Youniverse [15 of ?]

Youniverse

a story by bapkyr

Destiny is weird, as weird as him. And when both of them meet the weirdness of me, that’s love.”


Natsu tahu diri untuk segera pergi setelah Luhan menyerukan nama Yuri di kejauhan. Ia pamit pada Yuri untuk kemudian hilang di balik tenda-tenda ramai di belakangnya. Saat ekor mata Yuri tak lagi menangkap sosok Natsu, Luhan sudah berdiri di depan, menggantikannya.

“Maaf aku terlambat. Sayaka baru saja pergi ke Tokyo, aku harus mengurusi beberapa hal di rumah,” ujar Luhan memberi penjelasan.

Yuri membalasnya dengan senyum lepas. “Bukan masalah. Terima kasih kau sudah datang.”

“Ya, terima kasih juga kau mau datang merayakan malam natal bersamaku.”

“Merayakan malam—bukankah kaubilang kau akan mengatakan sesuatu? Aku tidak tahu jika aku harus berbincang denganmu semalaman,” komentarnya. Yuri sangat panik. Ia tentu saja merasa ditipu, tapi yang membuatnya malu bukan lantaran hal sepele seperti itu. Berjam-jam yang lalu, ia merasa khawatir akan dirinya yang belum siap soal apa pun yang akan Luhan katakan padanya malam ini. Tidurnya tak tenang semalaman—pendek cerita, ia begadang karena gelisah. Lantas ketika peran utama dalam hidupnya datang, Yuri merasa kegelisahannya bermuara pada kesia-siaan. Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia tak serta-merta percaya.

“Ada beberapa hal yang perlu kukatakan, itu pasti. Pertama-tama,” Luhan menarik tangan Yuri . “Kita harus cari tempat yang lebih sepi dari ini.”

.

.

Natsu melihat semuanya. Ia bahkan secara tidak sadar mengekori Yuri yang tengah dituntun Luhan ke tempat lain.

Natsu selalu meremehkan peran para second lead male dalam setiap drama yang kerap Hani tonton, tanpa tahu bahwa kini ia tengah meremehkan dirinya sendiri. Tak mudah menjadi peran utama kedua saat sang peran utama sesungguhnya tengah bergerilya melakukan serangan balik untuk mendapatkan peran utama wanitanya. Natsu sadar betul, sekeras apa pun ia berusaha terlihat baik di depan Yuri, ia tetap tak akan menjadi peran utama, sebagaimana yang terjadi dalam drama.

Saat ini perhatian Yuri semua tercurah pada Luhan. Apakah Luhan akan membalasnya atau tidak, hal tersebut di luar kendalinya. Meski Natsu sudah mengonfrontasi Luhan—dan mungkin terdengar keren untuk dirinya sendiri—Yuri tak akan semudah itu berpaling padanya. Para peran utama sebegitu ngototnya pada kisah cintanya masing-masing; sebegitu tololnya sampai tak menyadari ada peran-peran pendukung yang memerhatikan mereka diam-diam.

.

.

“Barusan kaubilang akan mengajakku ke tempat yang lebih sepi,” Yuri berkomentar. Di sekelilingnya, minus tenda-tenda dan penjaja makanan yang super berisik, semuanya tampak sama seperti sebelumnya. “Tempat ini sama sekali tidak sepi untukku.”

Luhan tertawa. Ditariknya Yuri mendekat ke bagian bawah dari Sapporo TV Tower, memberi jarak pada pemuda dan pemudi yang tengah asyik melakukan swafoto di depan pohon natal digital di tengah-tengah area Odori.

“Tempat ini lebih mendingan. Setidaknya tak ada Santa-Santa yang ngotot memberimu brosur iklan.”

Meski agak sulit baginya untuk tertawa setelah apa yang terjadi, Yuri memaksakan sebuah senyum untuk mengapresiasi usaha Luhan. Sang gadis lantas menghentikan senyumnya hati-hati setelah satu sampai dua buah garis kerut muncul di sekitar matanya—para gadis selalu berhati-hati dengan fenomena ini.

“Jadi, soal bicara—“

“Bagaimana kalau berkeliling dulu, aku sudah lama tidak datang ke festival seperti ini,” tawar Luhan setelah memotong kalimat Yuri barusan. Tanpa menunggu persetujuan, sang pemuda menarik lengan Yuri dan mengajaknya berjalan sedikit ke arah kiri, menjauh dari pasangan muda-mudi yang sebegitu antusiasnya berswafoto.

Masih di area sekitar Sapporo TV Tower, Luhan menuntun Yuri berjalan. Kadang mereka berhenti secara acak di beberapa titik, semata karena Luhan sibuk mengambil dan menaruh kembali ponselnya ke dalam saku. Di kesempatan lain, mereka akan berjalan bersisian, berpegangan tangan di kerumunan agar tak terpisah satu sama lain.

Yuri tak keberatan jika Luhan memperlakukannya demikian, tapi ia tak sesenang itu untuk mengakuinya. Hatinya masih bergejolak, namun cinta bukanlah salah satu alasannya. Selama empat tahun belakangan, yang ada di benaknya hanyalah penyesalan terdalamnya akan pengalaman pahit soal cinta pertama. Bagaimana ia bertemu, dan jatuh cinta begitu saja pada pria yang tidak pernah tahu eksistensinya.

Selama empat tahun penuh penyesalan tersebut, ia tak pernah mengenal cinta selain Luhan, tak pernah memikirkan bagaimana rasanya jika perasaan pada pemuda itu hilang, atau bagaimana seandainya ia malah mencintai seseorang selain Luhan, cinta pertamanya. Kala Luhan menarik dirinya ke sana dan kemari, Yuri sejatinya mencari-cari keberadaan perasaan hangat seperti yang ia rasakan ketika pertama kali bertemu dengan sang pemuda. Ia mencari-cari sesuatu yang memercik geli di dalam hatinya, mencari kupu-kupu yang terbiasa beterbangan di dalam perutnya, mencari-cari kenangan yang bisa membuatnya merindukan kembali arti Luhan di benaknya. Namun, Yuri telah mencari dalam bagian-bagian tersempit jiwanya, dan yang ia temukan hanya bara kecil yang hampir mati; perasaan samar yang lelah terbakar.

Berkali-kali sang gadis meyakinkan dirinya bahwa, ya, setiap orang tak akan sempat mengabadikan perasaannya terlalu lama. Berkali-kali juga ia harus kembali menggali baranya yang hampir padam, meniupnya kencang, berharap perasaan itu berkobar sekali lagi lantaran sang pria yang pernah dicintai hanya berjarak kurang dari sepuluh senti di hadapannya.

Nampaknya usaha tersebut berakhir tanpa hasil. Yuri masih rela ditarik dan didorong seperti seonggok barang, sementara Luhan masih mencuri waktu untuk melirik ponselnya setiap semenit.

Sekarang segalanya tampak kabur bagi Yuri; perasaannya, perasaan Luhan, dan sekelumit kehidupan cintanya yang masih menjadi misteri. Apa pun yang akan dikatakan Luhan, Yuri sudah disesatkan bahkan sebelum sesuatu tersebut diucapkan.

“Dusta keenammu,” Luhan menghentikan langkah keduanya dengan berdiri tak jauh dari sisi sebuah trotoar yang agak lebih sepi. Lampu-lampu mobil pribadi dan sekelumit kendaraan lain menyinari keduanya dengan cahaya samar, memberikan Yuri penerangan yang cukup untuk memandang wajah serius Luhan.

“Membenci keramaian padahal kau sebenarnya baik-baik saja dengan itu.”

“Apa?”

“Lupakan,” Luhan tertawa. “Lagipula aku tak mengajakmu ke sini untuk bicara soal itu.”

Yuri masih penasaran perkataan Luhan sebelumnya, tapi ia memutuskan menyimpan itu untuk nanti. Apa pun yang membuat sang pemuda menjadi serius, akan sangat menjadi menarik untuk disimak.

“Kautahu ini hari apa, Yuri-chan?”

Yuri hendak menyahuti pertanyaan Luhan, kalau saja pemuda itu memberinya kesempatan. Agaknya, Luhan tak benar-benar tengah bertanya. Dibuktikan dengan bagaimana pemuda tersebut menjawab pertanyaannya sendiri beberapa sekon kemudian.

“24 Desember, hari ini, empat tahun yang lalu, kita bertemu untuk pertama kalinya,” Luhan terkekeh. “Kau mengenakan pita merah muda dan mantel biru, sepatu boots-mu berwarna cokelat, agak kebesaran sedikit, tapi kau masihlah kelihatan imut. Kotak berpita yang kaubawa? Yang di dalamnya ternyata sebuah keychain perak? Aku masih ingat saat aku sempat membuangnya di depan wajahmu. Ah! Saat itu juga kau hampir menangis dan merengek kepadaku.”

Entah bagaimana Luhan bisa mengingat kejadian empat tahun silam serinci itu, Yuri tak mau tahu. Jika seseorang bertanya padanya bagaimana ia bisa setenang ini mendengarkan segalanya dari seorang pemuda yang membuat dirinya menderita, Yuri tidak punya jawaban. Ia tentu saja terkejut oleh kenyataan bahwa Luhan masih mengingat kejadian itu dengan jelas. Namun, ia tak segirang itu untuk bertanya macam-macam pada Luhan. Yuri tidak ingin menghidupkan ekspektasi Luhan soal dirinya. Sang gadis berusaha melakukan keahliannya; menipu diri sendiri.

“Aku tidak merengek,” balas Yuri santai. “Cuma sedikit terpukul. Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu.”

“Aku juga tak sekasar itu, sebenarnya. Kau datang di waktu yang tidak tepat, saat itu adalah hari-hari yang berat bagiku. Keluargaku kacau-balau dan aku kabur dari rumah. Selanjutnya, kau menemukanku di atap sekolah dan semuanya terjadi begitu saja.”

Yuri teringat cerita Sayaka beberapa waktu lalu. Tak ada cela dalam ceritanya yang artinya baik Sayaka dan Luhan tak berniat menipunya sama sekali; semua adalah kebenaran.

“Kautahu, tindakanmu memang sangat buruk, tapi yang membuatku lebih kecewa adalah apa yang kaujanjikan padaku hari itu,” Yuri membalas. Maniknya tertanam tepat di netra bening Luhan, membuatnya percaya bahwa sang gadis benar-benar serius dengan ucapannya. “Kau tidak pernah kembali, sementara aku tetap menunggu seperti gadis bodoh.”

Luhan menghela napasnya pelan, kentara betul ia menjaga lidahnya untuk beberapa alasan. Sang pemuda lantas berdiri menyamping, berhenti memandangi sang gadis sementara ia mulai menengadah, memandangi lampu-lampu jalanan. Dari titik di mana Yuri berdiri, wajah Luhan hanya separuh diterangi cahaya. Separuh sisanya tak nampak karena minimnya pencahayaan. Entah kenapa hal tersebut begitu lucu di mata Yuri; Luhan yang nampak memiliki dua sisi: hitam dan putih. Entah bagian mana yang akan dipertontonkan padanya hari ini.

“Seperti yang sudah kubilang, kau datang di saat yang tidak tepat, Yuri-chan. Aku kabur dari rumah dan mereka mencariku. Itu sebabnya aku kerap menilik ponselku ketika berada di atap bersamamu. Ketika kau bicara, aku… banyak hal yang terlintas di kepalaku saat itu, tapi saat bicara denganmu, aku menemukan ketenangan di kepalaku. Cemasku mendadak hilang, berganti dengan seribu penyesalan. Aku menelepon ibu kala itu karenanya. Itulah sebabnya aku memintamu menunggu.”

“Apa?”

Yuri kehilangan keseimbangan emosionalnya. Kini setumpuk serpihan hatinya dipenuhi ruam-ruam besar yang ingin meledak. Ia sangat ingin menolak untuk mendengarkan dan cukup percaya saja dengan ingatannya. Tapi kalimat Luhan bagai sebuah racun. Yuri sangat malu. Selama ini rupanya ia sedikit salah mengira. Luhan tidak memintanya menunggu selamanya, ia hanya memintanya menunggu saat itu.

“Saat aku selesai menerima telepon dan kembali ke atap, kau sudah tidak ada. Aku mencarimu di sekitar sekolah, tapi kau benar-benar menghilang. Aku pun kemudian pindah ke Sapporo. Aku mencoba melupakan Tokyo dan seluruh kenangan burukku di sini. Semuanya berhasil kuhapus, beberapa kusembunyikan, tapi kenanganku akan gadis berpita merah muda, tak semudah itu untuk lenyap.” Luhan menarik sesuatu dari saku celananya dan menunjukkan sebuah keychain perak pada Yuri. “Aku tak pernah tahu bahwa apa yang kuucapkan empat tahun lalu bisa membuat seseorang sangat menderita. Sebuah kesalahpahaman yang tidak bisa kutebus bahkan dengan seribu maaf, kini ingin kuselesaikan hari ini. Apa yang ingin kaudengar dariku hari itu, apa yang ingin kuucapkan padamu hari itu, akan kutebus hari ini. Yuri, aku—“

Pikir Yuri, adegan antiklimaks hanya terjadi di dalam drama-drama saja. Tak pernah terpikir olehnya bahwa di saat-saat yang menentukan, dering nyaring ponsel Luhan bisa menghentikan sang pemuda untuk bicara.

Luhan menarik ponselnya dari saku. Layarnya menyala-nyala, menerangi wajah Luhan dengan sekejap mata. Yuri tak bermaksud mengintip atau berlakon tak santun, tapi matanya sudah terlanjur menangkap nama yang berkedip di layar ponsel pemuda tersebut.

Sayaka Sensei.

Sial bagi Yuri, gerak-geriknya ditangkap jeli oleh manik Luhan. Untuk itu, ia segera menggeser panel merah di atas layar ponsel sentuhnya dan kembali memasukkan benda tersebut ke dalam saku. Berpura-pura tak terjadi apa pun, ia tersenyum, menepuk-nepuk pahanya kemudian bicara kembali pada gadis yang mematung bingung di sebelahnya.

“Jadi, Yuri—yang ingin kukatakan padamu hari ini adalah—“

Dering ponsel menggantungkan percakapan mereka di tengah-tengah. Luhan menarik ponselnya dari saku. Nama pemanggilnya masih sama, dan yang Luhan lakukan pun masih serupa. Bedanya, kali ini ia agak sedikit ragu-ragu dan cemas.

Yuri menangkap segalanya dengan matanya. Bagaimana ekspresi Luhan tak seserius sebelumnya. Atau bagaimana ketika sang pemuda mulai melirik resah ke arah sakunya. Cara Luhan membaca nama Sayaka di ponselnya adalah sama seperti ketika ia membaca nama sang ibu yang muncul di layar ponselnya empat tahun lalu.

Sedikit susah untuk mengakuinya, namun Yuri sudah merasa bahwa takdir tak pernah berjalan bersisian dengan kehidupan ia dan Luhan. Seperti deja vu, apa yang pernah terjadi empat tahun silam, harus terulang kembali sekarang.

“Yuri-chan, aku sebenarnya…” dering ponsel menderu-deru untuk kali ketiga. Luhan berusaha keras tak mengindahkannya saat itu. Tangannya mengepal dengan kuat. Tubuhnya gemetar. Dengan kebulatan tekad yang ia kumpulkan, ditariknya lengan Yuri hingga jarak keduanya terpangkas drastis. Luhan dan Yuri dapat mendengarkan degupan jantung masing-masing. Atau bahkan merasakan embusan napas hangat di kulit wajah mereka.

“Sejak saat itu… dan sekarang… aku—aku menyukaimu.”

Sulit menerka apakah Luhan serius atau berkelakar akibat sedikitnya cahaya dari lampu-lampu di jalanan yang menerangi wajah sang pemuda. Ekspresinya, menurut Yuri, tak ubahnya sepersekian sekon lalu, saat ia dengan cemasnya menaruh ponsel ke dalam sakunya. Tindakannya terasa nyata dan benar-benar mencerminkan apa yang sesungguhnya ia rasakan, tapi sayangnya, hal tersebut bersilangan dengan apa yang telah Yuri rasakan.

Tidak ada rasa terenyuh atau berdesir ketika mendengar Luhan berkata demikian. Terharu pun tidak.

Rasanya sama saja seperti ketika Yuri mendengar bahwa ia terlalu bodoh untuk kalkulus. Kalimat Luhan terkesan percuma, seolah-olah sang pemuda cuma mengatakannya hanya karena ia tak ingin menyakiti perasaan siapa pun. Bagi Yuri, perasaan tersebut bukan cinta. Sama sekali tak mendekati.

Mengesampingkan apa yang baru saja Luhan nyatakan, Yuri mengempaskan kedua tangannya dari genggaman sang pemuda.

Dering ponsel kembali menyahut sesaat setelahnya, membuat sang gadis lantas mengulurkan salah satu tangannya di hadapan Luhan.

“Berikan ponselmu, akan kumatikan.”

Tak ada jawaban dari Luhan selain raut keterkejutan yang terpeta pada wajahnya.

“Katamu kau menyukaiku, jadi, berikan ponselmu. Kita perlu bicara banyak.”

Selalu ada alasan di balik tindakan Yuri. Ia tidak sekurang ajar itu untuk menyita ponsel seseorang apalagi memutus sambungan jarak jauh orang lain. Tindakannya kali ini dilatarbelakangi oleh kuriositas Yuri perihal kesungguhan hati Luhan padanya, sejauh mana ketetapan hatinya untuk memilih Yuri di atas Sayaka—sang cinta pertama.

Mendengar kata baiklah dari Luhan saja, sebetulnya sudah cukup untuk memusnahkan keragu-raguan Yuri, andai saja Luhan mengerti. Sayangnya, sang pria hanya berdiri mematung di hadapan sang gadis. Diiringi dering lagu barat lawas dari ponsel di saku Luhan, Yuri dan sang pemuda berpandangan selama beberapa sekon. Keduanya menikmati alunan musik dan suasana sendu yang tercipta sampai akhirnya Luhan menekan panel hijau; menghentikan musiknya—sekaligus sisa-sisa harapan yang sempat Yuri taruh di pundaknya.

Yuri menurunkan tangannya yang terjulur.

Bodoh sekali berpikir ia bisa menang melawan Sayaka.

“Aku akan menerima panggilan ini sebentar, aku akan kembali.”

“Tidak usah,” Yuri mengusahakan dirinya agar tetap tenang. “Tidak usah kembali. Perbincangan kita selesai.”

“Apa? tidak—bukan begitu, aku…”

“Moshi moshi?”

Entah jika suara di seberang telepon terdengar seperti suara pria, atau memang telinga Yuri yang salah, sang gadis sudah tak peduli lagi. Sekon yang digunakan Luhan untuk pergi beberapa langkah darinya untuk menerima sebuah panggilan, adalah sekon yang seketika meluruhkan seluruh harapan yang sempat tergantung selama sekejap.

Yuri tidak senaif itu untuk bersedih, tapi nyatanya dadanya sudah sesak oleh pilu. Menundukkan kepala dan menyembunyikan tangisnya sekarang, tak akan semudah itu. Satu-satunya jalan baginya adalah bertahan. Meneteskan air mata bukan bagian dari rencana. Ia ingin menunjukkan satu lagi topengnya, bahwa gadis berpita merah yang merengek manja, sudah lama mati.

Ketika Luhan kembali, berdiri di hadapannya adalah seorang gadis yang sanggup tersenyum meski hatinya sudah tercacah dan tercacah kembali. Seorang gadis bergincu merah yang tak sungkan mengangguk saat pria yang dicintainya berlari tertatih untuk seorang gadis lain dan kisah cinta terlarang mereka. Seorang gadis yang sudi untuk ditinggalkan dan merasa baik-baik saja meski sang pria telah berlari jauh darinya tanpa ragu.

“Sayaka mengalami sedikit masalah di bandara, aku akan kembali,” kata Luhan.

Tapi, aku tahu kau tak akan pernah kembali.

“Aku janji,” tambahnya.

Berkat topeng kepura-puraannya, Yuri bisa menunjukkan senyum empati. Ia bahkan menepuk pundak Luhan sebelum melepasnya ke pelukan gadis lain.

Kau selalu punya kebiasaan buruk untuk tak menepati janjimu, Lu. Jadi, jangan pernah berjanji. Lagipula, aku tahu kau tidak akan pernah kembali. Jangan memberiku penjelasan yang tidak perlu. Kali ini aku tidak akan menunggu.

.

.

“Yuri­-chan!”

Hani berjalan cepat ke arah Yuri. Kedua tangannya penuh dengan beberapa kantung plastik yang tak bisa ditebak isinya—terlalu banyak yang Hani beli. Di belakangnya, Natsu mengekori hati-hati. Di tangannya ada sekantung plastik berwarna merah berlabel minimarket. Sekilas, Yuri melihat beberapa bungkus ramen instan dan hotpack di dalamnya.

“Kau sudah bertemu Take-kun?”

Hani bertanya dengan lugunya. Kalau ia tahu apa yang terjadi barusan pada Yuri, tentu saja ia tak akan seberani itu menyebutkan nama Luhan di depan sang gadis.

Menghormati ketidaktahuan Hani, Yuri mengangguk. Ia enggan membahasnya lebih lanjut, jadi ditariknya kantung belanjaan Hani. “Omong-omong, untuk apa semua belanjaan ini?”

“Oh, ini?” begitu polosnya, atensi Hani segera teralihkan. Rupanya sang gadis sangat bersemangat dengan belanjaannya. “Aku berencana mengirimkannya ke teman-temanku. Hadiah natal! Eh, Yuri-chan juga dapat satu lho. Mau diambil sekarang atau…”

“Ah, ah, kau harus membungkusnya dulu,” Natsu memotong pembicaraan keduanya. “Lagipula ini belum malam. Seharusnya besok pagi kaubagikan seluruh hadiahnya. Bukankah Santa melakukan hal yang seperti itu?”

Natsu menyikut lengan Hani dan mengomelinya. Sang gadis membalas dengan beberapa umpatan yang dilepaskan dengan suara nyaring. Sementara keduanya asyik bertengkar, atensi Yuri teralihkan pada sebuah toko cinderamata yang tampak sepi dibandingkan pesaingnya di kanan dan kiri. Toko tersebut dihiasi berbagai lampion dan hiasan khas Jerman, lengkap dengan seorang penjual wanita paruh baya yang mengenakan gaun rumahan a la Eropa abad pertengahan. Tak terdengar sedikit pun bahasa Jerman yang keluar dari bibirnya, alih-alih wanita paruh baya tersebut lancar sekali berbicara Bahasa Jepang, dengan logat Kansai pula.

Meski menarik, bukan itu yang menjadi pusat atensinya. Sebuah benda kecil yang tergantung di bagian depan tendanyalah yang menjadi muara akhir netra hitam sang gadis; sebuah lampu tidur. Bentuk dan ukurannya biasa saja, akan tetapi benda tersebut memiliki berbagai corak di sekelilingnya. Jika dinyalakan, menarilah berbagai bentuk planet dalam berbagai ukuran, seolah antariksa mendekat ke bumi.

Akan sangat menyenangkan kalau punya satu, batinnya.

“Lentera Universe.” Natsu berdiri bersisian dengan Yuri, ikut memandangi benda yang tengah menghipnotis sang gadis. Sementara Yuri menolehkan kepala padanya sembari terkejut, Natsu malah tertawa. Ia menggetok kepala sang gadis sekali, kemudian kembali membiarkan arah pandang keduanya direbut oleh benda kecil yang tergantung di lapak pedagang paruh baya tersebut.

“Aku sempat ke sana saat kau pergi tadi, wanita di sana menyebutnya Universe Lantern. Katanya tidak dijual karena benda itu peninggalan terakhir mendiang suaminya. Dipajang di sana untuk mengenang pertemuan pertamanya dengan sang suami saat malam natal di Sapporo,” Natsu menepuk pundak Yuri. “Apa kau mau ke sana? Katanya dia juga bisa meramal. Bukankah kau senang dengan hal-hal seperti itu?”

Yuri jadi teringat ramalannya saat festival musim gugur sebulan yang lalu. Saat itu, Natsu juga berada bersamanya menyaksikan dua ratus yennya melayang hanya demi ramalan bodoh.

“Apa kau mengejekku?”

Natsu tertawa, saking kerasnya sampai-sampai Hani mendelik curiga pada Yuri. Memang, sih, Yuri merasa dirinya lebih dekat dengan Natsu belakangan ini, wajar jika Hani merasa terabaikan jika ia mengusulkan sebuah acara bertiga. Seperti saat ini, nampaknya baik Yuri dan Natsu baru saja melewatkan acara demonstrasi suvenir-suvenir yang baru saja dibeli Hani. Sang gadis merengek kemudian memutuskan untuk pergi duluan.

“Ingat ya, kalian bisa lepas malam ini karena aku sedang dalam mood yang baik. Nggak tahu, deh, kalau besok. Aku pulang duluan. Ah… Natsu-chan, pastikan kau mengantar Yuri-chan pulang dengan selamat. Kalau tidak, awas kau.”

Yuri terkekeh kecil, sejenak melupakan Luhan dan sekelumit dramanya. Pada Natsu dan Hani yang sudah berbaik hati menawarkan persahabatan padanya, ia tak bisa merengek dan menceritakan betapa sulitnya kehidupan yang ia hadapi. Yuri tak ingin punya hutang budi karena meminta keduanya mendengarkan keluh-kesahnya. Pun, membuat keduanya khawatir. Untuk malam ini, ia memutuskan mengunci mulutnya. Tidak susah-susah amat lantaran Hani si Serba Ingin Tahu, sudah pergi. Sementara Natsu, ah… rasanya pemuda ini tak akan mengorek apa pun kalau tak dipancing duluan.

Yuri bisa aman hari ini.

“Sekarang, apa kau sudah mau pulang?”

Yuri kedinginan, tapi dirinya tak mengiyakan. Diliriknya kantung plastik yang berada di tangan Natsu.

“Kau tertarik untuk tinggal sejenak?” tawar sang gadis. “Ayo mampir meramal sebentar ke sana sambil minta air panas. Rasanya aku kangen makan ramen.”

.

.

tbc


Yak, harus menunggu lagi ya dengan sabar. As usual.

nyun

Iklan

33 thoughts on “Youniverse [15 of ?]

  1. Yahhh eon, broken banget ni baca part yang ini , Luhan tega banget ninggalin Yuri cuma buat Sayaka 😥
    Tapi aku fix tetep dukung Yulhan !! 😀 bukannya gak suka sama Natsu ni tapi aku lebih suka aja kalo Yuri sama luhan 😀 😉 😉
    Thx kak Nyun :-):-)

  2. Yak yak yak. Yaudah lah natsu sama yuri ajalah, biarkan luhan dengan sayaka. Aku ngebayanginnya itu pas sayaka nelfon luhan, itu sayaka kecelakaan di jalan pas mau kebandara, dan yang nelfon luhan itu polisi arrhhhh apa begitu?

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s