Youniverse [12 of ?]

Youniverse3

a story by bapkyr

ps : sudah diperbaiki, maaf atas kesalahan teknis kemarin.

This girl once believe in destiny until she realized she was the destiny itself

Previous Chapter :

Yuri, kau terluka!” pekiknya heboh. Yuri meraba wajahnya. Ia tak benar-benar menyadari bahwa lukanya separah itu, jadi ketika tangannya dipenuhi dengan lengketnya darah, kepala Yuri mendadak terasa pusing. Yuri tidak takut darah, tapi ia takut kalau-kalau ia kehilangan kesadaran di momen-momen krusial seperti ini. Ia tak ingin dikasihani, tak ingin terlihat lemah, apalagi memohon ingin ditolong. Pingsan adalah pilihan terakhirnya untuk hari ini, dan ia tak berharap itu terjadi.

Sayang,

Kesadarannya justru pergi meninggalkan tubuhnya kala ia mendengar suara familier yang memanggil-manggil namanya.

Ironis,

Yuri benar-benar pingsan ketika Luhan menghampirinya.


 

Saat Yuri sadar, dirinya telah terbaring di sebuah kasur berseprai cokelat. Ada aroma amis yang menguar dari bekas darah di busana yang masih dikenakannya saat kejadian tadi, ditambah aroma antiseptik yang sepertinya bersumber dari sebuah perban luka yang kini berada di dahinya. Kala ia ingin meyakini bahwa dirinya berada di suatu ruangan khusus dalam rumah sakit, ia dikejutkan dengan fakta bahwa dirinya sudah dikelilingi oleh orang-orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini.

“Sudah baikkan?” Sayaka tersenyum padanya. Jarinya dipenuhi dengan kapas-kapas berlumuran darah, juga antiseptik pembasmi kuman. Ia tak mengenakan jubah dokter kebanggaannya, tapi Yuri rasa itu sudah cukup menjelaskan bahwa ia sama sekali tak berada di rumah sakit. Melihat dari bagaimana Natsu dan Luhan berdiri tak jauh dari ranjangnya, juga dari sederet foto-foto masa kecil Luhan di atas meja, Yuri yakin sekali ia berada di sebuah ruangan yang mungkin tak akan pernah ia kunjungi lagi; kamar pribadi Luhan.

“Hm,” Yuri mengangguk dan berusaha duduk. Natsu membantunya dengan menyediakan sebuah bantal di balik punggung Yuri sebagai sandaran.

“Lukamu tidak serius, tapi kalau tidak diobati bisa infeksi,” sahut Sayaka sembari memberikan Yuri beberapa peragaan mengoleskan antiseptik dengan benar. “Aku akan memberikan beberapa, pastikan kau memakainya, setidaknya tiga hari sampai lukanya mengering.”

“Terima kasih,” Yuri menganggukkan kepalanya.

“Jangan pedulikan itu,” sahut Sayaka. “Apa yang terjadi di antara kau dan Satsuku Aoda? Kelihatannya hubungan kalian tidak baik?”

“Oh,” Yuri terkejut menerima pertanyaan seperti itu. Jika ia memberikan penjelasan yang sebenarnya pada Sayaka, apalagi di depan Luhan dan Natsu, sungguh harga dirinya akan dipertaruhkan. Yuri pribadi terkejut dengan sikapnya yang begitu kasar pada Aoda, hanya karena Aoda menangkap gambar mesra Sayaka dan Luhan. Padahal jika dipikir lagi, Aoda ada benarnya. Yuri bukanlah siapa-siapa dan ia tak berhak melakukan tindakan sembrono pada Aoda.

Dilatarbelakangi emosi yang tak menyenangkan, Yuri berdusta. “Hanya masalah kecil biasa di sekolah.”

“Benarkah?” Luhan menimpali. “Tapi kau dan Satsuku tidak pernah seperti ini sebelumnya,” katanya penuh kecurigaan.

“Para gadis tak pernah bertengkar terang-terangan di sekolah,” ucap Yuri. Diliriknya Natsu yang kelihatan gatal ingin mengoreksi sesuatu. Natsu menangkap gerakan kecil netra hitam tersebut, kemudian berangsur-angsur merapat ke dinding, berusaha menjadi anak baik yang mendengarkan. Sebetulnya kalau Yuri memberinya kesempatan bicara, ada banyak sekali pertanyaan yang akan ia ajukan; kenapa Yuri sangat emosional ketika melihat Luhan dan Sayaka; kenapa Yuri marah pada Satsuku Aoda; kenapa Sayaka dan Luhan tak mengatakan mereka sebetulnya kakak-beradik; dan kenapa-kenapa yang lainnya. Diakuinya fakta bahwa Luhan dan Sayaka adalah sepasang saudara, membuatnya merinding. Natsu tak pandai berasumsi, tapi ia pandai memprediksi bahwa ada suatu keterkaitan khusus antara Yuri dan kedua kakak-beradik ini.

Natsu penasaran, tapi ia ingin tetap terlihat masa bodoh agar Yuri tak curiga.

“Nah, apa pun itu, besok aku akan meminta bantuan Yamada Senpai untuk membuat forum mediasi untuk kau dan Satsuku-san. Masalah jangan dihindari, masalah harus diselesaikan. Ya ‘kan, Takegaya-san?”

“Eh?” dikejutkan oleh pertanyaan tak terbayangkan dari Sayaka tentu bukan bagian dari pilihannya hari ini. Tapi ia tak menghindar—ia juga memiliki masalah dengan Yuri, dan Yuri selalu saja lari. “I—iya,” tutupnya.

“Tapi, Sensei… kurasa hal seperti itu tak diperlukan. Aku dan Satsuku pasti akan berbaikan segera tanpa campur tangan pihak sekolah,” tolak Yuri halus. Ia ingin bertingkah egois dan berkeras kepala seperti biasa, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Saat ini ia tak lebih dari seorang pasien lemah yang beruntung mendapatkan pertolongan pertama. Bukan tempat yang tepat untuk protes.

“Tidak perlu takut macam-macam. Ini antara kau, aku, Takegaya, Hiroyuki, Satsuku dan Yamada Senpai saja. Pihak sekolah tidak akan tahu. Anggaplah kami semacam guru konseling pribadi untuk kalian,” ujar Sayaka.

Yuri memainkan jemarinya yang tersembunyi di bawah selimut. Ia menggerak-gerakkannya tanpa sadar karena canggung. Bukan masalah jika ia dan Satsuku bertemu. Tapi akan menjadi masalah jika Satsuku membuka mulutnya soal apa yang melatarbelakangi keduanya bertengkar. Fakta tersebut mungkin akan berbahaya untuk dirinya sendiri. Yuri khawatir dirinya akan malu untuk sekadar menatap Sayaka atau Luhan nantinya.

Melihat ekspresi canggung pada wajah Yuri, Sayaka berinisiatif memberinya spasi. Bukan hanya untuk Yuri, namun ia membutuhkan waktu tersebut untuk dirinya sendiri.

Sayaka baru saja membuat keputusan besar, dan ia ingin Yuri menjadi orang pertama yang mendengarkannya.

“Nah, bisakah para pria keluar sebentar? Pasienku sepertinya butuh busana baru.”

.

.

Sensei, kau tidak perlu melakukan ini,” ujar Yuri. Ia telah mengenakan satu set setelan baru; sebuah celana jins ketat dan sweter abu-abu kebesaran.

“Noda darah di bajumu akan sulit hilang. Lagipula aku tak keberatan memberikan sweter ini padamu,” balas Sayaka. Tangannya sibuk membenahi rambut Yuri dan mengikatnya.

“Aku tidak membahas soal sweter, Sensei. Aku… membahas soal konseling. Kurasa kau tak perlu repot-repot melakukannya. Aku punya alasan sendiri yang tak bisa kuberitahukan, terlebih padamu.”

Sayaka tersenyum. “Yang mana?”

“Ya?”

“Karena kau hampir merusak ponsel Satsuku karena foto yang dia ambil, atau karena kau cemburu padaku, alasan yang mana yang kauingin aku tak tahu?”

Kepala Yuri berdenyut, mungkin efek samping dari luka di dahinya, atau bisa jadi karena bagian dalamnya hampir-hampir meledak. Kabar buruknya, Sayaka sepertinya sudah tahu segalanya. Kabar baiknya, Yuri tak perlu berpura-pura lagi.

Sensei…

“Luhan memiliki benda itu,” telunjuk Sayaka menuntun mata Yuri ke sebuah benda keperakan yang tergeletak di atas meja. Keychain miliknya yang sempat ia taruh sesaat sebelum berganti busana. “Sama persis seperti punyamu. Aku tak tahu hubungan seperti apa yang kalian miliki, tapi jelas sekali kalau Sapporo bukanlah tempat kalian bertemu untuk pertama kalinya. Apakah itu Tokyo? Kira-kira dua tahun lalu?”

“Eh?” Yuri tak bisa menolong dirinya sendiri. Tak terlintas sedikit pun pikiran bahwa Sayaka akan menyadari hubungannya dengan Luhan secepat ini. Yah, meskipun mereka tak memiliki hubungan spesial seperti dugaan Sayaka, Yuri tetap tak bisa menyembunyikan fakta bahwa keduanya memang pernah bertemu, dua tahun yang lalu. “Itu…” Yuri berusaha mencari kata-kata yang tepat karena ia tak ingin mengakuinya secara gamblang. Namun, sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Sayaka sudah mengangguk, menyimpulkan sendiri.

“Jadi begitu,” katanya. “Aku bertemu dengan Luhan enam tahun lalu, kemudian menjadi saudara tepat hari ini, dua tahun lalu. Sehari sebelum natal, kami sekeluarga memutuskan pindah ke Sapporo.”

Sehari sebelum natal dua tahun yang lalu?

Dalam benaknya Yuri bertanya-tanya. Pertemuan pertamanya dengan Luhan juga terjadi tepat sehari sebelum natal, dua tahun yang lalu. Ia mencoba mencocokkan fakta yang ada dan menghubungkannya selagi Sayaka meneruskan ceritanya. Yuri tak berani menginterupsi. Tidak, ketika wanita tersebut tersenyum manis selagi terkenang masa lalunya.

“Luhan marah karena keputusan tiba-tiba tersebut dan kabur dari rumah. Aku mengekorinya hingga ke sekolah. Tapi dia mengusirku dengan kasar, marah-marah, kemudian melempariku dengan kerikil. Dia benar-benar berandalan cilik kala itu.”

Sayaka tertawa, renyah sekali sampai-sampai Yuri terpana. Kalau dipikir-pikir lagi, hari itu adalah kali pertama Sayaka tertawa begitu lepas di hadapannya. Tidak seperti senyum-senyum palsu sebelumnya, tawa ini merekah dari hatinya sebagai refleksi kenangan-kenangannya.

“Ibuku berkali-kali menelepon Luhan, tapi ia tak pernah menjawabnya hingga sore menjelang. Ketika ia akhirnya menjawab, ia menangis meminta maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sekolah selama Luhan melarikan diri, tapi hal itu jelas berdampak positif. Sejak saat itu juga perlahan aku melihat perubahan pada diri Luhan, ia juga kerap kedapatan membawa-bawa keychain itu kemana pun ia pergi. Kupikir, pastilah ada sesuatu yang terjadi di sekolahnya dua tahun yang lalu. Dan aku penasaran apakah kau merupakan jawabannya.”

Sejenak, Yuri benar-benar ingin waktu berhenti dan dunia berhenti berputar. Ia ingin sekali diberi sebuah ruang hampa yang isinya hanya dirinya sendiri. Kepalanya masih berdenyut, tapi kali ini ia yakin bukan luka fisik penyebabnya. Isi kepalanya berusaha sangat keras untuk mengingat, barangkali sebuah atau dua buah memori sempat dilupakan olehnya. Yuri sangat ingin mengingat memori suram miliknya dua tahun lalu. Ia sangat berharap tahu segala sesuatu yang sebenarnya. Dan apakah sesuatu tersebut memiliki hubungan dengan permintaan menyakitkan Luhan untuk menunggu.

Tapi,

Waktu tidak bisa dihentikan, dan yang ada di hadapannya bukan Luhan. Terduduk di depannya adalah Shimura Sayaka, seorang kakak tiri sekaligus gadis yang pernah—dan akan terus—dicintai Luhan sepanjang hidupnya, tak peduli bagaimana pun kondisinya. Sekarang satu-satunya jalan keluar adalah memberikan Sayaka jawaban. Menutupinya dengan berdusta tidak akan membenahi apa pun. Malahan, Yuri akan semakin terlihat menyedihkan dan payah.

“Aku pernah bersekolah di tempat yang sama dengan Takegaya-kun, dua tahun lalu. Aku juga menyatakan perasaanku padanya sehari sebelum natal, dua tahun lalu. Aku ditolak Takegaya-kun sehari sebelum natal, dua tahun lalu. Aku pindah ke Sapporo karena permintaan ibuku, akhir desember, dua tahun lalu.”

Sayaka menelengkan kepalanya begitu mendengar jawaban Yuri. Meski tersirat, kini ia tahu bagaimana perasaan Yuri yang sebenarnya.

“Begitu banyak yang terjadi dua tahun lalu, ya?” tanya Sayaka dengan nada ramah. “Lalu bagaimana dengan tahun ini? Ada yang terjadi, Horikita-chan?”

Ada sebuah kuriositas dalam nada bicara Sayaka yang bisa dengan mudah ditangkap oleh Yuri. Meski wajahnya menampakkan raut ceria, Sayaka tetap tak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya dari Yuri. Setelah apa yang dilakukan Luhan padanya di tepi Toyohira tadi, perasaan lawas Sayaka berangsur-angsur kembali. Kini ia merasa menginginkan Luhan lebih dari siapa pun. Dan eksistensi Yuri, membuat perasaan cemburunya berkecamuk. Hal itu terlihat jelas di mata Yuri—ia lebih mengerti perasaan gadis yang mencintai diam-diam lebih dari siapa pun.

Dalam pertanyaannya barusan, Sayaka ingin mengetahui sejauh mana hubungan Luhan dan Yuri saat ini. Ia ingin memastikan bahwa pemuda itu tak memiliki perasaan pada gadis lain selain dirinya. Egois, memang. Tapi bukankah semua wanita itu egois ketika sedang mencintai?

Yuri tahu betul. Dan ia juga paham kalau ia tidak bisa tiba-tiba masuk ke dalam hubungan cinta yang sejak awal memang sudah rumit. Stempel orang asing masih berbekas di dahinya. Ya, Yuri tak tahu apa pun. Ia tak ingin menjadi apa pun.

“Tak ada yang spesial, Sensei. Tahun ini aku ditolak lagi.”

Sayaka nampak terkejut. “Oh, maaf… aku tidak bermaksud…”

“Bukan masalah besar. Orang-orang di sekolah memanggilku Gadis Es dan Queen Elsa bukan tanpa alasan, aku sudah melupakannya.”

“Kau sudah tak menyukainya?”

“Naif sekali kalau aku bilang aku tak lagi menyukai Takegaya. Tapi, aku sudah berhenti menunggunya.”

Kedua manik para gadis tersebut bertukar pandang dalam satu mega sekon, sebelum akhirnya tangan Sayaka memecahkan keheningan dengan gerakan cepat menjawat tangan Yuri. “Aku ingin percaya kata-katamu, Horikita-chan, tapi kurasa kau banyak sekali berdusta. Segala tindakanmu; pertengkaran dengan Satsuku; pembicaraan di Ruang Kesehatan waktu itu; keychain milikmu—segalanya membuktikan kejujuran. Daripada lidah, aku lebih percaya pada mata. Dan kau, bukan tipe orang yang bisa menipuku, Horikita. Aku tidak ingin bersikap jahat padamu, tapi nantinya mungkin saja aku melakukan hal-hal buruk padamu tanpa sengaja. Aku bukan orang baik, tapi aku tahu apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya. Jadi, sebelum terlambat, kusarankan kau segera melupakan Takegaya. Aku menginginkannya, dan aku tak ingin bersaing melawanmu.”

Sebuah timah panas sedang dijejalkan paksa ke Yuri? Bukan, ia cuma sedikit kesulitan bernapas. Apa itu tadi? Ancaman? Bagaimana bisa seseorang yang kelihatannya bijak seperti Sayaka dapat berkata demikian padanya, Yuri tak habis pikir. Lagipula, bukan tempatnya untuk mempertanyakan kebijaksanaan Sayaka. Sekali lagi pepatahnya benar, gadis yang jatuh cinta memang cenderung egois.

Yuri tak berharap ia salah dengar, tapi ia juga tak berharap mendengarnya begitu cepat. Meski begitu apa yang sudah didengarnya tak bisa ia abaikan. Sayaka benar-benar serius ketika mengatakan itu. Ia sudah memutuskan untuk menekan kebenciannya pada Luhan dengan rasa cintanya. Sekarang, Yuri benar-benar tak lebih dari sekadar penonton. Dan biasanya, penonton tak berhak mengubah jalannya cerita.

“Aku mengerti,” sahutnya. Yuri tak ingin kelihatan seperti gelas yang akan pecah. Ia mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menatap kedua mata Sayaka. “Semoga berhasil, Sensei.”

Sayaka dan Yuri lantas sama-sama berdusta; tersenyum satu sama lain. Keduanya masih berpegangan erat seperti sepasang teman lama. Tak ada lagi kalimat yang terucap dari bibir salah satunya, tapi Yuri sudah tahu kalau diam juga merupakan komunikasi. Ia membiarkan situasi itu terjadi sedemikian rupa sehingga rasanya hatinya ingin menjerit.

Kepala Yuri berdenyut lagi.

Tapi kali ini ia tak sendiri.

Jauh di balik pintu sana, seorang pemuda juga merasakan hal yang sama. Ia berdiri kaku bagai seonggok daging tak bernyawa. Fisiknya di sana, tapi jauh di dalam kepalanya, ia mengembara pada memori lawas. Musim dingin, dua tahun lalu, ketika ia meninggalkan seorang gadis di bawah lindungan langit Desember.

Kalimat yang sudah lama dilupakannya mendadak muncul bagai serbuan peluru perang pasifik.

Luhan teringat kembali dosanya.

Bisakah kau menunggu, Yuri?

.

.

Satu hari berlalu begitu cepat.

Hani memiliki tugas tambahan pagi ini. Berbekal informasi dari Natsu, ia bergegas ke rumah Yuri pagi-pagi buta, membantunya untuk bersiap-siap. Hani mengganti perban di dahi Yuri, memasak sarapan, serta meminjamkan beberapa catatannya untuk disalin Yuri selagi Hani sibuk mengurusi beberapa hal lain. Ia benar-benar telah menjadi sahabat yang sesungguhnya bagi Yuri, dan sebaliknya.

“Kau tidak sarapan, Hani?”

“Aku sudah sarapan di rumah. Ibuku membuatkan beberapa potong panekuk.”

“Kau sudah berbaikan?”

“Lebih dari yang kukira.”

“Syukurlah.”

“Terima kasih.”

Tangan Hani tengah sibuk membereskan futon Yuri saat kaki telanjangnya tak sengaja menginjak pecahan kaca. Ia mengaduh kecil, mengundang sebuah tanya khawatir dari ruang tengah. Alih-alih mengatakan yang sebenarnya, Hani berdalih kalau ia menjatuhkan ponselnya. Dibawa rasa penasaran dari mana pecahan kaca itu berasal, Hani tiba di dalam kamar mandi Yuri. Cermin berukuran sedang yang terpasang di dindingnya telah pecah berantakan di atas wastafel, beberapa bahkan terserak di lantai, berhiaskan noda merah hingga ke dekat futon Yuri.

Hani kaget bukan kepalang, pasalnya, cerminnya baik-baik saja saat ia menginap di rumah Yuri sehari sebelumnya. Dilihat dari retakan dan noda merah yang mengering di ujung-ujung kepingan kecilnya, cermin ini belum lama hancur. Paling tidak, sesuatu pasti terjadi pada Yuri semalam.

“Hani, aku sudah selesai,” Yuri memanggil namanya dari ruang tengah. Hani tak ingin merusak suasana pagi ini—karena dipikirnya Yuri tak ingat kondisi kamar mandi pribadi di kamarnya—jadi ia keluar, menyambut Yuri seolah ia tak mengetahui apa pun. Telapak kaki Hani terluka kecil, tapi ia berjalan dengan tegap, tak ingin membuat Yuri curiga apalagi khawatir. Apa pun yang terjadi padanya semalam, Hani merasa ia tak berhak menanyakannya. Pasti ada sebuah alasan penting mengapa Yuri menyembunyikannya, dan Hani memutuskan ia harus menunggu.

.

.

“Kakimu kenapa?”

“Sssh!”

Hani merangkul Natsu, melingkarkan salah satu lengannya di tengkuk Natsu seraya membawanya pelan-pelan menjauh dari Yuri.

“Jangan keras-keras, nanti Yuri tahu.”

Natsu melepaskan lengan Hani dengan jengkel. “Kau bicara apa sih?”

“Nanti aku e-mail. Pastikan ponselmu aktif ya.”

“Ada pelajaran si Botak hari ini. Aku bisa berdiri di koridor lagi kalau melakukan itu.”

“Kau tak akan menyesal, ini soal Yuri-chan.”

Natsu menggigit bibirnya. Sejak ia menyadari perasaannya pada Yuri, hatinya selalu ingin tahu segala sesuatu tentang sang gadis. Tak dipungkiri bahwa ia ingin memilikinya, tapi melihat bagaimana perlakuan Yuri pada Luhan, dan perasaan Luhan yang belum jelas, Natsu berusaha menekan keinginan itu dalam-dalam. Tanpa kehadiran dirinya saja, Yuri sudah tenggelam dalam masalahnya sendiri. Ia tak ingin gadis yang ia cintai jatuh ke dasar kegelapan, jadi sementara, ia memilih berdiri di tepian memegangi pelampung.

Namun jika ada yang bisa ia ketahui, dengan senang hati Natsu akan melakukannya.

“Baiklah, jelaskan tanpa melewatkan satu detil pun.”

.

.

Suasana kelas menjadi sangat suram sejak Satsuku Aoda lebih memilih diam seribu bahasa ketimbang bergunjing seperti biasa. Ditambah lagi, ia selalu menghindari kontak mata dengan Yuri dan Luhan di setiap kesempatan. Hal itu mau tak mau menarik perhatian Hani. Ia melaporkan segala sesuatunya kepada Natsu dengan harapan mendapatkan penjelasan setimpal atas informasi yang diberikannya sebelumnya.

Natsu memang bukan pendongeng yang baik, tapi penjelasannya lewat pesan surel singkat dirasa Hani lebih dari cukup. Setidaknya ia tahu apa yang terjadi di antara Satsuku Aoda dan Yuri, juga mengapa Luhan hari ini tak sekali pun bergerak dari kursinya.

Sejak Yuri berkata bahwa ia pernah menyukai Luhan, mata Hani otomatis bergerak memerhatikan interaksi dua orang tersebut. Ia memikirkan sebuah kejutan dalam hubungan mereka; seperti tiba-tiba Luhan menyatakan cinta pada Yuri atau sebaliknya, namun tiada hal spesial yang terjadi. Ketika keduanya—ditambah Aoda—pergi mengunjungi konseling Yamada Sensei, Hani diam-diam berharap sesuatu terjadi di sana. Ia memanjatkan sebuah doa licik yang isinya kira-kira agar Yuri dengan tak sengaja mengungkapkan perasaannya pada Luhan sekali lagi. Naif dan konyol, jelas sekali itu tak terjadi.

Sekembalinya dari konseling singkat, baik Luhan, Yuri maupun Aoda tak terlihat berubah sama sekali. Oke, ada sesuatu yang terjadi pada Aoda dan Yuri di halaman belakang sekolah ketika istirahat tiba, tapi karena Hani tak tahu apa isi konversasi mereka, dianggapnya itu bukan merupakan sebuah perkembangan bagus.

Hani benar-benar kecewa.

Setelah apa yang ia lihat di rumah Yuri, pikirannya jadi tertular suram. Ia ingin melubangi kepala Yuri dan memberinya cahaya matahari, tapi nampaknya gadis itu memang sudah terbiasa membuka mata esnya di dalam kegelapan.

Hani punya banyak cara bagus untuk diterapkan, tapi ia tak punya solusi bagi gadis penyuka galaksi yang membenci mentari.

.

.

Yuri memutuskan bahwa atap sekolah adalah tempat perhentian ideal setelah pertemuannya dengan Aoda di halaman belakang usai. Agak mengejutkan ketika Aoda meminta maaf duluan pada Yuri padahal kalau dipikir-pikir, Yurilah yang lebih dahulu mencari perkara. Aoda sama sekali tak membahasnya, malahan ia berulang kali menangis dan meminta maaf atas apa yang dilakukannya kemarin. Tanpa diminta, ia juga bahkan berjanji akan menjaga apa yang terjadi kemarin sebagai rahasia.

Melihat sepak terjang Aoda, Yuri tak yakin ia bakal memegang janjinya, tapi sang gadis selalu percaya pada air mata. Menangis adalah cara alami menutupi luka, dan sepertinya Aoda cukup terluka dengan menangis histeris di hadapan Yuri.

Yuri tak bisa melakukan apa pun selain bertindak sebagai seorang pemaaf, meski ia tidak tahu apakah ia sudah benar.

Untuk memikirkannya, ia memutuskan menyendiri di atap sekolah. Di musim dingin seperti ini, tak banyak murid yang mau mengunjungi tempat itu. Terlebih, kadang pintu penghubungnya dikunci rapat oleh pihak sekolah karena alasan keamanan. Yuri sudah menghapal jadwal-jadwal harian petugas kebersihan yang bertugas membersihkan atap sekolah dari tumpukan salju, dan hari Senin, merupakan hari pertama di minggu ini di mana pintu ke atap dibuka.

Sesampainya di atap, Yuri memilih sebuah tempat teduh di dekat bangunan penopang toren. Ia duduk di sana tanpa menyadari bahwa di balik sebuah sisi ruang segi empat tersebut, seorang pemuda tengah merenung menekuk lututnya. Keduanya saling memunggungi, dibatasi oleh dinding yang tak cukup tebal untuk menyembunyikan deru napas kedinginan masing-masing.

“Apakah itu kau, Yuri?” tebak sang pemuda.

“Kau tak punya tempat lain ya, Takegaya-kun?”

Luhan menarik kedua sudut bibirnya ke atas, meski sudah pasti usahanya tak akan terlihat oleh sang gadis.

“Aku suka atap sekolah,” sahutnya.

“Itu bagus, areaku menjadi semakin sempit,” balasnya sarkastik.

“Bukankah dengan rok sependek itu kau akan kedinginan?”

“Aku Queen Elsa, ingat?”

Luhan terkekeh kecil. Tentu saja tak sampai kedengaran oleh sang gadis. Ia masih menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengannya yang dilipat. Meski tak ada seorang pun di sisi dan kanannya, ia enggan mengangkat kepalanya. Luhan takut memandang kedua langitnya; langit sungguhan, dan seorang gadis di balik tembok. Ia tak memiliki keberanian tersisa untuk mengetahui apa yang terjadi setelah kemarin.

Semoga berhasil, Sensei.

Lucu sekali jika faktanya Luhan terganggu dengan kalimat kecil itu. Ia tak sungguh-sungguh tahu bagaimana menjelaskan perasaannya, tapi ada sebuah ganjalan besar di dalam otaknya, terus-terusan mengatakan bahwa ia tak menginginkan kalimat itu diucapkan oleh Yuri. Hatinya tercacah, sebanyak pikiran kusut yang membayangi langkahnya hari itu. Luhan mencintai Sayaka sejak lama, bahkan sebelum ia bertemu dengan Yuri, tak ada yang bisa mengubah fakta tersebut. Lantas mengapa ia tak sepenuhnya setuju jika Sayaka mengkronfontir Yuri seperti kemarin? Mengapa ia merasa sangat marah dan kecewa pada Sayaka ketika harusnya ia senang bahwa Sayaka menginginkannya?

Luhan tak mengerti dirinya sendiri.

“Bel sudah berbunyi. Kau berencana untuk membolos?” tanya Yuri.

“Kurasa begitu. Kau tidak?”

“Aku menghindari Satsuku untuk saat ini. Jadi, kurasa aku akan membolos sebentar.”

“Bukankah kau sudah berbaikan dengannya? Permasalahan soal foto tidurmu yang memalukan sudah dihapus bukan?”

Yuri hampir lupa. Ia dan Aoda sepakat berdusta perihal permasalahan mereka kemarin pada Yamada. Orang-orang yang hadir di sana berhasil dikelabui, terkecuali Sayaka—dan Natsu, andai Yuri tahu.

“Satsuku-san menangis minta maaf di depanku. Aku tak bisa melihatnya dari sudut pandang yang sama setelah ia menangis seperti itu. Daripada aku melakukan kesalahan, kupikir aku lebih baik menghindar agar ia tak merasa terlalu bersalah.”

Luhan tertawa hingga kekehan itu terdengar nyaring di telinga Yuri.

“Kalau menghindar, kau ahlinya,” katanya. “Beberapa waktu yang lalu juga kau sangat lihai menghindariku.”

Yuri menutup hidungnya. Hawa dingin berhasil menarik cairan keluar dari hidungnya. Sang gadis berusaha membenahinya dengan meniup-niupkan udara dari mulutnya untuk menghangatkan udara di sekitar wajahnya. Tidak terlalu efektif, tapi cukup untuk bertahan beberapa menit lagi.

“Aku menghindar karena aku tahu jawabanmu. Aku hanya tak ingin mendengarnya.”

“Konyol sekali,” balas Luhan. “Kau tahu jawabanku sementara aku sendiri belum tahu. Kau bisa meramal masa depan?”

Yuri menggosok-gosok kedua telapak tangannya sebelum bicara. “Tindakanmu terlalu jelas, kau mencintai Sayaka Sensei. Tak ada yang akan mengubahnya. Lagipula saat itu kau memojokkanku, wajar jika aku menjadi sangat emosional.”

Aku hanya ingin memastikannya, bukan memojokkanmu.

“Begitu?” Alih-alih mengatakan apa yang ada di pikirannya, Luhan malah mencibir sang gadis. “Perasaan seorang gadis memang mudah sekali berubah ya?”

“Hanya pria bodoh yang menganggap seorang gadis bisa bertahan pada satu pria untuk waktu yang lama,” sahut Yuri dingin.

“Tapi kenapa aku merasa kau berdusta? Barusan dusta kelimamu, lari dari masa lalu.”

Yuri ingin tertawa, tapi rasa dingin membuat pipinya beku. Pahanya sudah kesemutan akibat duduk dalam posisi terlipat terlalu lama. Ia ingin berdiri dan pergi ke tempat yang lebih hangat, tapi konversasi Luhan begitu menariknya hingga ia ingin tinggal lebih lama mengesampingkan rasa beku yang mulai menjalari seluruh tubuhnya. Dahinya yang masih terluka akibat insiden kemarin, dan buku-buku jemarinya yang memar akibat memecahkan cermin tadi malam, kini sudah tak terasa perihnya. Kulitnya mati rasa.

“Kau punya kebiasaan buruk untuk menghitung setiap dusta orang lain ya, Takegaya-kun?”

Luhan meluruskan kedua kakinya. Kepalanya sudah terangkat dari sana, ditunjukkan jelas pada butir-butir salju yang turun melewati helaian rambutnya. Ia membuka telapak tangannya, teringat sebuah memori salju pertama di bulan Desember, dua tahun lalu.

Bisakah kau menunggu, Yuri?

“Aku juga punya beberapa kebiasaan buruk lagi; jarang mandi, jarang mengerjakan tugas, jarang makan malam. Yang paling buruk, aku seringkali melupakan janji penting yang kubuat sendiri.”

Yuri menengadah sesaat setelah ia mengganti posisi duduknya. Kini ditekuknya lutut dengan kedua tangan sebagai pengikat. Ia melebarkan syalnya untuk menutup bagian-bagian terbuka dari kedua kakinya agar tak kedinginan. Senyumnya merekah tipis di balik helaian rambutnya. Ia enggan mengakuinya, tapi Luhan benar.

Bisakah kau menunggu, Yuri?

“Ya, kau memang seorang pemuda berengsek yang gampang sekali melupakan janjimu.”

.

tbc

 



Maaf kelamaan gak muncul, enjoy!

nyun

42 thoughts on “Youniverse [12 of ?]

  1. Lulu KEG berkata:

    hahaha kak Nyun aku udah jingkrak jingkrak.. :’v aku nungguin mpe setaun loh eh yang di publish part 11 juga.. hahaha ah kak Nyun becanda nih #plakk :v :v tetep di tunggu pkoknya kak part 12 nya!

  2. Hara_Kwon berkata:

    Kak nyun, cerita ini bukannya part 11 ya?
    Ini kan sudah dipublish dichapter sebelumnya?
    Kok part 12 nya ini lagi?
    Ditunggu konfirmasinya kak

  3. gita saraswati berkata:

    kaknyunnnnnnnnnn 💕💕💕💕💕
    ini keknya part sebelumnya wkwk
    yaa sekalian mebgingat kembali kak
    aku tunggu part 13nya
    makasih udh balik lgi kaknyun

  4. Lulu KEG berkata:

    Akhirnya keluar juga, Makasih banyak kak Nyuun.. :’)
    ini nih Huaaaa gk bisa bilang apa apa,, Keren dan beraat banget, jadi Luhan nya udah mulai suka kan sama yuri? yay ikuti kata hatimu nak jangan Sayaka pengen Yuri pengen dong ah Luhan mah😥 ((merasa jadi Horikita yang tersakiti))/abaikan/
    noh Yuri malah nyakitin dirinya sendiri. kaget juga Sayaka ngancem Yuri,, emang bener wanita jatuh cinta tuh bisa Egois pake banget haha:/ aura gk ngenakin dari Sayaka mulai keluar nih makin seruuu ah
    aseek abis ini YulHan momen lagi kan kak Nyun?? hehe ditunggu bgt kelanjutan nya!
    okok segitu aja komen gazenya*((maafkan)) dan makasih banyak kak part 12 nya.. aku mah gk bosen nunggu lah kaya Yuri, tp tetep jangan lama2:(
    sekali lagi Terimakasih^^

  5. Ckh.Kyr berkata:

    Antar kesal dan setuju sama tindakan Sayaka. Kesal karna dia bilang ‘gitu’ ke Yuri dan setuju karna aku melihat dari sudut pandang Sayaka sekaligus aku sendiri mungkin ya xD
    Tapi Luhan, sedikit-sedikit udah mulai sadar sama perasaannya.
    Kasihan sama Natsu, berasa kaya di gantung.
    Hani sahabat yg baik banget.

  6. mellinw berkata:

    Duh sayaka ini sebenernya gimana siiiiiih, hiks hiks. Complecated bgt deh perasaan mereka kak..

    Luhan udh mulai menyadari ada yg salah di diri dia kepada yuri kaaan, hmm
    Akhirnya dia inget juga soal janji itu wkwk
    Yuri udh makin dingin aja dibuatnya wkwk

    Semangat kakak, ditunggu selalu kelanjutannya,😀

  7. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    wah kak nyun, sempet salah teknis kemarin, jadi aku nunggu kakak benerin dulu baru baca deh, hehe.. yuri nya kayanya tersiksa batin banget, secara ga langsung sedikut di ‘ancam’ sama sayaka.. semoga luhan menyadari perasaan sesungguhnya itu buat siapa, ditunggu selalu kak kelanjutannya^^

  8. gita saraswati berkata:

    ih sayaka tarik ulur banget sih 😒😒😒
    luhan juga labil banget wkwk
    di part ini scene natsu sama yuri dikit wkwk
    tapi scene yulhan bikin greget 😤😤😤
    rasain tu luhan, yuri perlu balas dndam sama luhan. buat dia meminta dan mengejarmu wkwk
    baru kamu terima wkwk

    akhirnya penantianku untuk oart ini terbayar walaupun makin penasaran wkwk
    kaknyun bisa gaa sifat yuri yg males belajar tu diubah? wkwk

    aku tunggu part selanjutnya
    fighting kaknyun !!😍😍😍

  9. dindavanesaja berkata:

    Wow! Kak Nyun keren! Bisa memperbaiki kesalahan membuat cerita dlm satu waktu👏 oya, btw kak. Di part ini aku jdi kesel banget ama sayaka. Next partnya aku berharap semoga fast publish ya *Amin* kak, ngomong² aku kasih usul ke kaka loh di page curious tinkerbell. Aku berharap bisa memperhitungkan usul aku. Yaa, sebenernya aku jg neminta kaka untuk membuat ff request-an aku. Tapi, aku gabisa maksa kaka jg 😀

  10. ziah berkata:

    eheehh ada kesalahan teknis ya kak ..
    yah moment natsu yurinya dikit, tambahai lg donk kak trus bikin luhan yg ngejar2 yuri.. kasian yuri .. buat luhan jg sadar ama perasaannya yg sbnernya, abis labil bgt luhannya .. trus bikin yuri jd cuek ama luhan yaa #banyak amat permintaan inih hahaahah
    baiklah d tunggu part selanjutnya ya ..

  11. chy23 berkata:

    Sumpah greget banget ama Luhan yang masih bingung gimana perasaan dia sebetulnya ke Yuri dan Sayaka :”
    Belum lagi Sayaka yang memutuskan buat cinta lagi sama Luhan, kan bikin Yuri ada saingan dan bikin Yuri makin kacau aja dengan ancamannya yang bener2 bikin pengen dibunuh😄
    Natsu-Yuri momennya dikit coba :” kusedih melihat merekaaaaa. Sama2 bertepuk sebelah tangan. Udahlah, jadian sonoooo *eh
    Knp si Aoda tiba2 berubah lembek gitu ya? Haha tapi bagus sih supaya mulut kasarnya itu bisa di rem sedikit dan Yuri ga perlu untuk ngakuin kejadian sebenarnyaaa😄

    Finally chapter 12 setelah berseliweran tak jelas ke semua blog, emang kaknyuuun paling dabest lah ff nyaaa! Patut ditunggu part 13 nya nih yang entah mengapa aku rasa ff ini bakal panjang banget! Bagus banget kak kalau dijadiin novel. Pasti Best Seller :)))
    Semangaaat ngelanjutinnya kaknyuuun :))

  12. nalyyullie berkata:

    So yul already decide to forget luhan..
    Why yul break that mirror??
    Luhan still confuse with his feeling..
    Sayaka directly told yul to give up about luhan..
    Natsu such a good friends for yul…
    Thanks for the updated ^^
    Can’t wait for the next updates ^^

  13. iamlincyi berkata:

    Halo kaknyun. Ini aku lintang. Masih inget kan? Jangan lupain aku ya kyk si luhan yang katanya lupain janjinya.
    Sialnya aku kelupaan pw wordpress jadi gak pernah nengok2 lagi wordpress. Dan baru nyesel sekarang karena baru baca ini cerita, what a wonderful story.
    Udah jarang baca ff abis baca ini aku pengen nangis masa. Wah, betapa aku merindukan tulisanmu kak, rindu yuri dan juga rindu nulis.
    Maafkan aku ya kak karena gak kasih komentar yang layak, soalnya aku belum tau jalan cerita nya nih. Aku ga bisa janji nongol di komentar part yang lain sih kak (takut udah janji malah gak ditepatin nih kyk yang udah2 hehe) tapi aku pasti balik karena cerita romance kyk gini nih yang pasti nagih buat dibaca. So, see you and keep writing kak!❤

  14. Lintang Cahyani (@iamlincyi) berkata:

    Halo kaknyun. Ini aku lintang. Masih inget kan? Jangan lupain aku ya kyk si luhan yang katanya lupain janjinya.
    Sialnya aku kelupaan pw wordpress jadi gak pernah nengok2 lagi wordpress. Dan baru nyesel sekarang karena baru baca ini cerita, what a wonderful story.
    Udah jarang baca ff abis baca ini aku pengen nangis masa. Wah, betapa aku merindukan tulisanmu kak, rindu yuri dan juga rindu nulis.
    Maafkan aku ya kak karena gak kasih komentar yang layak, soalnya aku belum tau jalan cerita nya nih. Aku ga bisa janji nongol di komentar part yang lain sih kak (takut udah janji malah gak ditepatin nih kyk yang udah2 hehe) tapi aku pasti balik karena cerita romance kyk gini nih yang pasti nagih buat dibaca. So, see you and keep writing kak!❤

  15. afifahcaku berkata:

    Oh kemaren sempat salah teknis.. aku kira aku yang salah baca..hehe
    Sayaka kok gitu sih? Apa sayakan juga pura2?
    Aduh luhan lagi pakai dilemma segala
    Kalau gitu natsu aku mendukungmu..ayo kejar yuri
    Udah yuri sama natsu aja kan bisa jadi keluarga juga sama hani..hehe
    Srmangat kak nyun! Kak nyun selalu keren deh

  16. Cynthia berkata:

    Sayaka jahat banget.. Benci deh…
    Luhan gege plinplan banget.. Gemes dehh..
    Yuleon kasian banget😥
    Hani eonni semangat deh buat yuleon gak kesepian dan mau jadi yg dulu yg baik dan cerdas lagi..
    Ayo kak nyum segera diterusin ceritanya ya…
    Penasaran banget..😀

  17. joohyun berkata:

    Akhirnya setelah sekian lama…😀
    Wadaw gk nyangka Sayaka beneran ingin memiliki luhan.. Pake ngancam yuri pula._.
    Luhan sih jadi orang rumit banget.. Labil maksimal wkwk~
    Kak nyun, yulhan nya bikin gemes nih.. Kapan nih mereka official? Kkk~😀
    Gpp lah.. Makin nggemesin makin seru untuk diikuti🙂

  18. imaniarsevy berkata:

    akhirnya update juga kak nyun….
    hehehehe… makin pelik aja nih konfliknya..
    luhan juga suka sama yuri ya?
    duh ga nyangka banget sayaka jadi kaya gitu, egois banget.
    natsu tetep yang terbaik…
    aduh, makin penasaran kak nyun… nect ya.. toz juga..

  19. vialee945 berkata:

    Luhan ini gak peka sama perasaan nya sendiri loh.. kesel gemes pengen cubit masaa
    Kok sayaka gitu ? Aku kira dia cewek dewasa yg baik hati. Ternyataaaaaa topeng nya sudah di buka. Ehmm 😓
    Aku suka natsu yuri tapi di part ini nda ada moment mereka😦
    Ditunggu part selanjutnya kak nyun 🙂

  20. zcheery berkata:

    aku mulai bosan sama yulhan ini..
    udahlah yuri sama natsu ajaaa hahaha
    hmm is it me or cara nulisnya kanyun mulai berubah? aku merasa jadi narator berbahasa baku hahaaha well tapi masih bagus as always kok kanyun, well donee :)))

  21. NITA kyuri berkata:

    sayaka suka sama luhan??..wah pantesan luhan lupa ma janji.x tenyata org.x memang pelupa,ckck..udah dech yul onni ma natsu aja,daripada d.gantungin mulu ma luhan..next fighting onni..

  22. lalayuri berkata:

    Kak Nyunn, aku selalu ketinggalan postnya kak Nyun, tpi semua ff kak Nyun bener” bikin penasaran. Aish Sayaka labil gitu deh, kasihan yurinya, luhan juga sadar dong kalau dia tuh sukanya sama yuri. Endingnya yulhan ya kak. Walaupun luhannya labil tapi gak rela kalau pairing utama di ff itu gak bersatu. Oia kak Nyun aku mau nanya soal kelanjutan ff the sorcerer’s diary, kapan dilanjut ya kak ? Penasaran banget nih kak, banyak banget masalahnya yg belum terungkap. Kalau gitu aku ke next part ya kak

  23. Retha Lee berkata:

    sayaka endak boleh gitu dong. jahat banget dehh.
    its not ending its begining *halahripenglish
    kayaknya konflik percintaan ini mulai panas-panasnya deuh.
    keepwritingdeh kaknyun

  24. lizanining berkata:

    Eigu eigu gemesin bgt sih pas d rooftop 😍
    Adegan d rooftop itu bisa dibilang bahagia ga kak? Kok aku bacanya jf ikutan senyum. Mwehehehhe
    Lanjut ke 13~~~

  25. Puput berkata:

    Akhirny im back yuhuu, setelah hampir setengah tahun jarang buka hp karena un kls 9. Penasaran gimana kelanjutannya wkkwk

  26. yayarahmatika berkata:

    Aaaa jengkel dan jleb banget pas sayaka bilang ke yuri kalau dia suka luhan. Dan sekarang luhan baru ingat sama janji nya, gimana natsu kalau nanti luhan balik ke yuri?

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s