Youniverse [13 of 18]

Youniverse

a story by bapkyr

“Do not interfere someone’s personal space unless you want to live there forever.”

21 Desember 2015.

“Horikita-san, nilai-nilaimu tidak bisa kutolong,” Yamada menyerahkan beberapa lembar kertas dengan nilai merah yang tercetak di atasnya, lengkap dengan berbagai pesan bermuatan kritik yang diekori puluhan tanda seru. “Absensimu juga, aku menyerah denganmu,” keluhnya.

Yamada melepaskan kacamatanya saat ia mengembuskan napas dengan kencang. Ia menarik tubuhnya untuk bangkit dan memandangi gadis yang kini berdiri dengan kepala tertunduk padanya. Selain kertas-kertas ujian dan rekap absensi, di tangan Yuri tersemat sebuah amplop putih panjang. Amplop putih tersebut enggan Yamada serahkan pada Yuri awalnya, akan tetapi sejak usahanya meyakinkan kepala sekolah tak berhasil, ia tak punya pilihan.

“Berikan itu pada ibumu. Usahakan ibumu datang sebelum natal, aku tidak bisa membantumu lagi. Katakan ini soal administrasi.”

“Apa aku akan dikeluarkan?” tanya Yuri tak begitu antusias. Yamada menangkap bahwa Yuri sudah memprediksi hal ini sejak awal.

“Tidak, mungkin cuma teguran. Aku bisa membantu menjelaskan soal nilai-nilaimu, Horikita-san tapi pihak sekolah mengaitkannya juga dengan masalah finansial. Kalau sudah begini orang tuamu harus datang dan menjelaskan. Kau tidak akan dikeluarkan kecuali kau melakukan sesuatu yang kelewat batas.”

“Oh,” respons Yuri singkat. Gadis itu masih berdiri mendengarkan beberapa patah wejangan tambahan dari Yamada, namun asal tahu saja, pikirannya sudah tak berada di tempat yang seharusnya. Sang gadis tengah memetakan kemungkinan-kemungkinan buruk ketika mimpi buruknya soal berhenti sekolah membayangi masa depannya.

Yuri tahu bahwa apa yang ia lakukan suatu saat akan menuai hasil yang buruk baginya, tapi ia tak menyangka ‘panen’-nya bisa lebih cepat datang dari apa yang ia perkirakan. Meski ia tak terkejut, tetap saja segalanya belum bisa ia cerna dengan akal sehat. Satu-satunya hal yang bisa Yuri lakukan adalah memandangi amplop putih di tangannya, dan memastikan ibunya datang entah bagaimana ke Sapporo sebelum Natal tiba.

.

.

Yuri memutuskan untuk mengesampingkan persoalan pribadinya tatkala Hani datang dan bercerita soal betapa buruk harinya. Masa-masa ujian sudah selesai, yang masih tertinggal hanyalah setumpuk tugas susulan bagi mereka yang mengulang beberapa pelajaran tertentu dengan batas hari terakhir pengumpulan lusa. Hani sangat cemas dengan tugas-tugasnya, tapi Yuri, yang memiliki hampir dua kali lipat tugas Hani, sama sekali tak merasa tertekan. Bicara jujur, ia bisa menyelesaikannya kapan saja kalau ia mau. Masalahnya, ia sama sekali tak ingin melakukan apa pun sampai Natal tiba.

“Oh, Yuri-chan, aku baru ingat,” Hani menangkap tangan Yuri, membuat sang gadis lekas-lekas melempar pandang bingung. “Jangan marah ya.”

Yuri memiringkan kepalanya, “Marah? Soal apa?”

Hani melepaskan tautan tangan mereka untuk meraih kakinya hingga sejajar panggul. Hani melepaskan sepatu dan kaus kakinya, lantas menunjukkan sebuah luka yang telah dibalut plester pada Yuri.

“Kau terluka?”

Hani mengangguk, “Terinjak pecahan kaca,” ia menelan ludahnya sebelum melanjutkan, “Di kamarmu kemarin.”

Biasanya Yuri tak terlalu peka pada hal-hal yang masih belum jelas maksudnya, tapi mendengar Hani mengucapkannya dengan ragu dan berhati-hati, tahulah ia bahwa gadis itu sedang berusaha mengorek kebenaran darinya.

Yuri mengembuskan napasnya hingga asap dingin mengepul dari mulutnya, terbang jauh ke udara dingin di atap sekolah.

“Siapa saja yang tahu?”

“Aku memberitahu Natsu-kun…”

Lagi-lagi Yuri mendesah. Sangat salah menceritakan segala macam rahasia gelapnya pada seseorang seperti Hani, tapi ia merasa tidak benar jika berdusta padanya. Sejak malam ketika Hani menangis di depannya, Yuri sudah memutuskan bahwa kepada Hanilah dirinya mungkin akan lebih banyak membuka diri. Meski ia tak yakin Hani bisa mengerti, tapi setidaknya ia tak ingin hidup dalam banyak sekali kebohongan padanya.

“Malam itu, aku memecahkannya,” jawab Yuri singkat. Netra hitamnya diarahkan sang gadis ke langit yang gelap. “Aku sedang kesal. Rasanya setiap orang telah menyedot energiku hingga habis. Yang terpikir olehku saat itu cuma amarah. Saat aku sadar, pecahan kaca itu sudah terserak di sana.”

Yuri tak berani berpandangan langsung dengan Hani, tapi ia tahu apa yang gadis itu lakukan. Cepat-cepat Yuri berkata, “Tapi segalanya sudah lebih baik sekarang, aku sudah lebih kuat.”

“Tapi jiwamu mengatakan tidak,” balas Hani. Gadis itu menepuk pundak Yuri beberapa kali sebelum bicara kembali. “Jiwamu rapuh tapi kau tidak mau mengakuinya. Luka fisik adalah caranya untuk menyadarkanmu bahwa kau sama sekali tidak kuat. Luka fisik adalah cara jiwamu bicara padamu.”

Hani menjawat lengan Yuri. Meski lukanya sudah hampir sembuh, garis-garis merahnya masih berbekas jelas di sana, menarik atensi Hani sepenuhnya. Gadis itu tak lebih tinggi dari Yuri, juga tak lebih dewasa darinya, namun Hani bisa menjadi siapa saja yang Yuri perlukan di saat-saat seperti ini. Ia bisa menjadi teman, dan seorang dokter yang sangat baik.

Ditatapnya Yuri dalam-dalam sebelum ia melepaskan tangan penuh luka itu pelan-pelan. “Apa yang jiwamu coba katakan adalah,” matanya menusuk ke dalam relung hati Yuri, membuatnya bergetar dan tak terkendali. “Kau masih menyukai Takegaya-kun.”

Sebagai seseorang yang dianggapnya rapi dalam menyimpan rahasia, tentu saja Yuri sangat terkejut mendengarnya dari Hani. Kemudian pertanyaan-pertanyaan klise muncul begitu saja di otaknya, dari mana Hani tahu? Bagaimana ia tahu? Apakah aku terlihat sangat jelas? Siapa lagi yang tahu?

Pada akhirnya semua pertanyaan tersebut terjawab setelah Hani tersenyum sedikit sambil melemparkan sebuah pernyataan mengejutkan. “Natsu menceritakan yang sebenarnya padaku: perselisihanmu dengan Satsuku, hubungan Sayaka Sensei dan Takegaya-kun, perasaanmu pada Takegaya-kun, juga…” Hani berdeham. “Perasaan Natsu-kun padamu. Ia menjelaskan segalanya.”

Hani menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari menggerak-gerakkan kakinya untuk mengusir hawa dingin. “Aku sudah mengerti, Yuri-chan. Yang tidak kumengerti cuma perasaanmu dan kenapa kau bersikeras berdusta pada dirimu sendiri.”

Yuri tak ingin menjawab. Bukan lantaran ia masih ingin bersikukuh dengan keyakinannya, hanya saja ia tak tahu cara menjelaskan sebuah perasaan yang ia sendiri tak mengerti. Sebagaimana keahliannya, yang ia lakukan hanya diam. Yuri menutup mulutnya rapat setelah ia tersenyum sedikit. Diolahnya seluruh kalimat Hani di dalam kepalanya sebagai sebuah pemberitahuan belaka. Yuri tidak bodoh, ia tahu bahwa Hani memintanya untuk menetapkan hati, tapi ketika jiwanya meneriakkan sebuah ‘ya’, hatinya menolak.

Terbayang di dalam kepalanya adalah sosok gadis muda yang memandangnya penuh harap, seolah jiwanya hanya digantung oleh seutas tali yang bisa diputus kapan pun oleh Yuri. Dalam bayangannya itu, bibir sang gadis muda bergerak patah-patah, menyuarakan pikirannya dengan bimbang dan penuh penyesalan.

“kusarankan kau segera melupakan Takegaya. Aku menginginkannya, dan aku tak ingin bersaing melawanmu.”

Perang bukan sesuatu yang menyenangkan, apalagi berlangsungnya di dalam dirimu sendiri. Namun begitu, Yuri berusaha mengendalikan emosinya. Air matanya sudah mengering, ia tak bisa lebih terluka lagi.

“Ah, saljunya semakin lebat. Sebaiknya kita pulang sekarang.”

“Kauyakin? Katanya kau ingin bicara soal undangan—“

“Aku akan menelepon ibuku.”

“Aku akan membantu,” Hani bersikeras.

“Tidak, tidak usah. Aku akan berusaha sendiri, lagipula aku sudah merepotkanmu terlalu banyak.”

Yuri menatap Hani dengan sebuah senyum palsu yang ia tambahkan di wajahnya. Sejemang kemudian ia menjawat lengan sang gadis, “Ayo pulang.”

.

.

Salah jika Yuri berpikir bahwa Hani adalah satu-satunya yang mendengar pembicaraan utuh keduanya di atap sekolah barusan. Karena Natsu, sebenarnya sudah berada di sana terlebih dahulu secara tak sengaja. Ketidaksengajaan tersebut membawanya bersembunyi di belakang bangunan toren air, tempat Yuri biasa merenung.

Natsu memikirkan segala cara untuk mencerna setiap kata yang diucapkan Yuri pada sepupunya, tapi tak lama. Sebab sesaat setelah itu ditengadahkannya kepala ke atas seraya menyelidiki keberadaan eksistensi yang sudah ia sadari sejak awal.

“Masih di sana, Takegaya-kun?”

Yang dipanggil bergerak kecil, kepalanya melongok ke bawah, agak terkejut kehadirannya diketahui.

“Bagaimana kautahu aku di sini?”

“Hanya sebuah firasat sinting.”

Luhan memetakan sebuah senyuman kecil yang buru-buru disembunyikannya kembali. Ia menarik dirinya lebih dekat ke tabung toren sembari menyandarkan punggungnya di sana. Hawa dingin yang sedari tadi menusuk kulitnya tak menyurutkan niat Luhan untuk memandangi langit mendung hari ini. Entah kesialan atau keberuntungan yang membuatnya mendengar semua percakapan dua gadis barusan.

“Aku ingin bicara banyak denganmu, tapi biasanya pria tidak suka basa-basi. Kupersingkat saja agar kau mengerti,” Natsu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Langkahnya membawanya menjauh dari dinding toren, membiarkan Luhan duduk di atasnya sendirian. “Jika kau tak bisa menyembuhkannya, aku yang akan melakukannya.”

Luhan mengerti tapi ia tak ingin dinilai demikian.

“Apa yang kaubicarakan?”

“Kita berdua sudah mengerti soal apa ini. Ingat saja kata-kataku.”

Natsu melenggang pergi dengan cepat, meninggalkan sesosok pria yang kini merapatkan tangannya demi mengusir hawa dingin. Hidungnya merah, senada dengan matanya. Luhan menyembunyikan wajahnya di antara lengan saat beberapa tetes air turun dari pelupuk matanya.

“Dingin sekali Sapporo… mataku jadi perih.”

.

.

“Tidak terlalu penting. Oke, aku mengerti. Aku akan menyampaikannya ke Yamada Sensei besok. Terima kasih sudah menjawab teleponku, Bu. Selamat malam.”

Yuri memandangi layar ponselnya yang sudah gelap. Nama ibunya sudah tak tertera di sana tapi suaranya masih terngiang-ngiang di telinga.

“Maaf, Yuri-chan aku ada pekerjaan sampai Natal nanti.”

Sang gadis sudah memperkirakan bahwa ibunya tak akan pernah bisa datang dengan undangan mendadak seperti ini. Jadi, ia berkata bahwa undangan tersebut tak terlalu penting, semata agar sang ibu tak merasa bersalah lebih banyak dari yang seharusnya. Orang-orang mungkin mengecap ibunya sebagai seorang wanita tua yang tak bertanggung jawab, tapi justru bagi Yuri adalah kebalikannya. Ibunya tak pernah bertindak tanpa alasan. Jika ada yang membuatnya tak bisa datang ke Sapporo sekarang, Yuri bisa memahami hal tersebut.

Kini sang gadis mulai menggerakkan kaki-kakinya agar tidak beku. Sekembalinya ia dari sekolah beberapa saat yang lalu, Yuri tak memilih rumah sebagai perhentiannya. Alih-alih sebuah bangku kayu licin yang penuh salju menjadi tujuannya. Ia mendudukkan pantatnya di sana meski segera saja roknya basah. Tempatnya duduk merupakan titik yang tepat untuk mengawasi Toyohira dari kejauhan. Riak airnya terlihat tenang dari sana, memandu banyak salju terlarut ke dalamnya menjadi cairan bening. Saat ia kecil, sungai yang perlahan beku seperti ini bukan merupakan tempat favoritnya. Selain dingin, tempat-tempat seperti ini biasanya tak banyak dikunjungi.

Dulu, Yuri sangat benci tempat-tempat sepi. Sekarang, Yuri menyukainya.

Lagipula tempatnya beristirahat sekarang tak begitu jauh dari rumahnya. Seandainya hujan salju memburuk, ia bisa berlari untuk berlindung.

“Horikita Yuri, kau pasti telah melakukan hal buruk di kehidupan lamamu,” keluhnya pada diri sendiri.

Ia mengepalkan sebuah bola salju kecil dan melemparkannya ke depan dengan kencang. Setelah beberapa menit mengulang aksi yang sama, Yuri melenggangkan kaki menjauh dari bangku kayu. Rumah mungilnya mungkin sudah bosan menunggu.

.

.

Sayaka melemparkan sebuah amplop putih ke sisi ranjang Luhan sementara sosoknya berdiri di ambang pintu, enggan mengusik ketenangan di dalam kamar sang adik tiri.

“Undangan untuk orang tuamu, evaluasi seluruh nilaimu semester ini,” ucap Sayaka singkat. Diliriknya Luhan yang masih berbaring dengan ponsel di tangannya. Jangankan memungut amplopnya, melirik pun tidak.

“Nilaimu sangat mengkhawatirkan, mereka menyuruhku untuk—“

“Kenapa mereka menyuruhmu?”

“Sebenarnya aku yang memintanya.”

“Kenapa kau memintanya?”

Sayaka memutar bola matanya, jengah. “Aku tidak ingin memulai pertengkaran, jadi ambil undangannya dan hubungi ibu. Kalau dia tidak bisa datang, aku yang akan menjadi walimu.”

Luhan terkesiap.

“Kau tidak akan mempertaruhkan pekerjaanmu hanya untuk menjadi waliku. Katakan tadi itu tidak serius.”

“Lu,” Sayaka melunak. Diembuskannya napas beratnya dua kali sebelum ia menemukan ritme yang lebih pas ketika bicara. “Beberapa murid bermasalah mendapat undangan yang sama. Tidak hanya kau, bahkan murid seperti Horikita juga. Pertemuan ini untuk meluruskan komunikasi antara pihak sekolah dan wali murid. Jika walimu tidak datang, kau akan mendapatkan surat peringatan keras. Dua kali dapat surat peringatan, kau bisa dikeluarkan.”

Sayaka ahli dalam membaca ekspresi dan ia tahu kalau Luhan terkejut mendengar penjelasannya. Namun alih-alih menuruti ucapannya, ia malah melemparkan sebuah pertanyaan mengejutkan bagi Sayaka.

“Yuri juga mendapatkan undangan yang sama?”

Yuri? Bukan Horikita?

“Ya.”

“Apa masalahnya?”

“Lebih rumit. Dengar Lu, kau harusnya lebih mencemaskan—“

“Apa orang tuanya akan datang?”

Sayaka melirik pada antusiasme pada wajah Luhan. Tidak, lebih seperti kekhawatiran terpeta di sana. Ia merasa tak nyaman dengan perasaannya, namun begitu bukan kewenangannya untuk mengubah-ubah perasaan Luhan seperti keinginannya.

Sayaka menghela napas untuk membuang perasaan buruknya.

“Sejauh yang kutahu dari pengalaman sebelumnya, walinya tak pernah memenuhi undangan sekolah. Bisa jadi sama untuk undangan ini juga,” Sayaka menatap tajam ke arah Luhan. “Apa kau mencemaskannya?”

Luhan seolah ditampar oleh kalimat tanya Sayaka barusan. Jika ia berkata tidak, maka akan semakin jelas dustanya. Iya, Luhan mencemaskan Yuri. Dari apa yang ia dengar pada percakapannya dengan Hani siang tadi, agaknya Yuri memiliki hubungan yang tak begitu baik dengan ibunya. Lagipula seingat Luhan, ibunya tinggal di Tokyo. Akan sangat mustahil bagi Yuri untuk membujuk sang ibu agar datang jauh-jauh ke Sapporo.

“Kalau tidak menjawab pertanyaanku, kuanggap itu ya,” Sayaka menarik sebuah ponsel dari kantung celana pendeknya, mengetikkan sesuatu di sana dan menutup ponselnya dengan cepat. Tak lama, ponsel di tangan Luhan bergetar saat sebuah notifikasi ­e-mail masuk. Tertulis pada kolom pengirim: Sayaka.

Saat ia membuka e-mail Sayaka, tertulis di sana adalah sebuah nomor ponsel seseorang. Mau tak mau Luhan mendongak, menatap kakak tirinya dengan bingung. Kala ia akan bertanya, Sayaka sudah mendahuluinya.

“Ibu Horikita,” jelasnya. “Aku mendapatkannya dengan susah-payah, kuharap kau menggunakannya dengan baik.”

.

.

Sapporo, 22 Desember 2015.

Yuri mendengar namanya dipanggil ke ruang kepala sekolah. Hani terus saja mengekorinya di sepanjang lorong, bertanya macam-macam—salah satunya apakah ibumu datang?—tapi Yuri tak mengindahkannya barang sedetik pun.

Saat matanya terpaku pada sebuah pintu besar berpola serat kayu dengan pelitur mengilap, barulah Hani mundur. Ia membiarkan Yuri maju selangkah lebih dekat dengan permukaan pintu, kemudian mengetuknya pelan.

Sebuah ‘masuklah’ kemudian terdengar samar, menggoyahkan Hani untuk menyemangati sahabatnya. Meski begitu, ia menunggu gelisah di luar pintu, mencoba berpikir positif bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Di dalam, Yuri berhadapan dengan satu set Dewan Sekolah. Ada Kepala Sekolah, wakilnya, juga beberapa guru-guru yang ia kenal. Mereka semua menatapnya dengan penuh penghakiman, sebagian juga mencari-cari sosok yang tak akan pernah mereka temukan di samping Yuri.

“Mana ibumu, Horikita-san?” Yamada Sensei bertanya dari balik sebuah kursi di sisi kanan.

“Ibu saya tidak bisa datang karena pekerjaan, Sensei. Apakah keberatan hanya saya yang—“

“Masalahmu sangat rumit, Horikita-san,” seorang wanita yang duduk di samping Yamada mengomentari. Yuri kenal wanita ini, salah satu guru yang sering diperbincangkan Satsuku Aoda sebagai Guru Paling Menyebalkan di Sapporo Minami. “Kau bisa mendapatkan hukuman skors kalau berbohong,” Yuri sekarang mengerti kenapa Aoda melabeli guru satu ini dengan julukan demikian.

“Mohon maaf, Sensei tapi saya tidak berbohong—ibu—“

“Maaf,” sesosok suara yang dikenal Yuri segera saja menghampiri telinganya, membuat jantungnya hampir copot. Berdiri di sana adalah ibunya, dengan sebuah koper kecil yang diseret-seretnya susah-payah. Wajahnya polos tanpa pulasan make-up, pun busananya tampak biasa saja. Ibunya kelihatan berbeda dengan yang biasa ia lihat ketika berkunjung ke Tokyo. Yuri hampir ingin menangis dibuatnya.

“Dan, siapa anda?” seorang guru bertanya.

“Ah, mohon maaf, saya ibu dari Horikita Yuri. Mohon maaf saya datang agak terlambat dan tak mengetuk pintu terlebih dahulu,” sang ibu menoleh singkat ke arah Yuri sementara sang gadis berusaha susah-payah menahan tangisan yang akan keluar dari pelupuk matanya.

Suasana haru sempat dirasakan sang Ibu, tapi kemudian ia berhasil menguasainya. Dengan lugas dan penuh perhitungan, wanita paruh baya tersebut membungkuk sedikit, kemudian sekali lagi berbicara pada satu set pria dan wanita paruh baya dengan seragam perlente di depannya.

“Saya baru saja datang dari Tokyo, jadi mohon maaf sekali lagi. Mari kita mulai dari awal, saya akan mendengarkan.”

.

.

Yuri meletakkan segelas ocha hangat di atas meja sementara dirinya memegangi segelas ocha yang lain. Pantatnya duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah kursi lain yang diduduki ibunya. Koper kecil dan sebuah tas tangan diletakkan sang ibu tak jauh dari kakinya. Sementara keduanya asyik menyesap ocha, beberapa pasang mata memandangnya dari kejauhan. Sebagian besar berbisik-bisik dengan sorot mata menghakimi, sebagian lain memandang penuh iba, sementara sisanya berpolah tak peduli.

Inilah alasan mengapa Yuri tak begitu menyukai kantin sekolah.

“Kapan ibu datang?” tanyanya memecahkan kecanggungan. Menyesap ocha bukan alasan untuk diam seribu bahasa.

“Baru saja, seperti yang Ibu bilang,” sang ibu memandangi lembar demi lembar evaluasi nilai Yuri yang baru saja diberikan pihak sekolah. Ia mengomentarinya, “Kupikir saat kaubilang sekolahmu menyenangkan, hal yang sama juga berlaku untuk nilai-nilaimu.”

“Aku,” Yuri menelan ludahnya. “Agak kesulitan belajar sendirian.”

Sang ibu menatapnya semili detik sebelum ia kembali mengomentari pernyataan puterinya. “Kau bisa membuat kelompok belajar. Atau mendaftar pada sebuah privat?”

“Tidak, tidak usah. Aku bisa mengurusnya, Bu. Aku cuma belum terbiasa dengan Sapporo.”

“Dua tahun kau di sini, dan kaubilang masih belum terbiasa dengan Sapporo?” tanya sang Ibu tidak percaya. Sejemang, ada spasi canggung di antara keduanya yang membuat Yuri tak berkutik. Namun tawa sang ibu kemudian memecahkan momen asing tersebut. Ia tergelak hingga meja kecil yang memisahkan mereka bergetar.

Ditepukinya punggung tangan Yuri beberapa kali sebelum ia menanggapi kalimat puterinya.

“Pada akhirnya kau adalah anakku. Kita sama persis. Ibu juga merasa asing dengan Sapporo meski sudah beberapa kali mengunjungi kota ini. Entah kenapa ayahmu sangat suka di sini.”

Yuri tidak tahu harus merespons seperti apa. Jarang sekali bagi ibunya untuk membicarakan sang suami. Apalagi sambil tertawa dan tersenyum seperti barusan. Jika ada sebuah momen ketika mereka berbicara serius, sang Ibu akan selalu menangis dan menangis, membuat Yuri enggan untuk melibatkannya dalam masalah pribadi sang gadis.

“Bagaimana pekerjaan Ibu di Tokyo? Pasti akan sangat sulit nanti karena ibu membolos hari ini, ‘kan?” Yuri bertanya dengan intonasi super hati-hati. Masalah pekerjaan adalah sebuah topik yang sangat sensitif karena keduanya tahu apa yang sebenarnya terjadi di Tokyo sana. Menanyakan sebuah pekerjaan pada seorang prostitusi seperti ibunya, sungguh bukan keputusan yang bijak.

“Ibu sudah keluar dari pekerjaan itu, terhitung kemarin. Seorang teman mengajak Ibu membuka bisnis kedai ramen. Maaf tak memberitahumu sejak awal. Rencananya aku akan memberimu kejutan Natal nanti.”

Yuri ingin berseru agar dunia tahu betapa bahagianya mendengar kalimat sang ibu barusan. Tapi ia tak ingin memancing lebih banyak atensi kalau melakukannya. Jadi sebagai ganti, Yuri tertawa lebar sembari menjawat erat tangan ibunya. Keduanya berbincang lebih banyak, membicarakan macam-macam.

Tak akan pernah terbayangkan di dalam benaknya sebuah hari di mana ia dan sang ibu duduk berdua tanpa memikirkan masa lalu dan pekerjaan sang ibu yang tak pernah disukainya. Nampaknya mimpi itu kini telah datang, dan Yuri berharap segalanya tak kembali menjadi keruh seperti dulu.

“Ah, benar, ibu pakai pesawat sore ini. Ada beberapa hal yang harus Ibu penuhi sebelum menjalankan bisnis ramen. Kuharap kau tidak kecewa karena waktu temu yang singkat.”

“Tidak,” Yuri menanggapi. “Aku justru sangat bahagia.”

“Benarkah?”

Yuri mengangguk.

“Syukurlah, pastikan kau memperbaiki nilaimu, Yuri-chan. Ibu tidak ingin kembali menemui orang-orang menyeramkan seperti tadi. Ibu akan berusaha untuk melunasi biaya sekolahmu, berjanjilah kau akan melakukan hal yang sama untukku.”

“Ya, Ibu,” Yuri tersenyum saat sang ibu mengusap kepalanya. Dalam kondisi normal, ia tentu malu diperlakukan seperti itu di muka umum, tapi kerinduannya pada sosok sang Ibu telah membutakannya dari aturan-aturan sosial. Ia tak peduli kalau ditertawakan. “Aku akan berusaha lebih baik.”

Sang ibu mengangguk dan berdiri. Ia menarik koper kecil plus tas tangannya, kemudian menatap anak semata wayangnya sekali lagi.

“Ah, aku hampir lupa!” katanya. “Sampaikan salam ibu pada temanmu. Dia pasti sangat kesulitan ketika mendengarkan seluruh keluh-kesahku semalam.”

“Temanku?” kening Yuri dipenuhi kerutan. “Siapa?”

Sang ibu tersenyum. “Seorang pria. Takegaya Luhan. Apa dia pacarmu?”

Yuri hampir tersedak dan menumpahkan ocha yang ada di tangannya. “Apa? Tidak! Kenapa Takegaya-kun menelepon Ibu? Maksudku kenapa—“

“Aku lupa bertanya soal itu, tapi berkat dialah aku tahu kau dalam masalah. Pokoknya sampaikan terima kasihku pada Takegaya-san. Ibu tidak akan pernah datang ke sini tanpa informasi darinya.”

“Ibu, tapi aku—“

“Aku harus pergi, Yuri-chan. Maaf dan terima kasih untuk hari ini. Sampai ketemu setelah natal nanti. Aku akan mengajakmu jalan-jalan ke Tokyo. Bersiap ya!”

.


Terima kasih sudah membaca!

nyun

Iklan

41 thoughts on “Youniverse [13 of 18]

  1. ayo luhan move on wkwk
    kamu peduli banget sama yuri, mulai keliatan rasa sayangnya
    berkat luhan yuri dpt merasakan sedikit kebahagiaan.
    baper baca scene luhan menitikkan air mata hiks
    natsu kamu baik banget kayak touma-kun aoharuride deh.
    oooh baru ingat. setelah baca chap 12, si sayakan sifatnya mirip narumi aoharuride. egois banget ckck

  2. Wahh daebak luhan sampe telpon ibu nya Yuri bahkan rela dengerin curhatannya. Btw kesel banget ih sma sayaka gk rela kalo luhan jdi milik yuri, tpi gara2 sayaka jg sih luhan jdi punya nomor ibu yuri. Makin penasaran sma next part nya nih. Ditunggu kelanjutannya kak nyun 😊

  3. bingung sbnrnya luhan suka ngga sma yuri, tpi dia yg nghbungin ibunya yul spa dtng ke sklh yul…di tunggu nextnya.

  4. Awawaww so sweet bgt apa dia pacarmu? 😍😍😍
    Apa setelah ini yuri jd siswi pintar lg? Apa dia akn berhenti jd queen elsa?? Aaaa penasaran kak, semoga semuanya lancar biar updatenya juga lancar heuheuheu
    Fanfic kaknyun emang ga pernah gagal bikin baper ekwkwk

  5. Galau kah si luhan ?
    Aku pendukung nya natsu sih, tapi kan hati nya yuri masih buat luhan.
    Duhh apa juga kelebihan nya luhan yul?
    Liat kek masih banyak lelaki di luar sana. Yg peduli sama elu. Contoh nya aje si natsu.
    Terus itu sayaka kok ? Kemaren dia bilang nda mau saingan sama yuri. Tapi tadi bantuin luhan pan ? Kok nganu ?

  6. “Jika kau tak bisa menyembuhkannya maka aku yang akan melakukannya” aku selalu suka kata kata natsu. Ini pasti ada maksud lain dari kata kata sayaka yang nyuruh yuri lupain luhan, mungkin sayaka mau ngetes atau mau membuktikan sesuatu deh kayak nya. Karna dia dengan susah nya nyari nomor ibunya yuri. Yang seharusnya kalo dia suka dia gak bakal ngasi.
    Waduuhh makin seru aja ni, bentar lagi ada perebutan kayak nya ni

  7. Semua cast dalam ff ini super aneh ya.
    Pada dasarnya Sakaya sudah membri amaran pada Yuri,menjauhkan Luhan tapi tetap aja dia melakukan hal yang membuat kedua manusia itu dekat.

    “Jika kau tak bisa menyembuhkannya, aku yang akan melakukannya.” -Natsu-
    Luhan atau Natsu????

  8. Bingung sma sikapnya sayaka, sma yuri dia bersikap egois, tapi ktika luhan mncmaskan yuri dia mencoba membantu dg mmberikan nmr ibu yuri pada luhan. Ah entahlaah
    yg pnting smngt trus buat ka nyun

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s