aiiihhh udahdeh Yuri ama Natsu aja, kan Luhan udah sama Sayaka. Natsu bisa bikin Yuri ketawa girang, keren bangettt :”

  24. lalayuri berkata:

    Kak Nyub setelah sekian lama aku baru nyadar klo kak Nyun update. Aku komen sekalian 2 part gpp ya ? Wah makin dramatis deh kak, kasian bgt, yuri yg selalu jadi korban, luhan sebenernya kapan dia sadar, Natsu aja yg baru ketemu yuri dia langsung peka klo dia suka sama yuri. Tpi endingnya yulhan aja ya kak, dan part selanjutnya banyakin yulhannya. Ditunggu next chapternya. Oia kak TSD kapan dilanjut ? Udh lumutan nih nunggunya wkwk

  25. NITA kyuri berkata:

    aigoo mending yul onni ma natsu aja dech,lebih banyak moment.x..aduh luhan main peluk2 sayaka nggak tw pa yul onni sakit hati lihat tuch..yul onni pingasan..next lah onno..penasaran ma kelanjutan.x..fighting..

  26. The Blackpearl berkata:

    kaknyuuunnn tau gaaa aku lgsung mental breakdown begitu liat bkata TBC huhuhu
    cepet2 lanjutin ya kakk…
    oiya bikin buanyaakkk moment natsu-yuri dongg.. aku harap merka bsa bersatu(?) dari awal uda srek sama merekaaa
    terus bikin luhan nyesel juga yaa uda nyuruh yuri nuggu lama banget ..
    masukin bap jadi cameo juga dong kakk..
    we are younggg wild and freee yeahh#gajelas

  27. Retha Lee berkata:

    yuri mulai buka-bukaan soal hati nih sama hani kekkk
    luheeen iniloh labil ga peka, jahat ah tapi aku suka kamu. jangan asal” peluk dong. ketahuan kan kan kan.
    greget banget sama cerita ini. ampun deh. kasian banget yuri, kamu ngelindungin seseorang yg kamu sayang meskipun itu menyakitkan. ah ga tegaaa
    otw to next chap deh

  28. lizanining berkata:

    Lama gak kesini jd harus cek dr chapter 9 mana yg belum dibaca wkwk
    Merasa bisa memahami perasaan gitu yg ttp nunggu meskipun sakitnya dateng bertubi-tubi hiksss jd baper gini TT
    Langsung meluncur ke chapter selanjutnya~~~
    As always, kaknyun emang the besttt (y)

  29. rynwu berkata:

    Yahh…
    Yuri pingsan ps luhan datang..
    Klo htu berarti luhan liat prtengkaran antara yuri sm aoda dong..
    Luhan tau gk yh klo yuri brantem sm aoda buat nglindungi dia.

  30. yayarahmatika berkata:

    Hahh kayaknya part ini gak terasa banget deh, entah kenapa aku makin suka sama natsu.apalagi pas dia bilang kau tak harus menjawabnya, uhhh pengertian banget dan sadar banget posisi dia dan yuri itu apa. dan Pokoknya luv luv lah buat natsu, dan arghh yuri kepalanya berdarah, semoga buat dia makin dekat dengan natsu

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s