The Sorcerer’s Diary [Part 13]

TSDNEWPOST

a story by bapkyr

better read the 12th chapter first.

Butuh waktu kurang dari semenit bagi Hansel untuk menemukan Liam dan Isabella yang terluka di arena pertarungan, setengah menit bagi Zelo Russel untuk menemukan kedua anggotanya yang sudah tewas, dan kira-kira satu setengah menit bagi Kim Jongin untuk menyaksikan tubuh gosong Tao yang susah-payah digendong Lay keluar dari hutan. Seolah masih kurang mencekam, langit tiba-tiba menjadi gelap, menyisakan hanya suar-suar cahaya dari kunang-kunang yang berkelebatan di antara ranting-ranting pohon pinus.

Sulit untuk menerka ekspresi dari masing-masing orang dalam kelompoknya, tapi Yuri tidak butuh cahaya untuk mencari tahu. Segera setelah mereka mengebumikan jasad Chanyeol di dekat pohon pinus besar dengan akar gantung, jasad itu lenyap ditelan kegelapan; menghilang seolah diserap oleh lubang gelap mahabesar. Tak ada yang tahu persisnya bagaimana, tapi Yuri dan teman satu timnya sudah tahu, apa pun yang bisa menghisap Chanyeol sedemikian cepat, itu bisa juga menghisap jasad mereka nantinya.

Tidak ada yang perlu diperdebatkan di titik ini. Mungkin, jika Yuri tergelitik penasaran, penyebabnya adalah pesan yang Chanyeol sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Telunjuk Chanyeol sempat menuding ke arah Yuri, kemudian Daehyun. Meski tak ada satu pun yang berani membahasnya, Yuri yakin setiap anggota timnya kini tengah bertanya-tanya sendiri, melancarkan investigasinya dan kecurigaan mereka padanya.

Seperti yang telah dijelaskan baik oleh Ducky dan Gregory, bahwa setiap orang adalah suspect. Saling mencurigai adalah hal lazim. Bertemu di dalam tim yang sama tidak akan membuat Yuri dan yang lain bebas dari tuduhan. Apalagi, Ducky sudah jelas-jelas memecah belah semua orang dengan menjanjikan kebebasan bagi mereka yang bisa menangkap suspect yang dicurigai Kementerian—terlepas dari benar atau tidaknya.

Meski demikian, bagi Yuri, sulit rasanya untuk mencurigai rekan-rekan setimnya sendiri. Tentu, mereka belum lama bertemu, tapi di sini, di ruangan persegi antah-berantah ini, ia sudah berjanji pada banyak orang untuk tidak mati; The Soul, para Profesor, Lionel Dimps. Mencurigai orang lain bukan intinya. Yuri sudah memutuskan ia tak akan jatuh dalam perangap psikologis yang ditebar Ducky.

“Bagaimana soal Baekhyun?”

Di tengah kekalutan dan jeda panjang, Krsytal bertanya. Gadis itu telah berdiri sekurang-kurangnya satu jam setelah fenomena lubang hitam magis yang menyerap raga Chanyeol, musnah. Jari-jarinya bergetar. Mungkin lelah sebab ia terus-terusan menyuplai energi untuk barrier pengaman berbentuk prisma di sekitar anggota timnya.

“Ia melewati masa kritis, tapi tak ada yang tahu. Ia belum bangun sampai sekarang,” Suzy Lovegood menanggapi.

“Kita tidak memprediksi hal seperti ini. Jelas sekali bahwa ada pertarungan di dalam sini, entah bagaimana. Apa kalian berpikir tim lain menyabotase kita?”

Menanggapi pertanyaan Himchan, Daehyun menggeleng.

“Dari apa yang kutahu, sebuah misi pun bahkan belum diberikan oleh Ducky. Buat apa menyabotase tim lain?”

“Tapi, bagaimana jika Chanyeol dan Baekhyun diserang setelah keduanya menerima misi dari Ducky? Maksudku, mungkin si penyerang tak ingin kita mengetahui misinya.”

Daehyun berpikir keras hingga dahinya mengerut. Himchan memang pintar, tampan dan sebagainya. Kecermatan dan keakuratan perhitungannya dalam pertarungan membuatnya disegani siapa pun. Hanya orang idiotlah yang akan mendebatnya. Dan Daehyun, adalah satu-satunya idiot sempurna untuk itu.

“Jangan gegabah menyimpulkan. Kita semua tahu bagaimana si Muka Bebek itu. Muslihatnya sangat rapi. Salah fokus sedikit, dia akan membunuh kita. Mari jernihkan pikiran sesaat dan tunggu sampai tengah malam tanpa pikiran buruk. Kementerian akan memberikan suspect hari pertama, dan kita akan cari tahu apa yang akan terjadi setelah itu.”

Yuri tidak bisa sepenuhnya setuju dengan ide Daehyun. Ia adalah tipikal gadis yang lebih suka bertindak cepat ketimbang berpikir panjang-panjang. Idealnya, insting tersebut akan sangat berguna di dalam pertarungan head-to-head—bertemu tatap, intens, penuh refleks. Membaca situasi yang ada, sang gadis memutuskan instingnya agak tak berguna. Daehyun ada benarnya. Kondisi Krystal dan Sehun yang melemah, Suzy Lovegood yang mendadak menjadi pendiam, serta sederet rekan timnya yang tersisa, agaknya masih belum pulih dari shock yang melanda mereka barusan. Kehilangan teman di menit-menit pertama sebuah misi hidup dan mati tentu bukan kenangan terbaik untuk memulai hari.

Amarah di dada Yuri berapi-api, kadang membisiki dirinya untuk lepas kendali. Jika bukan karena sekeping jiwa-jiwa rapuh yang berada di dalam dirinya—The Soul—Yuri sudah pasti akan meledak. Lee Hi tidak melakukan apa-apa, namun Juniel mengatakannya berkali-kali: bahwa Yuri akan berada di posisi yang tidak menguntungkan jika dia lepas kendali.

Melewati beberapa pertimbangan matang yang agaknya dipaksakan, Yuri kembali duduk di posnya, melihat punggung Krsytal yang masih mondar-mandir di sekitar prisma energi yang dibuatnya. Mengesampingkan suasana hati para rekannya, sebetulnya malam itu pemandangan sungguhlah mengesankan. Selain kunang-kunang dan langit gulita, masih ada pepohonan pinus dengan daun yang menguning di beberapa dahan yang menjulur tumpang-tindih. Kelelawar bergantung terbalik, menyelimuti tubuhnya dengan dua sayap tipis sembari menunggu waktu yang tepat untuk berburu makan. Suara angin, desauan lirih yang membumbung di udara, melewati daun-daun kering dengan hati-hati kemudian menerbangkannya, menimbulkan suara gemerisik dan hujan daun kecil-kecilan di kepala Yuri. Tanah yang dipijaknya adalah sebuah area terbuka. Entah di mana tepatnya, tapi Daehyun bilang kalau mungkin mereka tak jauh dari jantung hutan—pusat di mana katanya Ducky akan memberikan misi—yang sebetulnya agak tidak menguntungkan timnya jika ada serangan. Di sekelilingnya, menjulang tak beraturan berbagai pepohonan yang sebagian besar didominasi pinus berdaun beringin—ini masih misteri—mengitari mereka dalam sebuah koloni lingkaran serupa jeruji. Perasaan menggigit dan tekanan psikis luar biasa bisa dirasakan Yuri hanya dengan menarik sebuah napas panjang nan dalam. Namun, ia mengenyahkan perasaan ragu-ragu dan takutnya dalam sebuah embusan napas tak kalah panjang. Masih hari pertama, pikirnya, masih ada kejutan-kejutan Ducky yang harus ia patahkan. Menyerah rasanya sama saja dengan mati.

Sialnya, Yuri tak perlu waktu lama untuk menunjukkan keberaniannya. Beberapa jam setelah hening panjang—yang bertepatan dengan pergantian shift jaga baginya—sebuah suara yang—lagi-lagi—entah datangnya dari mana, muncul begitu saja di berbagai arah; bak digulung udara dan dilepaskan ke dekat telinga masing-masing.

“Ducky,” Daehyun berbisik lirih. Matanya menyalang galak; setengah waspada, setengah emosi.

“Hari yang panjang, anak-anak? Malam telah tiba, dan kegelapan adalah hal yang disukai Dark Witch—aku tahu kalian juga suka gelap—menyenangkan, ‘kan? Baiklah. Seperti janjiku, setiap malam kami—Kementerian—akan memberikan evaluasi dan suspect untuk diumumkan secara merata; karena kami tahu informasi adalah kunci segalanya. Sayangnya, tadi siang tidak ada yang berjalan lancar. Aku menunggu, tapi tidak ada yang datang. Kupikir perintahku belum cukup jelas—tapi tidak, sangat tidak. Sir Chanyeol, Sir Minseok, Sir Jongdae, Sir Tao—dengan sangat berat hati—kuumumkan mereka berempat adalah yang pertama gugur dalam misi ini. Masih muda! Tidak tahu apa-apa, sungguh kematian yang ironis. Tapi jika setiap dari kalian berpikir bahwa kematian para pria muda tangguh tersebut adalah kesia-siaan belaka, kalian salah. Berkat para pemuda itulah kami, Kementerian, dapat menyimpulkan dua suspect malam ini. Dengan sangat berat hati juga, kuumumkan target yang bisa kalian kejar esok hari—“

Yuri muak dengan Ducky—actually, everyone did. Satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan adalah Daehyun. Sebagai ketua tim, dirinya tentu merasa bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi dengan rekan-rekannya. Dari ekor mata Yuri, ia bisa melihat ekspresi keras yang ditorehkan Daehyun pada wajahnya. Kepalan tangannya yang seolah siap menghantam rantai besi panas, mata awas yang menyalang ke atas, rahang yang terkatup rapat disertai gigi yang bergemeletuk marah, Yuri tahu betul Daehyun sedang menahan luapan amarahnya. Ia berusaha keras mengontrol emosinya tanpa menunjukkan kesedihannya pada orang lain. Meski baru mengenalnya selama beberapa hari, jiwanya seakan dibisiki bahwa Daehyun sudah seperti itu sejak dulu; diberi tanggung jawab akan hal-hal besar dan membiasakan diri untuk siap dalam setiap momen kehilangan. Seakan, Daehyun sudah melihat hal yang seperti ini berkali-kali dan melatih dirinya untuk tak menunjukkan emosinya pada siapa pun.

Pikiran untuk menutup telinga pun mendadak musnah dari benak Yuri. Sejujurnya, ia malu. Jika Daehyun—yang sesungguhnya merasa lebih bertanggung jawab—bisa sedemikian tabah, mengapa pula Yuri harus menyerah.

Kini, dipasangnya telinga baik-baik. Ducky belum selesai—setidaknya sampai tujuh hari ke depan—jadi, jika Yuri ingin menyelesaikannya lebih cepat, ia akan mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir musuh. Ia ingin tahu taktik apalagi yang akan dimainkannya, juga cara-cara jitu untuk keluar dari perangkapnya.

“—Lady Isabella Brigiddy & Sir Liam Wilbert, satu dari anda—atau bersama-sama—dicurigai telah menyabotase pertandingan, membunuh empat rekan dari tim lain, dan menebarkan ketakutan serta fitnah. Apa dan kenapa akan kami jelaskan secara pribadi, jika dan hanya jika ada yang mau mengantarkan Lady Isabella dan Sir Liam ke tempatku, yang akan kuberitahukan—jika dan hanya jika—ada yang menunjukkan niat. Kementerian memerhatikan, rekan-rekanku sekalian. Dan jika kalian berniat—sedikit saja—untuk menangkap Lady Isabella atau Sir Liam, aku akan menghubungi dengan cara-cara yang tak akan kalian duga sama sekali. Semua orang diperbolehkan ikut dalam pencarian, tanpa terkecuali rekan satu timnya—barangkali, terserah. Dan untuk kedua suspect, akan kuberikan amnesti eksklusif jika kalian, dengan lapang dada, mau menyerahkan diri pada Kementerian. Hanya dengan menunjukkan niat, kami akan datang mencarimu. Sederhana dan seru. Nah, teman-teman pemberaniku, sekarang, buktikan bahwa kalian mampu. Selamat berjuang!”

Begitu suara nyaring itu enyah dari udara, Suzy Lovegood terduduk lemas di atas tanah. Celana hitamnya penuh dengan tanah basah ketika ia berdiri pelan-pelan karena menyadari gerak-geriknya mendadak diperhatikan.

“Aku… bersyukur, tak ada satu pun dari kita yang…”

Apa pun yang hendak dikatakan Suzy, Youngjae sudah memotongnya. “Kita harus membuat keputusan. Isabella dan Liam adalah dua penyihir hebat. Jika kita ingin menangkapnya sebagaimana yang diinginkan Ducky, maka kita hanya punya waktu sedikit untuk menyusun rencana.”

Himchan mengibaskan salah satu tangannya. “Kita tidak akan ikut perburuan. Pokoknya tidak jika Baekhyun masih belum pulih. Issy dan Liam berada di satu tim yang sama dengan Hansel Duppont. Dia benci kekalahan, dan akan melakukan apa pun demi melindungi apa yang menjadi harga dirinya. Dalam kasus ini, aku hampir yakin sembilan puluh persen, ia akan menyembunyikan Issy dan Liam. Seandainya kita bersikukuh menemukan keduanya, Hansel akan menjadi lawan yang tangguh. Tim ini akan sangat kepayahan jika bertarung dengan tim Hansel yang memiliki sekompi pasukan tangguh. Tidak menguntungkan, tidak akan berhasil, apalagi dengan kondisi Baekhyun sekarang—Daehyun, keputusanmu?”

Yuri sangat setuju. Ia tidak ingin bertarung—lebih tepatnya tidak akan. The Soul sudah memperingatkannya apa yang akan terjadi jika ia terlalu banyak mengeluarkan energi dalam pertarungan: energi murninya akan habis, kekuatan pecahan dark witch akan menguasai. Kehilangan kontrol sedikit, maka bukan hanya nyawanya yang terancam, nyawa orang-orang di sekitarnya juga dipertaruhkan. Tidak. Yuri tidak bisa mengambil resiko sebegini besar di hari-hari pertama misi. Ia harus menekan keinginan bertarungnya selama mungkin, paling tidak, sampai ia tahu siapa yang bertanggung jawab untuk kematian sia-sia sepuluh tahun lalu.

Yuri melengang mundur perlahan. Meski Daehyun belum berkata apa-apa, ia sudah tahu apa yang dipikirkan pemuda itu jauh sebelum ia membuka mulut.

“Krystal, Sehun dan Yuri akan menjaga Baekhyun. Sisanya, bersiap. Kita akan mencari Liam dan Isabella saat fajar nanti—yang berarti empat jam lagi.”

Yuri agak terkejut hingga tubuhnya sedikit limbung ke kiri. Youngjae, yang berdiri tak jauh, dengan sigap menangkap tubuhnya.

“Apa?”

Suzy Lovegood sama terkejutnya dengan Yuri. Pasalnya, Daehyun baru saja memerintahkan satu misi mustahil bagi mereka, yang mungkin, akan membuatnya menjadi seseorang yang paling dicurigai sekarang.

“Kita akan mencari tahu apa yang terjadi, dan satu-satunya cara adalah menanyai mereka yang masih hidup setelah misi misterius barusan. Liam dan Isabella, kita harus menangkapnya hidup-hidup.”

“Tidak,” Yuri menolak tegas. “Kau tidak bisa melakukan itu. Kita tidak bisa kehilangan orang lebih banyak lagi. Kau mendengarkan Himchan, Daehyun. Hansel Duppont adalah tim yang tangguh. Lagipula, jika hanya itu tujuanmu, kita bisa bertanya pada tim lain. Mereka pasti punya, setidak-tidaknya, salah satu yang masih hi—“

Yuri kemudian teringat soal Baekhyun. Meski ia selamat, kondisi fisiknya berantakan total. Belum lagi, ia masih tak sadarkan diri sejak ditemukan malam tadi. Yuri bisa menebak kondisi para survivor yang berada di tim-tim berlainan. Ia merasa konyol setelah berkata demikian pada Daehyun.

“Mereka belum tentu berkooperasi dengan baik. Lagipula, Ducky tidak mungkin curiga tanpa alasan. Barangkali, dari delapan anak yang ditugaskan bertemu dengannya tadi sore, hanya Isabella dan Liam yang dianggap paling beruntung untuk kembali dengan utuh. Dengan tekanan yang datang dari berbagai arah, aku hampir yakin penuh Isabella dan Liam dapat dengan mudah diinterogasi. Kita harus mendapatkan keduanya sebelum tim lain. Kita harus mengorek informasi dari Liam dan Isabella sebelum Ducky. Kita harus menunjukkan niat untuk memburu mereka sebagaimana yang Ducky inginkan.”

Youngjae menyela, “Jangan sebut namanya, dia pasti mendengar percakapan ini, memerhatikan kita dari jauh, dan aku yakin ia pasti sangat tidak sabar sekarang.”

“Itu yang aku inginkan,” Daehyun mendongak ke atas. “Dari sisi mana pun dia memerhatikan, dia tak akan menyentuh siapa pun selama kita di dalam arena ini. Highway memerhatikan. Para guru yang sangat percaya pada kita, berada di sana juga—jangan lupakan itu. Ducky dan Kementerian tak akan menyentuh kita, selama ada mereka. Sudah bagian dari peraturan. Lagipula, soal keputusanku ini… aku juga ingin membuktikan beberapa hal… mungkin Nona Lovegood bisa menjelaskan beberapa hal soal celananya.”

Seluruh pasang mata, termasuk milik Yuri, mengecualikan Baekhyun yang masih terpejam, melirik tepat pada celana hitam Suzy yang masih kotor akan tanah basah. Sang gadis pemilik celana sempat kebingungan selama beberapa saat, kemudian menepuk-nepuk pahanya untuk mengenyahkan tanah dari celananya—tanpa tahu mengapa.

Sukar untuk menebak makna di balik kalimat Daehyun yang penuh teka-teki, tapi Yuri segera tahu ketika ia menanamkan pandangannya pada tanah yang dijejaknya. Ia berada di barisan belakang dari prisma energi, jauh di belakang punggung Suzy yang berada di ujung depan prisma energi, tepat di samping sebuah pohon pinus di mana Chanyeol dan Baekhyun ditemukan untuk pertama kalinya.

“Tanahnya…” Yuri terbata. Ia mendongak dan menatap Daehyun penuh antusiasme sekaligus kekaguman akan pengamatan cermat sang pemuda. “…basah.”

Tak perlu lebih banyak kata untuk menjelaskan. Himchan adalah yang pertama kali memekik dan menyadari apa yang sedang coba Yuri sampaikan. Tanah basah—hampir seperti bubur—berada di bawah kaki Suzy Lovegood, mula-mula berasal dari area sejajar pohon pinus di sebelahnya, hingga ke ujung depan, tenggelam dalam kegelapan malam. Sementara sisi lainnya, kering. Sekering tanah yang diinjak Yuri.

“Tapi, tidak ada hujan seingatku,” Krystal mengingat-ingat.

“Memang tidak ada,” Himchan menanggapi. Ia baru saja selesai mengamati jejak-jejak tanah basah yang sama di permukaan sepatu Baekhyun. “Tapi itulah yang menarik.”

“Dedaunan di sana juga basah,” Sehun menambahkan setelah membuat sihir singkat dengan tongkatnya. “Aku mendengar banyak tetes air yang turun di depan sana, dan aroma petrichor di dalam kegelapan. Seperti baru saja hujan deras mengguyur daerah sana beberapa jam yang lalu.”

“Atau air bah,” Daehyun menimpali. “Tak ada yang tahu. Baju Chanyeol dan Baekhyun kering, tapi mereka menginjak tanah yang basah. Aneh. Aneh sekali. Kalau boleh aku mengutip Ducky, ini semakin seru. Aku butuh Issy dan Liam untuk mendapatkan informasi, bahkan jika hanya secuil. Aku harus tahu apa yang membuat sahabatku mati, agar mereka bisa pergi dengan tenang. Aku harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana menghentikannya. Aku harus tahu semuanya. Untuk itu, bantulah aku. Belum saatnya menyerah, kita baru saja mulai.”

Aku sudah lama sekali tidak mendengar pidato yang begitu persuasif. Boleh kuakui, kata demi kata yang keluar dari bibir Daehyun, meresap masuk ke jiwaku. Bulu kudukku meremang, aku tiba-tiba merasa sangat kuat… dan siap. Jika saja aku diperbolehkan untuk mencari para suspect, aku akan rela melakukan apa saja di bawah pimpinan Daehyun. Kalimatnya tidak hanya menghipnotisku, tapi membangkitkan sebuah keberanian aneh; sebuah keberanian tanpa batas—seolah Daehyun sudah terbiasa melakukannya.

Mungkin itu jugalah yang dirasakan Yoo Youngjae sampai-sampai ia menyalami Daehyun dan berulang kali memujinya.

Rasanya sangat aneh. Daehyun bahkan tak lebih tua darinya, tapi Yuri merasa sang pemuda memiliki sebuah kekuatan yang sangat tua, kuno, dan berpengaruh. Ia sudah tahu bahwa Daehyun sangat mencurigakan sejak insiden ‘serangan mendadak Dark Witch’ di sekolah. Yuri mencoba melupakan yang satu itu, tapi sekarang ia teringat lagi.

Daehyun pasti menyembunyikan sesuatu seperti dirinya, Yuri berasumsi. Tapi, berbeda dengannya, sesuatu yang disembunyikan pemuda itu sepertinya jauh lebih tua dari apa yang ia bayangkan. Sangat tua bahkan untuk seseorang yang sudah hidup terlalu lama sepertinya.

.

.

“Sudah dimulai,” Gianna berbisik pada dirinya sendiri. Ia duduk di sebuah bangku yang terbuat dari susunan bebatuan kali yang dipecah dan direkatkan dengan semen putih—atau barangkali sihir juga sebab seluruh permukaan lengkungnya berkilauan dengan cahaya warna-warni.

Di sekeliling Gianna, menjulang berbagai artefak sihir. Topeng-topeng menyeramkan tergantung di dinding bercat putih di belakangnya. Lukisan klasik dan pajangan dua dimensi yang tak bisa digolongkan ke dalam karya lukis—karena bentuk bingkainya yang menonjol, berurat, dan berubah-ubah—berjajar rapi di bawah topeng-topeng seram, berselang-seling menutup cat di dinding yang terkelupas. Di dinding yang lain, sudah habis ditutup oleh coretan tinta, sehingga hampir sekilas terlihat seperti papan tulis raksasa magis. Di antara coretan itu, tertulis tiga puluh nama siswa-siswi spesial-nya—29 berada di bawah kendali Kementerian, sementara satu yang tewas di Desa Gimpkins, Cass Hamlette. Ada garis lurus melintang pada nama Cass dan empat orang muridnya yang lain, menandakan bahwa ia baru saja kehilangan lima nyawa berharga dalam waktu yang singkat.

Gianna ingin mengeluh dan khawatir pada kedua anaknya yang masih berada di dalam bahaya. Akan tetapi, ia tidak punya waktu untuk itu.

Lee Jongsuk datang setelah mengetuk pintu. Di belakangnya, ada Park Haejin dan Levi Kard yang mengekori.

“Bagaimana?” tanya Haejin terburu-buru. Gianna menanggapinya dengan gelengan. Ia melemparkan pandangannya pada cermin besar yang digantung di permukaan dinding, tepat di hadapannya.

“Semoga arwah mereka tenang,” Haejin berkata lirih.

“Apa yang bisa kita lakukan?” Levi bertanya. Ada sedikit nada frustasi dalam kalimatnya.

“Menunggu,” sahut Jongsuk. Ia berjalan ke arah Gianna, meninggalkan kedua rekannya yang masih terbingkai kusen pintu. “Gregory dan segenap Kementerian Sihir sekarang juga sedang menunggu. Mungkin kau ingin bergabung, Profesor? Aku yakin Gregory akan sangat senang punya teman bicara dan berbagi rencana. Aku dan Gianna akan memonitor diam-diam di sini. Haejin, kau juga bisa pergi, waktumu mengajar di kelas reguler jika aku tidak salah ingat.”

Sebuah pengusiran yang cukup santun mengingat reputasi Jongsuk. Haejin sempat bercemeletuk soal betapa tidak realistisnya mengajar di situasi sedemikian intens, tapi akhirnya ia pergi juga setelah Levi undur diri, meninggalkan Jongsuk dan Gianna dalam ruang rahasia tertutup.

“Yang kaulakukan ini berbahaya, Gianna. Kalau Profesor Gregory—bukan, lebih buruk lagi, Kementerian—mengetahui ini, kau tak bisa membayangkan apa yang bisa mereka lakukan pada sihirmu.”

Gianna berdecak. “Ruangan survey paralelku ini tidak seberapa berbahaya dibandingkan apa yang kaulakukan, Jongsuk.”

Jongsuk menjengitkan salah satu alisnya.

“Aku tak tahu detail dari rencanamu, tapi memberikan kalung sihir pada Nona Feckleweis, jangan pikir itu luput dari penglihatanku.”

“Ck, seperti biasa, kau sangat cermat. Apakah Nona Lovegood memberitahumu?”

“Tidak. Jangan kau pikir hanya dirimu yang bisa menggunakan sihir memori.”

Jongsuk tertawa. “Lionel Dimps! Harusnya aku tahu!”

Gianna tersenyum puas. Punggungnya melandai kembali ke belakang, ditopang oleh sihir udara sehingga ia tidak jatuh. Di sisi lain, Jongsuk sedang sibuk tertawa atas kebodohannya, sehingga ia tidak sengaja menjatuhkan sebuah gelas kaca ke lantai. Untunglah gelas itu melayang berkat sihir gerak cepatnya.

“Jelas sekali,” Jongsuk menangkap gelas yang melayang, memuntir-muntir ujung jarinya di pinggiran mulut gelas. “Kau dan aku, masing-masing punya rencana.”

“Punyaku lebih rapi dan tertata, kau lebih radikal.”

“Gianna,” Jongsuk tertawa memandangi pantulan dirinya di permukaan gelas. “Musuh kita sama, tapi tujuan kita berbeda. Aku tahu, kau ingin menyelamatkan semua muridmu. Caramu elegan dan politis. Tapi aku… aku punya tujuan yang lain…”

Gianna memotong, “Jangan pernah kau berpikir tentang balas dendam, Jongsuk!”

Dark Witch, mereka tujuanku. Tidak. Balas dendam merupakan konsep orang-orang berpikiran sempit—dan aku tidak termasuk di dalamnya. Tidakkah kau sadari, Gianna, selama Dark Witch hidup, peristiwa seperti ini bisa terjadi di masa-masa yang akan datang, berulang, berpola sama dengan tokoh-tokoh yang berbeda. Kita tak bisa menghentikannya kecuali sekarang dan saat ini. Mata rantai ketakutan itu harus dimusnahkan. Dan demi menghadapi para penyihir barbar, yang kubutuhkan adalah cara-cara radikal: konfrontasi fisik, sihir-sihir terlarang, dan legenda…”

Dahi Gianna mengerut seiring dengan gelas kaca yang dilemparkan Jongsuk di udara sekali lagi. Tak ada massa yang jatuh walau Gianna menunggu, alih-alih, gelas itu melayang berputar-putar pelan di atas kepalanya. Warnanya yang bening berganti menjadi merah lantas ungu kemudian kembali transparan. Dari setiap warna yang berganti, muncul siluet-siluet familier yang mengejutkannya; dua entitas legendaris berukuran besar.

“Kau… tidak mungkin… itu cuma legenda…”

“Karena mereka legenda,” Jongsuk menangkap gelas kaca yang kemudian meluncur turun ke tangannya. “Oleh sebab itu aku membutuhkannya. Melalui kalung itu, aku akan mencari tahu. Dark Witch sudah memulai serangan, dan aku yakin, cepat atau lambat mereka akan sampai pada kesimpulan yang sama seperti kita: Nona Feckleweis. Oh, jangan terkejut begitu karena bukan hanya kau dan Gregory yang tahu. Tujuanku ke sini bukan untuk bicara sampah dan basa-basi. Sebenarnya, aku tahu soal rencana besarmu. Bagus, sangat inovatif, tapi punya celah besar bagi rencanaku. Untuk itu, Gianna, kumohon tahan rencanamu sampai aku memberimu sinyal. Aku butuh lebih banyak waktu untuk memeriksa.”

“Tidak,” Gianna menolak tegas. “Semakin lama aku menunda rencanaku, semakin banyak murid-murid yang akan tewas. Tidak. Aku tidak bisa mengambil resiko itu.”

“Sudah kuduga kau akan mengatakannya,” Jongsuk meletakkan gelas ke atas meja kerja Gianna kembali. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya, mengayunkan benda berukuran lima belas sentimeter itu ke udara hingga muncul sebuah gambar bergerak yang mempertunjukkan dua wajah tak asing, tengah bergerak tergesa di lorong-lorong sekolah. Terdengar percakapan singkat samar-samar ketika mereka berjalan. Suara itu baru terhenti ketika keduanya bergabung dengan kerumunan yang tengah panik karena peristiwa pingsannya Yuri.

“Tidak… mungkin…” Gianna memekik, menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Bukankah itu Yoo Youngjae dan…”

“Liam Wilbert, ya, mereka. Aku menyembunyikan ini dari Gregory dan Kementerian dengan sedikit bantuan—kau tidak perlu tahu. Jelas sekali mereka ditumpangi Dark Witch, dan sudah pasti mereka mencari seorang lagi kawanannya. Mereka tidak tahu siapa, dan menggunakan permainan yang dibuat Kementerian sebagai momen untuk mencari tahu. Dan sejak peristiwa Nona Feckleweis yang diserang, aku hampir yakin kalau dua orang itu mewaspadai kekuatan Feckleweis tanpa tahu apa yang ada di dalam jiwanya. Untuk itu, jika kau mengizinkan…”

“Baiklah, baiklah,” tangan Gianna gemetar. “Aku tahu apa yang harus kulakukan. Sebaiknya, kau juga tahu apa yang kaulakukan. Aku tidak ingin pengorbanan semua orang di dalam sana menjadi sia-sia.”

.

.

tbc


Ditunggu kelanjutannya (gak akan lupa, kok, paling-paling delay hehehe)

23 thoughts on “The Sorcerer’s Diary [Part 13]

  1. Cynthia berkata:

    Ternyata satunya Liam..
    Aq kira siapa. Penasaran pas bagian itu.
    Wahhh gimana ini???
    Kalo yuleon ketemu semua dark wicth gmn ya???
    Apa pecahan2 itu akan keluat terus jadi satu membentuk tubuh sendiri atau karena potongan di tubuh yuleon lebih besar mereka akan menumpang di tubuh yuleon???
    Gak kebayang deh.. kasian yuleon..
    ini cm imajinasiku aja.. heeheheheee..
    Kalo gak bener ya gpp..
    Ayo jgn lama2 delaynya😀
    Penasaran kelanjutannya…

  2. stffnat berkata:

    Sudahlamaaaa sekali rasanya gak baca ff yuri yang fantasy kek gini. Ff yang genre fantasy kek gini kayaknya bidang eon banget!!. Baca kek ginian jadi keinget vengeance bener kagak tuh. Lupa yg jelas yuri luhan hahaha. Jangan didelayy eon wkwk nanti sensasi berdebarnya ilang (?). Kalo teori penulisan dll mah kayaknya udah khatam eonni, no complaint. jadi, ditunggu nextnya aja.

  3. Rania SonELF berkata:

    Ah Kak Nyun kmu spertix spesialisasi buat bkin crita dengan genre kya gini… Ini daebak Kak Nyun

    Pada tanggal 17/03/16, BlackPearl Fairy Ta

  4. mellinw berkata:

    Oh yes banget dilanjitiiiinn yesyes.

    Kakak inget malem malem kita ngobrol gak? Aku menduga liam, bener kaaaan..
    Aku yakin banget, sosok minho gak akan jadi peran yg tdk penting di ff kakak, dan juga segala cerita sebelumnya mengacu ke liam, sebagai the 2nd dw. Owowow

    Ff ini bener bener panas segala insiden dari awal sampe percakapan duo sahabat itu..
    Aku penasaran, tindakan Gianna dan jongsuk, mungkinkah diam diam gregory tau.. Selalu ada teka teki tak terduga..

    Jugaa, issy ada saat serangan itu, dan dia tdk mati! Issy ini tau gak apa yg minho lakukan, atau kalaupun dia tau, tentu dia sadar minho adalah ancaman besar, kecuali jika issy sendiri adalah si darkwitch juga.

    Aaaakkk aku butuh sudut pandang hansel duppont dalam kasus ini. Gimana reaksi dia kpd issy dan liam. Juga aku gemes sama kepura puraan youngjae, aku harap youngjae gak tau menau ttg suzy, ohya suzy pasti sudah tau siapa youngjae kan kak?

    Aku akan sabar menunggu hingga chapter selanjutnya hadir, hihi

  5. Stella Kim berkata:

    OH MY GOD! I was actually screaming waktu liatff ini di update!!! Kaknyun I love youuuu wwkkwkw <3<3<3 udah kangen parah deh sama ff ini!

    Chapter ini very surprising yet bikin penasaran, selalu deh kak akhirnya itu lohhhhhhh bikin kita gabisa lupa sama ff ini.
    Keanya suzy masih belom tau ya siapa dark witch selain yuri, maknya aja gatau(?) wkwkkwkw. Pokoknya bakal di tunggu deh kelanjutannya walau seribu tahun lamanyaaaaaaa WKWKWKWKKW

  6. Lulu KEG berkata:

    Wow seneng demi apa pas nemu part 13 TSD,, setelah sekian lama huhu akhirnya lope lope dah kak Nyun:*

    Issy sama Liam kemungkinan besar udah pasti Liam.. sumpah aku gak bisa ngeduga.. Daehyun omegot entah kenapa dia kok jadi keren banget gini kak Nyun,, Himchan aje mpe kalah haha
    please Aku penasaran banget next nya pengen tau sudut pandang dari tim nya Hansel mereka lagi ngapain itu pas Ducky cuap-cuap??

    haduh baca ff ini tuh bikin imajinasi ku amburadul parah dah, serasa tenggelam ke dunia Harry Potter dengan segala sihir aneh bin ajaib nya.. Kak Nyun kecew banget emang parah gada duanya asli
    tolong lah kak Nyun ini jangan lama, yah.. tapi sih tetep aku bakal nunggu dan semoga dengan kembali muncul nya TSD ini ff lain yang masih oh juga langsung mengikuti jejaknya ..amin:D
    pokonya Mangatse Ka Nyun!! Makasih^^

  7. imaniarsevy berkata:

    finally…
    yey… update juga….
    widih.. emang ga pernah bisa meragukan semua karya karnya nya kak myun.
    apalagi yang fantasi.. aduh..
    ga tau mau komen apa.. kerren banget sumpah…
    nexxt kak nyunnn

  8. Dewi (Kwon Yul Yul) berkata:

    wah kak..kangen banget sama ff ini, makin kece deh! hmm butuh sudut pandang team nya hansel , penasaran banget..
    kak, disini daehyun bikin lope lope banget deh, aura kepemimpinannya ada , jadi klepek gitu aku nya , haha… pokoknya ditunggu slalu deh next chapternya^^

  9. wulan berkata:

    Omoooo… Kangen banget sma ff ini.. Akhirnya kaknyun update…. Yooohooooo.. Makin seru + menegangkan ini.. Penasaran apa rencana dari Gianna sma jongsuk.. D.tunggu next partnya kak…

    Oh ya, d.tunggu kelanjutan TOZ nya kak.. ^.^

  10. liliknisa berkata:

    akhirnya update juga
    udah lama banget nunggu cerita ini lanjut
    dan makin penasaran ditunggu kelanjutannya kak nyun

  11. lalayuri berkata:

    Kak nyun astaga akhirnya ff ini diupdate juga. Astaga seneng banget aku pas liatnya. Pada akhirnya penantianku menunggu ff ini sampe lumutan *maafkan kelebayanku* ceritanya makin seru makin tegang makin bikin penasaran. Kak nyun emang cocok banget deh buat ff genre beginian. Oia aku mau nanya yg dimaksud jongsuk yg 2 entesitas legendaris itu yuri dan daehyun kah ? Aduh kak updatenya jangan lama” dong udh penasaran bgt nih

  12. lizanining berkata:

    Kak nyun, sejujurnya mungkin aku harus baca ulang dr chapter 1 wkwkkwkw
    Tp meskipun tidak tahu menahu atau lbh tepatnya lupa cerita sebelumnya, chapter ini ttp bisa bikin jantung deg degan wkwkwk
    Great work kak (y)

  13. Autumn Hwang ツ berkata:

    kak nyunnnnn… akhirnya di update juga FFnya…
    Haha.. gomawo ^^
    aigooo, ini setiap castnya punya rahasia masing-masing. Penasaran nihhh sama rahasianya…
    Gak kaget sih sama youngjaenya. Uda nduga-nduga soalnya.
    Updatenya jangan lama-lama ya kak nyun.. See you ^^

  14. Retha Lee berkata:

    Maap ya kak, aku baru sempet komen nih. Hehe. Pas tsd yg part ini update lgsg ku simpan offline trs bacanya dikit dikit hehe sesuai mood soale 😁
    wawawa tsd makin seru deh. Hmm sudah kuduga si liam wilbert nih darkwitch satunya khukhu.

  15. nia berkata:

    hai kak nyun.sudah lama ga berkunjung kesini hehee
    dari duluuuuu banget nungguin lanjutan ff ini. sampe akhirnya di lanjut juga, dari terakhir part 12 bln agustus 2014 ya kak.. lamaaaa sekali ternyata. untung masih inget part 12 nya heheehe
    yang semakin bikin penasaran disini itu daehyun. kayaknya dia lightwitch ? hahahaha
    soal gianna pasti dia was was banget sma 2 anaknya itu.oiyah lionel dimps how are you?
    ditunggu lanjutannya qaqa
    fighting !

  16. Puput berkata:

    Liat teaser dlu castnya liam siapa eh ternyata minho. Minho sm young jae jadi dark witch ya, oiya yg marka sama jr kapan kak? Update yaaa ><

  17. SSY_Kwon berkata:

    Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…… kak nyun ini apa? apa? kok aku lupa castnya :’v
    ah, ternyata aku komen ep 12 udah dua tahun yang lalu T0T /baru nyadar

    Aku gak akan sedih liat baekyeol disini, cukup 2 tahun yang lalu aja sku nangis /eaakk
    btw, makin kesini makin khawatir sama Yuri yang se-tim sama Youngjae, aku masih penasaran bagian nunjuk2 YulDae itu, sempat ngayal kalo baek sama yeol liat yuri sama Dae pas di hutan, yang aslinya bukan mereka, atau baekyeol tahu sesuatu?
    dan demi apa, Liam? oke dia ternyata satu lagi, seingatku ada bagian dae ngomong sama sosok di cermin, dan sosok itu diceritakan sebagai ‘sosok’ kan? dia bilang gak se-tim sama Yuri, ternyata si Liam :’v
    Demi what, Suzi sedih amat yak…
    Lah, itu 30 murid, siapa ntu bocah satu? :’D empat murid meninggal? pas dong sama yang meninggal di ‘permainan’ menjemput misi?
    Jongsuk minta bantuan siapa nih, eh tapi aku masih bingung, jongsuk itu sadar apa enggak kalo Lee Hi ada dalam tubuh Yuri….

    Daehyun itu sosok yang warbyazah, aku kagum juga kan…. sayangnya makin kesal liat Youngjae salaman ama Dae, kan seram… btw, Yuri sempat mikir kalo Dae udah terbiasa dengan situasi itu-spekulasi- dan aku seketika lupa latar belakang Dae :3

    Hmm.. Kementrian membingungkan juga ya, entah apa yang mereka rencanakan? .-.

    hadeh.. lupa apa aja yang mau ako komen, yasugalah… thanks kak nyun….
    ditunggu part selanjutnya /dadah2 ala miss world

  18. kyulyulmiu berkata:

    yaampun aku baru bca ini dan apa?
    chanyeol huwaaa
    disini yuri berulang2 bilang daehyun tua,kuno
    trrus apa sih yg direncanain kementerian
    btw part ini ceritanya bikin dagdigdug

    dtggu nextpart kaknyun

  19. Ersih marlina berkata:

    Kawan lawan. Ga ada bedanya. Ducky ngmong liam sma issy mungkin menyabotase arena.
    Wah udah kebuktikan lim sma youngjae, nah. Liam udah berhasil bunuh 3 berartu kekuatannya nambah. 4 kalo baekhyun ga bangun lagi.

    Wow, pertempuran yg sereem abis. Oke lah ka nyun, selalu d tunggu update tannya hhehe fighting

  20. Ckh.Kyr berkata:

    Astaga ternyata Liam Wilbert.
    Berarti yg menyabotase pertarungan tadi emang dia dong.
    Ngomong2 tanah basah, itu siapa yg buat ya

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s