Youniverse [14 of ?]

Youniverse

Love is hard enough, keep it all alone by yourself took a lot of damages.

Sapporo, 23 Desember 2015.

Kelas telah usai dan Yuri baru saja melepaskan kesempatannya untuk mencari sebuah jawaban penting dari bibir Luhan. Dengan begitu, Yuri masih harus melewatkan satu bulan penuh sampai libur musim dingin usai dengan rasa penasarannya. Kendati demikian, Yuri masih benar-benar merasa keliru dengan dirinya sendiri.

Keputusan Yuri untuk menghapus Luhan dari memorinya sudah absolut. Tapi kemudian, sang pemuda datang dan melakukan hal-hal yang tak pernah terbayangkan oleh sang gadis. Membujuk ibunya untuk datang ke rapat sekolah? Ayolah! Mengapa Luhan acuh pada hal-hal seperti ini? Apa yang ia pikirkan?

Yuri sudah jelas-jelas menandai batas di antara keduanya. Bukan teman, bukan kekasih, bukan siapa-siapa. Namun, dalam satu hari yang begitu singkat, Luhan berhasil menghapus batas tersebut dan membuat sang pencipta aturan bimbang luar biasa.

Berapa kali pun Yuri berusaha untuk mencerna tindakannya, hanyalah sebuah jalan buntu yang ditemuinya. Yuri bisa melamun sampai sore, memikirkan ini dan itu—memroses segalanya dari awal, andai saja Hani tak tiba-tiba menepuk pundaknya dan mengajaknya pulang bersama.

“Oh, aku ada beberapa tugas tambahan dari Yamada Sensei yang harus diselesaikan hari ini. Mungkin kaubisa… mmm… duluan, Hani-chan.”

Hani mengangguk atas sarannya, tapi ia tampak enggan meninggalkan Yuri sendirian di kelas.

“Tak bisakah tugasnya dikerjakan di rumah? Aku tahu mungkin ini kedengaran tak nyaman untukmu, tapi kudengar, sekolah akan sangat menyeramkan di sore hari pada musim dingin seperti ini. Jadi, kalau Yuri-chan mau mempertimbangkan—“

Yuri menepuk pantat Hani hingga ia mundur beberapa langkah.

Gosh, kau mengagetkanku!”

“Itu karena kau berusaha menakutiku. Tidak akan ada apa-apa, aku tidak sendirian,” Yuri memberikan gestur perihal keberadaan Satsuku Aoda, Kimimaru Kou dan Takegaya Luhan yang masih betah duduk di bangkunya mejanya masing-masing.

Hani lekas-lekas memberikan sebuah o panjang dari bibirnya. Sang gadis tertawa renyah, diikuti dengan beberapa patah kalimat lagi untuk menyemangati Yuri.

Setelah Yuri mengatakan bahwa ia akan mulai mengerjakan tugasnya, barulah Hani pamit undur diri. Di ambang pintu, Hani ragu-ragu. Ditatapnya punggung Yuri dari sana, berharap sang gadis memanggil namanya dan memintanya untuk menemani hingga hukuman Yuri selesai. Tapi Hani lebih tahu dari siapa pun bahwa Yuri bukanlah tipikal gadis yang senang bergantung pada orang lain, apalagi menyusahkannya.

Untuk menghilangkan sebongkah beban mengganjal di hatinya, Hani berdeham, memancing atensi Yuri ke ambang pintu. Lekas-lekas manik Yuri melebar ketika sosok Hani masih betah berdiri di sana.

“Kau belum pulang?” tanya sang gadis lembut, lepas dari segala kuriositasnya.

“Um, anu,” bingung mencari penjelasan logis tanpa membuat Yuri tak nyaman, Hani akhirnya mencari-cari topik dadakan. Kebetulan yang muncul di otaknya hanyalah sederet rencana untuk Natal, maka dengan hati-hati ia bertanya pada Yuri, “Soal Natal, aku dan Natsu akan menghabiskannya untuk berjalan-jalan di Taman Odori… jika Yuri-chan tidak keberatan…”

“Aku sudah memberitahumu soal itu,” jawab Yuri tanpa melepas senyuman di wajahnya. “Aku tidak suka keramaian, maaf sekali.”

“Tapi, mungkin jika kau bisa mempertimbangkannya sekali lagi, aku…”

Yuri mengedikkan kedua bahunya. “Maaf.”

“Oh,” intonasi Hani tak seantusias ketika ia bicara soal Taman Odori. Setelah ia menyadari hal ini, Hani buru-buru mengoreksinya. “Baiklah aku paham, karena besok sudah mulai libur, e-mail aku kalau kau bosan ya! Sampai jumpa lagi.”

“Ya,” ucap Yuri. Namun ia yakin suara kecilnya tak akan mungkin didengar oleh sang gadis yang dengan super gesit meninggalkan ambang pintu. Yuri tak bisa menolong dirinya untuk tak tersenyum.

Perginya Hani membuatnya disesaki berjuta pikiran yang membuatnya cemas seketika. Besok adalah hari pertama liburan musim dingin, yang berarti tak ada sekolah, tak ada interaksi sosial, dan tak ada Takegaya Luhan. Hal terakhir itulah yang paling membuat Yuri seram. Bukan soal ia tak bisa hidup tanpa Takegaya Luhan atau apa, akan tetapi kesan terakhir yang ditinggalkan Luhan sangatlah kuat diingatannya.

Saat sang Ibu berjanji akan membawanya ke Tokyo setelah Natal nanti, Yuri tak ingin dirinya masih dihantui rasa penasaran soal bagaimana Luhan pernah menghubungi ibunya satu kali tanpa diketahui siapa pun. Sang ibu pasti akan melontarkan pertanyaan macam-macam soal Luhan, dan Yuri tak ingin menjawab satu pun.

Satu-satunya penyelesaian yang tersisa bagi Horikita Yuri adalah bertanya langsung pada Luhan hari ini.

Diliriknya sang pria yang duduk tepat di sebelahnya. Selain menulis dan menggumamkan beberapa kalimat dari pertanyaan yang tersurat di lembar kerjanya, Luhan tak bereaksi apa pun. Ia bahkan tak merespons kala Yuri dengan sengaja menjatuhkan pensil tak jauh dari kakinya.

“Maaf,” kata sang gadis lirih.

Yuri melirik sebentar untuk menangkap respons—sebuah kerlingan, dengusan napas, atau senyum sarkastik barangkali—namun tak ada perkembangan berarti bahkan setelah tiga detik matanya tak berkedip.

Yuri menyerah, ia mulai mengerjakan tugasnya. Kali ini ia bersungguh-sungguh. Pasalnya sang gadis sudah berjanji akan memperbaiki seluruh nilainya sebagai ungkapan rasa terima kasihnya kepada sang ibu. Soalnya tak banyak, hanya lima pertanyaan. Namun dari lima pertanyaan tersebut, Yuri perkirakan ia bisa menghabiskan kurang-lebih dua lembar kertas folio.

Mungkin ia bisa membuat sebuah essay dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Siapa tahu.

Alangkah terkejutnya Yuri ketika Kimimaru Kou dan Satsuku Aoda dapat menyelesaikan soal yang sama dalam waktu yang sama sekali tak diperkirakan oleh Yuri. Keduanya berjalan ke depan, hampir bersamaan. Aoda memberikan tatapan sinis ketika Kou tak sengaja menyentuh lengannya—Yuri memutuskan menyimpan ini untuk nanti ia tanyakan pada Hani.

Keduanya melengang bebas ke luar kelas menenteng kertas jawaban tersebut, lengkap dengan sebuah tas yang sudah tersampir rapi di pundak masing-masing. Satsuku Aoda dan Kimimaru Kou mungkin akan berada di ruang guru dalam satu menit, dan pulang ke rumahnya masing-masing di menit kedua.

Sungguh orang-orang yang beruntung.

Saat Yuri ingin terkejut dengan bagaimana keduanya bisa menyelesaikan soalnya secepat itu, Takegaya Luhan berdiri secara tiba-tiba hingga kursinya berdecit keras.

“Oh!” Yuri refleks berteriak.

Luhan mendelik ke arahnya tanpa tahu apa yang terjadi.

“Kau mengagetkanku,” ucap Yuri berharap Luhan paham. Sang pemuda hanya tersenyum sembari berlalu tanpa kata maaf. Ia menenteng tasnya di tangan kanan sementara tangannya yang lain sibuk memamerkan dua lembar penuh goresan pena biru.

“Kau menulis semuanya?” kata Yuri, lagi-lagi terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kimimaru Kou dan Satsuku Aoda sudah berhasil membuatnya terbengong-bengong. Ia tak perlu menambahkan Takegaya Luhan ke dalam daftar panjang orang yang membuatnya kelihatan tolol.

“Ya, kau juga harus cepat menyelesaikannya. Udara akan semakin dingin di sore hari, lagipula Hani tadi sudah memperingatkanmu soal—“

“Aku tidak begitu percaya soal hantu, lagipula aku tidak send—oh, oke, sendirian pun tak masalah. Nanti katakan saja pada Yamada Sensei aku akan menyelesaikan ini dalam sepuluh menit.”

Yuri berharap ia bisa lebih berani mengungkapkan apa yang ada di benaknya; bahwa saat ini ia ketakutan luar biasa. Ia takut gelap, ia takut sendirian, dan sekarang ia berada di bangunan sekolah tua, dalam ruang kelas sepi, sendirian. Sebuah perpaduan yang fantastis.

Ketika langkah Luhan menjauh, Yuri menggerakkan tangannya dengan cepat. Ia membaca soal, berpikir, dan menulis di saat yang bersamaan untuk membuat waktunya lebih efisien dan produktif. Bukan masalah besar bagi Yuri mengingat ia adalah seorang siswi pintar.

Ketika Luhan mulai membuka pintu kelas hingga decitan kencang berbunyi di seisi ruangan, Yuri baru saja menyelesaikan soal pertama. Sebuah pencapaian fantastis yang membuatnya tersenyum sekaligus cemas. Ketika membaca soal selanjutnya, ia khawatir akan waktu yang dibutuhkannya untuk menulis seluruh jawabannya secara lengkap.

“Lima menit untuk soal kedua, lima lainnya untuk soal selanjutnya. Aku akan sendirian untuk dua puluh menit ke depan, bagus sekali Horikita. Bagus sekali.”

Yuri memijat dahinya lantas mengaduh kecil. Ia lupa sama sekali soal lukanya pasca peristiwa pingsan memalukan beberapa hari lalu. Berusaha mengesampingkan hal tersebut, ia mulai menulis dengan gesit. Soal demi soal diselesaikannya dengan konsentrasi penuh dan kecepatan yang konsisten.

Yuri menyelesaikan tugasnya dalam sepuluh menit lebih cepat dari perkiraannya. Hal ini membuatnya takjub sekaligus seram. Kemampuannya belum hilang meski selama dua tahun terakhir ia mati-matian menyembunyikannya. Bayangan mengenai raut-raut keterkejutan dari teman-temannya nanti mulai membayanginya. Yuri sadar bahwa sisinya sebagai smartass tak akan mudah diterima oleh lingkungannya yang sekarang, apalagi dengan rekam jejak dirinya yang dikenal bermasalah selama dua tahun terakhir.

Namun demi menunjukkan sisi terbaiknya kepada sang ibu, Yuri berusaha mengenyahkan kemungkinan-kemungkinan buruk tersebut. Diraihnya kertas yang kini sudah penuh coretan tangannya. Yuri membereskan buku-buku juga memastikan bahwa kolong mejanya bersih dari barang-barang pribadi. Ia mengepak seluruh peralatan sekolahnya ke dalam tas dan segera saja menyampirkannya di bahu.

Tujuannya sudah jelas, yakni meja ketiga di ruang guru, di mana Yamada Sensei mungkin sedang menunggunya sembari mendengus jengkel. Meski demikian, Yuri tetap tak berjalan kemana-mana. Tubuhnya terpaku di ambang pintu selepas ia membukanya. Kepalanya tertoleh ke kiri, di mana saat ini atensinya berpusat pada sosok pria yang dengan santainya bersandar di tembok.

Luhan tak nampak terkejut ketika Yuri menemukannya berdiri mematung di sana, alih-alih ia bergerak dan tersenyum seolah kedatangan Yuri sudah dinanti-nantinya.

“Kau tidak… kupikir kau sudah…” Yuri tak pernah menyelesaikan kalimatnya. Terlalu banyak pertanyaan yang menyesaki otaknya hingga bibirnya kesulitan untuk mengucapkannya dengan lengkap. Untung saja Takegaya Luhan adalah pria yang tanggap.

“Kupikir lebih baik jika kita menyerahkan kertasnya bersamaan, kau dan aku tinggal tak terlalu jauh, kita bisa pulang bersama.”

Yuri mungkin nampak lebih tenang sekarang, tapi jauh di dalam jiwanya, ia berteriak kencang sekali sampai bulu kuduknya meremang. Apa yang baru saja didengarnya? Apakah Luhan baru saja mengajaknya pulang bersama?

“Sudah terlalu sore, bisa kita jalan sekarang?”

Sial.

Yuri tidak bermimpi.

Kini satu-satunya yang tertinggal adalah jawabannya. Yuri tak ingin membuatnya demikian jelas, jadi ia sedikit bermain dengan kata-katanya.

“Oh, kalau sudah begini, apa boleh buat. Ayo.”

.

.

Yuri berjalan di bagian terdalam dari bahu jalan. Ia menjaga jaraknya dari Luhan yang berjalan tak jauh di sisi kanannya. Sang gadis berkali-kali merapatkan mantelnya, membenahi syalnya atau sekadar menepuk tangannya demi mengenyahkan rasa dingin. Ia berharap Luhan bisa berjalan lebih cepat dan membuat mereka sampai di tujuan tanpa perlu disisipi perbincangan canggung tak perlu.

Hidup Luhan memang begitu menariknya sampai-sampai Yuri terbengong ketika pemuda itu mengajaknya berhenti sebentar di sisi sungai Toyohira, memandangi buih-buih salju yang terombang-ambing di atas permukaan sungai. Dengan santai, ia menyandarkan kedua tangannya pada besi pembatas di sisi jalan yang memisahkan area Toyohira dengan para pejalan kaki nakal. Luhan tak berkata apa pun setelah Yuri bergabung dengannya. Gadis itu berdiri tak jauh dari Luhan, mengambil sebuah spasi yang bisa diisi tiga orang dewasa sekaligus. Meski dirinya digelitiki rasa penasaran soal interaksi Luhan dan ibunya malam kemarin, jiwa Yuri tak pernah diisi keberanian yang besar untuk membahasnya duluan. Alih-alih, ia menunggu sepatah kata terbebas dari bibir Luhan, semata untuk mengalihkan perhatiannya.

Dua menit berharga Yuri berlalu sudah; waktu yang cukup bagi Yuri untuk berkontemplasi dengan dirinya sendiri dan bertanya-tanya mengapa ia berada di sana dengan sesosok pria yang dibencinya. Yuri bukanlah gadis yang menyukai keheningan, pun ketidakjelasan yang mengisi menit-menit berharganya. Di hadapan Luhan, ia menjadi seseorang yang sama sekali berbeda. Rasanya ia akan sanggup berdiri bermenit-menit lagi hanya untuk memandangi Toyohira saat senja.

Meski demikian, selalu ada waktu singgah untuk sebuah kejenuhan. Di satu titik yang bertentangan dengan niatnya, rasa itu terselip dalam benak Yuri. Berdiri di sisi seorang pemuda yang dibencinya tanpa melakukan apa-apa membuatnya bosan setengah mati. Berbicara duluan rasanya tak mungkin, apalagi berharap Luhan mengatakan sesuatu padanya. Dengan segala kerendahan hati, Yuri melepaskan tangannya dari besi pembatas yang telah dipegangnya erat selama dua menit terakhir, memberikan Luhan sebuah kode-kode samar untuk mengakhiri aktivitas bodoh keduanya.

Detik selanjutnya, Luhan menghela napas, melepaskan uap dingin ke udara. Di sekeliling mereka, lampu-lampu jalanan sudah dinyalakan, membuat kontras warna-warni dengan mentari yang sudah bersembunyi. Permukaan Toyohira tak lagi terlihat jelas, warnanya hitam dan hanya diisi oleh refleksi cahaya dari benda di sekitarnya. Luhan mungkin menganggap hal tersebut terlihat biasa, tapi bagi Yuri, memandang sungai tanpa melihat permukaannya sama sekali bisa jadi adalah hal paling tak berguna dalam hidupnya.

Yuri mengambil keputusan tegas; ia akan pulang sekarang. Kakinya berayun pelan ke belakang, membuat tubuhnya memutar cepat memunggungi Luhan. Yuri yakin Luhan mungkin telah menyadari gerak-geriknya dan memutuskan untuk tak peduli, jadi ia meneruskan langkahnya ke depan, mengambil sebuah ayunan pendek untuk kedua tungkainya.

Namun,

“Maaf.”

Suara kecil Luhan menghentikan langkahnya. Yuri memutar tubuhnya sedemikian rupa agar bisa kembali menatap wajah Luhan dari kejauhan.

“Apa?” tanyanya.

“Maaf,” sahut sang pemuda lagi.

“Untuk apa?”

“Banyak hal: memarahimu, mengatakan kau bodoh, mengabaikanmu, menelepon ibumu tanpa izin, mempermalukanmu di depan umum, banyak sekali. Hari ini tadinya aku ingin mengucapkan beribu maaf untuk semua itu, tapi kuurungkan niatku. Aku punya satu dosa besar yang mungkin tak bisa ditebus oleh apa pun, dan hari ini kucurahkan semua energiku untuk meminta maaf atas sebuah kesalahan itu.”

“Dosa besar?” kepala Yuri disesaki fragmen-fragmen tipis memorinya beberapa tahun lalu. Ia memutuskan tak ingin dikuasai salah satunya. Yuri tak berharap apa-apa, ia memang tak ahli untuk urusan itu.

“Maaf, Yuri.”

“Takegaya-kun, aku tidak—“

Apakah kaubisa menungguku, maaf karena telah mengatakan itu. Maaf karena selama ini aku membuatmu menunggu. Maaf kalau pada akhirnya aku menyakitimu.”

.

.

Aku ingin mengatakan banyak hal padamu, tapi sekarang kurasa tidak tepat. Aku dan kau butuh waktu, dan aku tak ingin kembali salah bicara. Besok malam, bisakah kau temui aku di Taman Odori? Aku akan menunggumu pukul delapan.

Yuri memutuskan untuk kembali memikirkan kata-kata Luhan sembari berbaring rileks di atas futon-nya. Sebuah bantal bercorak bunga ditindihnya di bawah kepala. Kedua tangan Yuri terjulur ke samping kanan dan kiri, membuat bagian depannya terbuka; berhadap-hadapan langsung dengan langit-langit kamarnya. Yuri menatap neon redup yang menggantung di tengah-tengah ruangan. Begitu lamanya, hingga kala ia terpejam sebentar, matanya bisa menangkap beberapa noktah-noktah putih yang bersinar.

Meskipun demikian, Yuri tak merasa terganggu. Pikirannya sudah tenggelam bersama dengan kalutnya sendiri. Ada pergulatan batin yang lagi-lagi tak bisa ia hindari acapkali ia usai berbicara dengan Luhan. Semakin hari, semakin rumit, sementara Yuri tidak bisa mencerna logis segala sesuatu di luar satu tambah satu.

Jadilah ia hanya berbaring melamun meski ponselnya sudah dua kali berdering nyaring. Nama Odawara Hani muncul di layar, akan tetapi Yuri mengabaikannya. Telinganya berdengung sementara yang ia dengar hanyalah suara lirih Luhan yang memintanya untuk datang besok malam.

“Besok malam natal, ‘kan?”

Yuri terduduk tiba-tiba. Matanya memaku pandang pada sebuah kalender yang terpatri di dinding. Yuri tak pernah menandai kalendernya dengan coretan-coretan sebagaimana para gadis lainnya menandai hari penting mereka, tapi untuk suatu alasan, ia mulai meraih sebuah pena dan mencoret tanggal 24 pada kalendernya. Yuri menimpanya dengan sebuah huruf X besar, kemudian menggambar tanda panah yang bermuara pada satu spasi kosong di sisi kiri kalender.

Ditulisnya besar-besar: jam delapan, Taman Odori.

Sang gadis memandangi tulisan tangannya, kemudian bernapas lega selepasnya. Ia bergegas meraih ponsel, mengetik sebuah pesan singkat yang kemudian dikirimnya tanpa ragu pada alamat surel yang ditujunya.

Sebuah nada dering tanda pesan masuk berbunyi tak lama.

Odawara Hani.

Serius? Kau akan pergi bersama Luhan?

.

.

Kamis, 24 Desember 2015.

Butuh kurang-lebih enam puluh menit bagi Hani untuk membantu Yuri menyempurnakan malam natalnya. Hani telah berada di kediaman Yuri sejak pukul enam, satu jam lebih cepat dari apa yang telah ia janjikan. Saat gadis itu datang, Yuri tengah menyelesaikan beberapa tugas penaltinya dari Yamada Sensei, sehingga agak wajar jika kondisi dirinya dan rumah yang ditempatinya sedikit berantakan.

Yuri tak memiliki masalah kepercayaan diri di hadapan Hani, jadi ia bisa dengan santai menggeser beberapa barang dengan kakinya untuk membuat spasi bagi tatami-nya. Pokoknya, Yuri yakin semuanya akan berjalan dengan lancar sampai akhirnya ia sadar bahwa Hani tak datang sendiri.

“Oh? Natsu-kun?”

Dari kepala sampai kaki, Yuri malu luar biasa. Ia bahkan belum sempat mandi sejak bangun tadi pagi. Bagaimana mungkin Yuri sesial itu? Setelah apa yang telah diutarakan Natsu padanya? Yang benar saja!

“Natsu-chan dan aku punya janji jalan-jalan sore ini ke Taman Odori. Jadi, kupikir kita bisa sekalian jalan bareng,” Hani menjelaskan. “Yuri-chan keberatan?”

“Oh,” Yuri mengibaskan kedua tangannya. “Bukan masalah. Aku bisa bersama kalian sampai jam delapan, setelah itu…,” Yuri melirik hati-hati ke arah Natsu meski ia tak tahu apa sebabnya. “Yah, pokoknya seperti itu rencananya.”

Hani tersenyum pada Yuri kemudian merangkulnya. “Terima-kasih telah bersedia menghabiskan malam natal bersama kami, Yuri-chan.”

Yuri menundukkan kepala hingga rambutnya menutupi separuh wajahnya. Natsu tak berkata apa pun sejak ia muncul, sehingga Yuri menggunakan kesempatan itu untuk mengintip sang pria dari celah-celah kecil di antara helaian rambutnya. Yuri tak tahu mengapa ia melakukan itu, tapi setelahnya ia bisa menyimpulkan bahwa Hiroyuki Natsu tak sedang memiliki mood yang baik hari ini. Yuri memutuskan sebaiknya ia tak membuat masalah.

.

.

“Mau pergi?”

Luhan menginterogasi Sayaka ketika ia mendapati sang kakak tiri menyeret sebuah koper hitam ke ruang tamu.

“Bukankah aku sudah bilang aku akan pergi ke Tokyo hari ini?”

“Kau tidak pernah bilang.”

“Kurasa aku sudah bilang padamu, kecuali kau tak mendengarkan, atau sibuk memandangi keychain-mu ketimbang mendengarkanku.”

Sayaka meraih sebuah tas kecil di atas sofa dan menyampirkannya ke bahu kiri. Ditatapnya ponsel milik Luhan yang berdering nyaring di atas meja, tak jauh dari tempatnya berdiri. Nama Horikita Yuri berkedip-kedip di layar.

“Atau bisa jadi kau sibuk menunggu telepon dari gadis yang memberikan keychain itu.”

Luhan terburu-buru menyambar ponselnya. Alih-alih menekan tombol hijau pada layar ponsel sentuhnya, ia menggeser panel merah di sana, membiarkan nada putus-putus menyapa Yuri alih-alih suaranya.

“Kenapa dimatikan?” tanya Sayaka. “Oh, oke, takut aku menguping? Aku akan pergi kok,” ujarnya seraya menyeret kopernya menjauh.

“Kita belum selesai bicara,” tahan Luhan. “Kau belum katakan padaku untuk apa kau pergi ke Tokyo.”

Sayaka berdecih. Mulutnya gatal sekali ingin mengolok-olok Luhan dengan beberapa kalimat sarkastik yang sudah ia hapalkan jauh-jauh hari, ketika emosinya masih labil. Jika bukan karena waktu sempit yang dimilikinya, kalimat itu pasti sudah meluncur bebas dari bibir Sayaka.

“Ibumu meneleponku semalam. Beliau bilang ayahku ingin berbicara denganku, jadi aku diperintahnya ke Tokyo. Aku akan menghabiskan tiga hari di sana. Bisa lebih, tergantung apa yang akan dibicarakan ayahku nanti. Aku yakin mereka punya masalah di Tokyo dan butuh bantuanku untuk menyelesaikannya.”

Luhan berdiri, “Kalau begitu, aku ikut.”

“Aku tidak tahu akan memakan waktu berapa lama di sana,” potong Sayaka cepat. Ia baru saja akan menyelesaikan kalimatnya di sana, kalau saja dering ponsel Luhan tak mengganggu konversasi serius keduanya.

“Lagipula, sepertinya kau sangat sibuk di sini. Keputusan yang bijak untuk pergi sendiri,” ucap Sayaka lirih. Setelah sempat memberi jeda beberapa kali, kini koper hitam miliknya kembali ditarik ke depan, semakin menjauh dari ruang tamu. Sayaka tak menoleh ke belakang sama sekali, bahkan setelah pintunya ia tutup rapat. Meski demikian, ketika tubuhnya didudukkan di jok belakang sebuah taksi yang sudah menunggu sejak lima menit tadi, matanya menusuk pandang ke arah pintu rumah yang semakin menjauh, berharap seorang pria berlari membukanya dan menahannya agar urung pergi.

Semakin ia memikirkan harapan itu, semakin sesaklah dadanya. Ketidakmampuannya untuk menerka hati Luhan membuatnya frustasi. Luhan bukanlah pria yang tak mudah ditebak, akan tetapi baru-baru ini sang pemuda menggunakan banyak sekali topeng di wajahnya.

Begitu banyaknya sampai-sampai Sayaka kesulitan menemukan di mana seorang Luhan yang pernah dikenalnya.

“Apa Nona ketinggalan sesuatu?”

Saat supir taksi bertanya kepadanya, Sayaka sibuk membenahi dirinya sendiri. Ditatapnya spion tengah untuk meyakinkan sang supir bahwa ia tak butuh kembali ke tempat yang baru saja ditinggalkannya.

“Tidak, tidak ada. Bawa saja aku cepat-cepat ke bandara, Pak.”

.

.

Yuri menyerah menghubungi Luhan setelah dua kali panggilannya tak kunjung dijawab. Arlojinya sudah menunjukkan pukul 7.45, lima belas menit tepat sebelum pertemuan pentingnya dengan Luhan. Meski demikian, Luhan belum juga menentukan di mana tepatnya Yuri harus menunggu.

Kalau Taman Odori serupa pusat perbelanjaan biasa, mungkin Yuri tak perlu repot-repot bertanya. Sayangnya, Taman Odori begitu luasnya sampai-sampai Yuri pusing menentukan arah. Ditambah, area ini sangat asing untuk diidentifikasi sebagai Taman Odori yang biasanya cuma terdiri dari hamparan taman biasa dengan orang-orang yang bersantai di sekitarnya. Odori di malam natal sama sibuknya dengan taman-taman besar di Tokyo. Lampu warna-warni menerangi jalanan, menghiasi pohon-pohon natal tiruan, serta terhampar di sudut-sudut kecil yang biasanya tak pernah diterangi.

Teriakkan dan canda tawa bersahutan di sana dan sini. Belum lagi soal kembang api kecil, promosi besar-besaran para penjaja makanan serta beberapa orang yang gigih membagikan selebaran toko mereka dengan kostum-kostum Santa dan Rudolph.

Yuri benar soal firasatnya untuk tidak ikut-ikutan perayaan Natal. Jika bukan karena Luhan, ia tak sudi repot-repot berdiri di tengah kerumunan sembari menahan diri untuk tidak menjerit kesal.

“Aku mau mencari suvenir yang bagus, apa Yuri-chan tidak keberatan kutinggal dengan Natsu saja?”

Hani meraih tangan Yuri. Hanya dengan melihat matanya yang jernih, Yuri tahu sekali bahwa gadis itu sangat bersemangat. Ia betul-betul kelihatan menikmati festivalnya—meski dua orang yang dibawanya tak tampak demikian.

“Oh, oke, bukan masalah.”

Melepas Hani pergi bukanlah perkara sulit. Ditinggal berdua saja dengan Natsu di tengah kerumunan, itu yang membuat Yuri sedikit gelisah. Setelah apa yang terjadi padanya baru-baru ini, kepercayaan dirinya hilang seketika. Ia selalu menunjukkan sisinya yang nampak sangat independen pada Natsu, tanpa menyadari bahwa sang pemuda telah tahu lebih dahulu sisi mana yang coba ia sembunyikan. Lantas saat topengnya terbuka, tanggallah semua harga dirinya. Natsu mungkin tak akan berkomentar apa-apa, tapi untuk alasan yang Yuri sendiri tak ketahui, ia merasa sangat canggung berada di dekat sang pemuda. Seakan kecanggungannya tak cukup jelas, ia menginjak kaki Natsu sebelum tubuhnya oleng ke dekapan sang pemuda.

“Oh, maaf, maaf.” Yuri melepaskan dirinya secepat ninja. “Aku begitu gugup karena di sini sangat ramai,” kilahnya.

“Apa perlu pindah ke tempat yang lebih sepi?” Natsu menawarkan. “Yah, meskipun, menurut Hani di sini adalah tempat paling ideal untuk sebuah janji temu. Paling strategis.”

Munich Market adalah titik paling strategis, apalagi jika Yuri-chan tidak tahu di mana harus menunggu Luhan.

Ia juga dengar itu dari Hani, tanpa tahu bahwa tempat paling strategis yang dimaksudkannya adalah sekelumit area berisik. Di sekelilingnya, berjajar tenda-tenda merah yang menjajakan berbagai benda berbau Eropa, makanan hangat khas Jerman, bahkan beberapa tenda yang ada menawarkan wine tahun 90-an. Para penjualnya berdandan dengan pakaian tradisional Jerman. Beberapa penjaja wanita terlihat mengenakan crinoline merah dengan sehelai kain yang mengikat kepalanya sebagai hiasan. Yuri tidak tahu bagaimana bisa tempat seramai dan serumit ini bisa dikategorikan sebagai sebuah areal strategis.

“Jadi, bagaimana?”

“Hah, apa?”

“Jadi mau pindah dari titik ini atau tidak?”

“Uh, aku tidak tahu harus kemana…”

“Telepon si Takegaya, suruh dia cepat sedikit.”

“Aku sudah…”

“Yuri-chan!

.

tbc


MAAF! Februari aku bener-bener sibuk bangetttttt (ini bukan excuse, sumpah, deh.) Akhir February aku agak longgar sedikit dan bisa menyelesaikan beberapa scene yang dibutuhkan untuk chapter ini. Ke depannya, kita pelan-pelan aja, ya? Soalnya aku masih dalam hipnotis Yoo Shi Jin sama Kang Mo Yeon (Ini baru excuse) plus lagi sibuk mengamati Bae Jung Yeon sama Baek Shi Yoon. HAHAHAHA. Sek alon-alon wae.

nyun.

26 thoughts on “Youniverse [14 of ?]

  1. Cynthia berkata:

    Ihhh aq bener2 bingung sm luhan oppa.. jafi sebenarnya dia mau ngomong apa??
    sudah deh yuleon sama natsu aja..
    Aq gak enak hati baca ttg perasaan luhan gege yg gak jelas.. apalagi pas dihadapan sayaka…sebel banget.. heehehehehe.
    Maaf agal jengkel bacanya :p
    Ditunggu part selanjutnya..

  2. Rania SonELF berkata:

    Kak Nyun comeback yes….

    Itu Luhan labil banget sich.. Dy itu beneran suka ngga sich sama Yuri… Please jangan php’in Yuleon

    Next part ditunggu Kak Nyun + TOZ jngan lupa yha Kak Nyun

    Pada tanggal 01/03/16, BlackPearl Fairy Ta

  3. raditfinanda berkata:

    luhan seperti ya plinpan banget… ngk bisa tegas sama apa yg ada di hatinya,,, dan membuat yuri selalu menunggu luhan dan menjadi sedih oleh luhan…. lanjut next part ya gomawo

  4. Retha Lee berkata:

    ampun deh, luhan ini bijimana sih jalan pikiranmu grrr
    baru aja dibuat seneng doki doki di scene awal. eh ndaklama scene akhir kesal dibuatnyaa
    tapi yaa kaknyun aku tetep dukung yuri sama luhan aja yaaa. selabil pun luhaaaan.
    sayaka ndak boleh menang pokoknya wkwkwkwk

    okay kaknyun keep writing yap

  5. mellinw berkata:

    Natsuuuuu😦😥
    Kamu gak mood krn yuri dan luhan?

    Luhan mau bilang apa, aku kepo kak.. Luhan mau memperbaiki hubungannya dengan yuri kah?

    Di sisi lain aku juga berharap yuri sama natsu aja, tapi luhan juga sangat menarik.
    Hani lebih lebih hihih..

    Ditunggu kelanjutannya kak🙂

  6. vialee945 berkata:

    Luhan ini pe’a kah ?
    Dia yg nawarin janji sama yuri kan ya ?
    Tapi pas sayaka mau ke tokyo dia mau ikut juga. Jadi maksusnya si luhan mau php in yuri lagi ?? *jitak luge*
    Aduh aku mau yuri itu bisa dapatin cintanya. Tapi kalo orang yg di cintai itu cuma bisa umbar janji palsu seperti tahun2 lalu. Disuruh menunggu ! Menunggu terus sampe kan han ?
    Baru aja yuri gede kepala gara2 kmu tungguin di depan kelas. Ciyeee wkk
    Ahh tetap natsu yg aku dukung sama yuri !! fighting natsu yaa :*
    Ditunggu next chapter nya kak nyun 😀

  7. gita saraswati berkata:

    aduh siapa yg manggil “yuri chan”?
    penasaran kaknyun U.U
    Luhan tu bikin greget aja sumpah
    natsu lgi, pasti cmburu dah wkwk
    ahhh pokoknya part yg bikin greget dan bertanya2 kaknyun.
    mungkin rasa penasaranku lebih tinggi dripada sayaka lol
    ditinggu kelanjutannya kak
    makasih suka update ff ini di waktu yg tepat
    untuk part selanjutnya selalu dinanti🙂
    fighting kaknyun :))

  8. seungmi1214 berkata:

    Huwaaa, lagi hiatus panjang, jarang internetan taunya Youniverse udah chapter 14 aja. Maaf kaknyun, cuma komen di chapter ini aja. Uuuuh, rumit rumit rumit. Itu yang manggil Yuri-chan siapa ya? Natsu jelesnya keliatan banget sih, makin sukaaaak :3 Heung, tetep dukung NatsuYul kalo Luhan masih belum ngasih kejelasan.

  9. Hara_Kwon berkata:

    Akhirnya update juga kak!
    Wihh.. Luhan nungguin Yul di luar kelas sambil bersandar di tembok, yaampun aku senang sekali pas baca itu dan dia ngajak pulang bareng Yul😀
    Aku kadang2 bingung sama Luhan, knapa dia tadi nggak menjawab tlpn dr Yul? Trus dia malah hampir ikut Sayaka ke Tokyo, padahal dia kan udah ada janji sama Yul.
    Hiihh!! Sebel deh jadinya sama Luhan! :3
    Apa tadi yg manggil Yul pas Yul sama Natsu itu Luhan??
    Haaahh.. Jinjja
    Lama2 kalo Luhan tetep seperti itu aku jadi pengen kak nyun buat Luhan cemburu sama kedekatan Yul-Natsu! Hiih~
    -aku sangat jengkel sama Luhan :v –
    Ditunggu kelanjutannya kak! Semoga bisa cepet update! Semangat!!

  10. dindavanesaja berkata:

    Gila! Ini nge-feel banget bacanya Ka Nyun. Apalagi aku bacanya sambil dengerin lagu Carly Rae Jepsen yg never get to hold you. Kayanya itu lagu menggambarkan Yuri banget gitu deh–” ka, kita pelan-pelan tapi jangan kelamaan dong. Kan kita juga penasaran ama corettan kakak. Semangat ya Kak buat next partnya

  11. imaniarsevy berkata:

    finally…
    akhirnya update juga.
    karatan kak nyun yang nungguin. haha..
    aduh.. feel nya kenak banget kak nyun… bikin merinding…
    next nya jangan kelamaan ya kak nyun. toz juga jangan lupakan:v

  12. afifahcaku berkata:

    aku bahagia banget kak Nyun kembali di bulan maret..
    gak kaget sama perasaan Luhan
    tapi apa Luhan gak capek terus dilemma
    Natsu dengan sabar di sisi Yuri
    udah Yuri sama Natsu saja

  13. neechan0525 berkata:

    jadi ceritanya luhan ngajak baikan atau apa ya? aduh mana tuh anak (luhan) gak move on lagi sama sayaka, males sama kamu luhan😦
    natsu ini badmoodnya itu karena luhan-yuri ya? wkwkwk… lucu ya?
    udah ah yuri kamu sama natsu aja

  14. nita kyuri berkata:

    penasaran pa yg mw d.omongin luhan..
    si sayaka mw k.tokyo,eh si luhan malah pengen ikutan,aish luhan kok nggak jawab telpon yul eonni sih,,si sayaka brharap banget luhan mw hentiin dia k tokyo,,,oh si natsu bad mood tuch apa gara2 yul eonni mw k.temuan ma luhan,hehe,,eh scene trakhir yang manggil yul eonni tuch luhan kan?? ..next d.tunggu eonni..fighting

  15. aeyoungiedo berkata:

    awas kalo luhan sampe php-in yuri lagi, ga rela aku ><
    btw aku kok malah lebih suka Natsu-Yuri ya daripada Luhan-Yuri..
    tapi apapun pairnya aku dukung, kak!
    semangat kaknyun❤

  16. Lulu KEG berkata:

    Ampun dah aku telat banget bacanya garagara kelamaan publish nya jadi jarang2 juga aku pantau,, huh menyesal:(

    Asik banget kak Nyun bacanya sumpah ih, kalimat demi kalimatnya itu loh yang bikin betah keren banget sayang kalo dilewatin ampe koma titik petik nya juga,, haha terlebih ceritanya.. (y)
    huuu ini awal yg baik buat Luhan Yuri kah? atau malah tambah buruk lantaran Luhan berubah fikiran dan ikut Sayaka sampai-sampai pemuda itu mengingkari janji yang kedua kalinya pada Yuri?
    haha jangan dong kak Nyun kasian Yuri, yang manggil Yuri-Chan itu Hani ato Luhan? bukan nya Luhan manggil Yuri masi Horikita-san??
    Huaaa pengen lagngsung baca kelanjutannya!! alon alon gapapa ka yang penting jangan stuck aja aku mah hehe

    JungYeon sama ChanGyu kak Nyun haha masalahnya JungYeon sama ShiYoon belom ada kemajuan gara-gara masi terhalang si SoAhn (opo-iki)
    wes lah Makasih kak Nyun part 14 nya, ditunggu yg 15.. Mangatse!!!

  17. lizanining berkata:

    Wohoo endingnya selau greget ya kak, itu yg manggil yuri chan kira2 bank atau luhan wkwk
    Trus perasaan luhan sampek chapter ini jg belum clear hikzzzzzz
    Ga kebayang kenal sama orang semisterius dan se-gak ketebak luhan di dunia nyata hahahah
    Mangatz kak nyun, yoo si jin emang mangalihka

  18. nalyyullie berkata:

    Whom actually luhan likes???
    Yuri or sayaka???
    Luhan want to meet yul but he did not come yet..
    Natsu in a bad mood..
    Yul so funny when she was scared..
    Finally luhan says sorry to yul..

  19. yayarahmatika berkata:

    Lah lah lah, jangan bilang kalau nantin luhan bakal nyusul sayaka ke tokyo, dan menghapus semua harapan yuri. Posisi natsu saat ini sama kayak yang yuri rasain, ngeliat orang yang di suka menunggu orang lain. Walaupun yuri lebih berat perjalannya, tapi kasian jugaaa sama natsuu

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s