Youniverse [16 of ?]

YOUNIVERSE12121

a story by bapkyr

To people who believed in love at the first sight: have you overcame it yet?

Nama wanita paruh baya penjaga lapak suvenir bukanlah Barbara ataupun Sofia, bahkan sama sekali tak mendekati. Namanya Kiri Matsumoto, seorang warga negara Jepang yang dilahirkan dari pernikahan silang Jepang dan Jerman. Seluruh keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jepang setelah melahirkan Kiri. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, keluarganya memutuskan Sapporo sebagai tempat tinggalnya sampai tua.

Setelah berbincang sejenak—dan minta sedikit air panas untuk ramen cup, tentunya—Yuri dan Natsu memutuskan untuk bersedia diramal Kiri. Tendanya tak hanya menjual suvenir; pijat refleksi ala Eropa, jasa melukis sketsa wajah, sampai meramal pun tersedia di sana. Yuri mencoret pijat dan melukis wajah dari daftar rasa terima kasihnya—harganya sepuluh kali lipat harga semangkuk ramen—dan setuju untuk menggunakan jasa ramalan Kiri sebagai ganti.

Ia sudah sedikit berpengalaman dengan masalah ramal-meramal, oleh sebab itu Yuri mempersilakan Natsu duluan. Yuri dan Natsu berdiri bersisian di depan Kiri yang mulai melakukan sesuatu dengan kartu-kartu besar bergambarnya.

“Ini Tarot,” jelas Kiri. “Aku akan meramal keberuntunganmu tahun depan. Pilihlah tiga kartu setelah kukocok nanti.”

Kiri benar-benar bekerja dengan sangat cepat. Dalam sekejap mata, puluhan kartunya dikocok dan dijajarkan tengkurap di atas meja persegi. Ia mempersilakan Natsu memilih tiga di antaranya.

Dari tiga kartu besar tersebut, Kiri mulai menunjukkannya satu per satu, kemudian menjelaskan ramalannya pada sepasang muda-mudi yang tak sabar menunggu.

“Kau adalah pria yang kurang beruntung, Hiroyuki-san. Nampaknya, cintamu ditolak baru-baru ini.”

“Hahaha.”

Natsu menanggapinya dengan tawa renyah sementara Yuri memasang wajah canggung di sebelahnya. Kiri sepertinya lebih ahli dibandingkan peramal pernah Yuri temui.

“Tapi kau tidak perlu cemas, kehidupan cintamu agak rumit, tapi kau memiliki kartu The Lover. Seorang gadis yang tepat akan datang membenahi hatimu.”

Natsu menjentikkan jarinya, merasa bangga dengan ramalannya sendiri—yang padahal belum tentu terjadi seratus persen. Ia membusungkan dada, menyombongkan diri ketika Kiri menyatakan bahwa ramalannya sudah selesai. Ekspresinya seolah mengejek Yuri, nih, ramalanku keren.

“Sekarang giliranmu, Horikita-san. Pilihlah tiga kartu.”

Yuri menjadi cemas. Bukan hanya lantaran ia gugup. Mendengar ramalan Natsu barusan mendadak membuat hatinya berat. Entah bagaimana, ia tiba-tiba tak menyukai Kiri.

“Nah, hm… pilihanmu… wah…”

Kiri nampak sangat serius memandangi ketiga kartu yang telah dipilih Yuri. Ia tak lantas meletakkan ketiga kartu itu di meja dan mulai menjelaskan ramalannya, seperti pada Natsu. Alih-alih, Kiri membuatnya dramatis dengan kerap membolak-balik kartu-kartunya, menatap Yuri dan Natsu bergantian kemudian menghela napas berat berkali-kali.

Ketegangan itu berlanjut sampai ketika ia memutuskan menunjukkan ketiga kartu tersebut pada Yuri.

“Hidupmu penuh dengan air mata. Garis takdirmu bersilangan, sangat rumit. Takdirmu tidak buruk, tapi…,” Kiri menghela napasnya lagi. “Kau mengambil kartu The Death. Ada sebuah kematian yang akan memutarbalikkan seluruh takdirmu; menumpahkan tangisan terakhirmu.”

Kesunyian merayap sesaat. Untuk bernapas pun Yuri enggan rasanya. Ramalan Kiri terdengar begitu menakutkan; sebuah kematian yang akan membuatnya menangis? Yuri patut cemas. Jika ada hal seperti itu terjadi, maka yang paling ia cemaskan adalah ibunya di Tokyo. Kepercayaannya pada ramalan memang setengah-setengah, tapi kekhawatiran tetaplah merayapi seratus persen isi kepalanya.

“Tapi kartu terakhirmu, Horikita-san,” Kiri masih belum selesai, ia membuka sebuah kartu terakhir yang dipilih Yuri dan menunjukkannya pada sang gadis. “The Stars—bintang. Selalu ada terang di tengah gelap,” Kiri memandang Natsu dan Yuri bergantian. “Kartu ini, kalian terjemahkan sendiri. Ramalanku biasanya tak selalu tepat, jadi simpan kartu terakhir sebagai kompensasi kalau-kalau aku salah.”

Kiri menyerahkan kartu tarot terakhir yang dipilih Yuri pada sang gadis. Ia juga menarik kartu The Lover yang sebelumnya dipilih Natsu untuk kemudian diberikan kepada sang pemuda.

“Hadiah,” katanya pendek.

Yuri sebenarnya ingin bertanya lebih banyak soal kematian dan takdir yang disebut-sebut Kiri, namun saat itu, Mini, anak sulung dari Kiri menginterupsi dengan tiga gelas ocha hangat.

“Silakan,” katanya. Mini nampaknya tak pandai bergaul dengan orang asing, jadi ia menghilang dengan cepat setelah menyerahkan sajiannya di atas meja ramal.

Kiri mempersilakan kedua tamunya untuk menyesap ocha sementara ia sendiri beranjak dari tempat duduknya. Gaun crinoline sederhananya terseret saat ia berjalan cepat, meninggalkan sisa-sisa debu di bagian bawahnya. Dari tempatnya duduk, Yuri bisa melihat bahwa Kiri sedang sibuk memerintahkan Mini dan adiknya mengelola lapak suvenir mereka. Si Sulung malahan sangat sibuk mencopot Universe Lantern yang tergantung di depan tenda atas perintah ibunya. Dari sana, terdengar omelan Mini, namun mulutnya segera bungkam begitu tahu Yuri memerhatikannya dari jauh.

“Natsu-kun, sudah agak malam, sebaiknya kita pulang sekarang,” usul Yuri.

Terdengar suara batuk kecil dan air tumpah ketika Yuri selesai mengatakannya. Gadis itu lantas melihat bekas ocha di kemeja yang Natsu pakai.

“Kau menumpahkannya?” tanya sang gadis.

“Sedikit. Aku agak kaget… kupikir kau betah di sini.”

“Oh,” Yuri menjengitkan bahu. “Ramalan Kiri membuatku tak enak hati.”

“Ramalan hanyalah ramalan, tahu. Lagipula tadi Kiri bilang ia tidak jago-jago amat.”

“Yah, mungkin aku agak mendramatisir,” Yuri setuju meski hatinya tetap berat.

Tak lama, keduanya beranjak. Natsu meninggalkan beberapa lembar uang sebagai imbalan jasa ramal Kiri di meja dalam tenda. Sementara keduanya bergerak ke ambang pintu keluar, Kiri mencegat Yuri di tengah-tengah. Pada Yuri, diserahkannya sebuah kotak berukuran sedang dari tangannya.

“Apa ini?” tanya Yuri.

“Lampion. Hadiah.”

“Untuk… apa?”

“Melawan takdirmu. Ambillah. Aku sudah berjanji pada suamiku bahwa… pokoknya, ambil saja.”

Yuri melirik ke arah Natsu, menunggu saran. Sang pemuda malah menjengitkan bahu, menyerahkan kembali keputusannya pada Yuri.

“Maaf kalau aku dan Hiroyuki-san tidak sopan, sebelumnya kudengar kalau lampion itu… Universe Lantern…

“Kenang-kenangan dari mendiang suamiku, ya. You-niverse Lantern, bukan Universe. Suamiku yang menamainya. Benar, ini adalah peninggalannya, tapi… aku tak pernah benar-benar pernah menikah dengannya.” Yuri terbatuk saat mendengarnya, tapi Kiri tak begitu memedulikan. “Aku punya satu anak darinya, tapi kami tak pernah menikah. Dia meninggalkanku untuk seseorang yang lebih membutuhkannya, meski kami saling mencintai. Pernikahannya tak berjalan dengan baik dan ia menghilang. Terakhir, kudengar ia sakit keras dan meninggal.”

Yuri ingin bersimpati mendengar kisah cinta Kiri kalau saja wanita tersebut memberikannya waktu.

“Cerita yang sedikit haru, memang, tapi begitulah. Mendiang suamiku sangat mencintai benda-benda tiruan kosmik. Ia membuatkan lampion ini untukku, katanya agar aku tak merasa sendiri. Kini, aku sudah punya Mini dan adiknya. Rasanya kau akan lebih membutuhkan lampion ini dibandingkan aku dan anak-anakku. Kalau kautanya kenapa, anggap saja aku tahu semuanya. Anggap saja aku sudah tahu banyak tentang dirimu.” Kiri tersenyum meski Yuri menangkap maksud lain di balik kalimatnya. Cara Kiri memegangi tangannya atau memberikannya sebuah lampion redup sebagai hadiah, sama sekali tak terasa asing. Seolah, Kiri telah mengenalnya sejak lama. Juga berada di sana ketika Yuri melewati semua kesulitannya.

“Ambillah,” kata Kiri. “Mudah-mudahan kau suka.”

Yuri menoleh kepada Natsu untuk meminta pertimbangan sekali lagi. Sekarang Natsu mengangguk. Rupanya, hati sang pemuda terketuk keras setelah mendengar kisah Kiri. Natsu selalu mengeluh kenapa ia menjadi roda-tak-berguna dalam sebuah hubungan cinta segitiga, tanpa sadar bahwa bisa jadi mereka yang ditakdirkan saling mencintai tak selamanya memiliki akhir yang cinta yang sejati. Bahwa bisa saja pernikahan bukan merupakan salah satu muara. Bahwa bisa saja kematian akan membayangi.

Bukan saatnya bagi Natsu untuk meratapi kehidupan cintanya yang tak berbalas. Namun belum saatnya juga untuk menyerah. Jika dua orang yang saling mencintai tak ditakdirkan hidup bersama, maka selalu ada antiseptik untuk membersihkan luka. Selalu akan ada cahaya untuk menerangi gelap. Selalu ada bintang untuk menerangi malam yang gelap.

The Stars—bintang-bintang.

Natsu mengerjapkan mata saat ia ingat kartu tarot yang dihadiahi Kiri pada Yuri. Ia memandangi Kiri dengan berjuta tanda tanya tanpa suara. Matanya enggan berkedip atau pun merespon atas sintungan ringan dari gadis di sebelahnya.

Seolah tahu apa yang Natsu pikirkan, Kiri cepat-cepat menutup konversasi ketiganya dengan sebuah senyum.

“Terima kasih,” kata Yuri kemudian. “Benda ini akan kusimpan di kamarku.”

Kiri menanggapinya dengan anggukkan cepat. Ia mengantar kedua tamunya ke depan pintu tenda suvenirnya kemudian melepasnya dengan lambaian tangan lembut.

“Ibu, apa tidak apa-apa memberikan lampionnya pada orang asing?” Mini bertanya saat sang Ibu kembali duduk di balik meja kasir. Matanya tertuju kosong pada meja ramal, di mana sederet kartu tarot masih berjajar rapi.

Dipandanginya punggung muda-mudi yang baru saja pergi.

“Tidak apa-apa, melihatnya sama seperti aku melihat diriku bertahun-tahun lalu. Ayahmu juga pasti akan memahami kenapa aku memberikan lampionku padanya. Lagipula Mini…” Kiri menekan suaranya. “Lampion itu haknya juga.”

Mini tahu bahwa ibunya adalah wanita yang penuh dengan jutaan misteri. Sejatinya, ia sudah berhenti penasaran sejak usianya sembilan. Akan tetapi, ketika ibunya mulai membahas kembali tentang cerita di balik lampion peninggalan sang ayah, mau tak mau rasa penasaran itu hidup kembali.

“Maksud ibu…”

“Ayahmu terpaksa menikah dengan orang lain setelah meninggalkan Ibu. Dia memiliki seorang anak perempuan dari pernikahannya.”

“Anak perempuan… maksud ibu…”

“Sapporo memang sempit,” Kiri memejamkan mata.

.

.

Natsu enggan bertanya, tapi jika ada yang mengganjal hatinya, ia sudah tahu dengan pasti. Sejurus setelah ia dan Yuri meninggalkan tenda, wajah murung sang gadis kembali ditemukan Natsu sepanjang perjalanan pulang. Natsu tentu akan langsung bertanya dengan bodohnya jika ia tak tahu apa yang baru terjadi. Percakapan Yuri dan Luhan di Odori tadi terekam jelas dalam ingatannya; bagaimana Luhan memilih pergi atau Yuri yang memilih diam dan berlalu.

Yuri bukanlah gadis yang sukar ditebak. Natsu tahu betul karena, ya sebutlah, insting pria. Bukan perkara sulit untuk menghiburnya dan mengembalikan suasana hatinya yang dingin. Natsu sangat piawai, omong-omong. Namun demikian, mungkin saja tawa dan hangatnya hanya sebentar. Bisa jadi saat Yuri pulang ke rumah, hatinya kembali ditumpahi es. Siapa yang tahu, ‘kan?

Tadinya Natsu ingin berbasa-basi mampir ke rumah sang gadis, tapi kalau mood Yuri belum kembali, rasanya sama saja ia masuk ke kandang macan. Yuri atau Hani, semua wanita sama mengerikannya dengan monster kalau sedang tidak mood.

“Lusa aku pergi ke Tokyo.”

Yuri berani bersumpah kalimat tersebut meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa dipikir dahulu. Kedengarannya seperti ia minta dihentikan atau sekalian ditemani. Sisa-sisa suaranya tersaring dalam gendang telinganya, membuat Yuri malu luar biasa. Kok, bisa-bisanya, sih, ia bicara tak perlu begini pada seorang pria yang cintanya baru ia tolak.

“Em, aku tidak akan lama…” Yuri melirik hati-hati pada Natsu, memerhatikan pola gerak sang pria sembari berandai-andai ia tak mendengar apa-apa. Mudah-mudahan.

“Haha,” Natsu tertawa. Kedua tangannya masih betah bersembunyi di kantung parka tebalnya. Kakinya berayun pelan ke depan, menyeimbangkan langkah lebarnya dengan langkah kecil-kecil Yuri agar ia tetap bersisian dengan sang gadis. “Kenapa aku berpikir rasanya seperti kau baru saja mengkhawatirkanku?”

Yuri melirik waspada, ia tidak ingin gerakan anehnya ditangkap mentah-mentah oleh Natsu. Sebab kalau mata mereka bertemu, Yuri tidak mau direpotkan dengan kegiatan menjelaskan. Barusan ia bicara tanpa berpikir. Tak ada penjelasan untuk spontanitas. Titik.

“Atau mungkin kau mencemaskan dirimu sendiri.”

“Siapa?”

“Yah,” Natsu menjengitkan kedua bahunya. Senyumnya nampak sangat manis kalau saja Yuri tidak segugup itu untuk menatapnya. “Kau akan pergi ke kota yang kelihatannya sangat kau rindukan. Kau mencemaskan dirimu dan Sapporo, dan apa yang akan terjadi kalau kau tak ingin kembali. Sebab, aku tahu rasanya; tahu bagaimana Sapporo mengkotak-kotakan rahasia.”

Natsu membuat langkah Yuri terhenti. Tungkai sang pria sudah tak berayun ke depan, alih-alih menapak pasti di atas salju dalam sebuah ketidakgemingan. Tangannya bak membeku di samping tubuhnya. Yuri yang dari tadi mengamati, spontan bergerak. Tubuhnya digerakkan sedikit lantaran ia tak ingin suasananya menjadi canggung. Sialnya, tangannya bergerak terlalu cepat, sehingga dalam prosesnya, ia sempat merasakan lembutnya kulit punggung tangan Natsu—yang malah membuat Yuri semakin salah tingkah.

Tidak tahu kenapa. Jangan tanya.

Di lain pihak, Natsu nampaknya tak peka. Ia masih betah berdiri mematung sembari menahan hawa dingin yang menelusup ke tengkuknya lewat bagian leher parka yang bercelah.

“Meski begitu, aku tetap akan mengatakannya,” Natsu memalingkan wajahnya ke arah Yuri. Ia juga memutar tubuhnya sedemikian rupa sehingga praktis keduanya saling tatap. Mata untuk mata. “Kembalilah.”

Mata Yuri melebar seraya ia mengurai kalimat barusan di dalam kepalanya.

“Maaf?”

“Sebanyak apa pun kenanganmu di Tokyo, kau tidak akan pernah bisa mengulangnya dua kali. Maka dari itu, kembalilah. Sapporo bisa memberikan banyak hal selain dingin dan salju, aku ingin menunjukkanmu itu, suatu saat yang entah kapan. Tapi pertama-tama, kau harus kembali.”

“Itu… kondisinya… maksudku, aku pasti kembali, kok. Lusa nanti aku hanya pergi menemui ibu untuk liburan. Tidak seperti aku akan selamanya pergi atau apalah.”

Natsu tersenyum kecil.

“Kuharap begitu.”

“Kauharap begitu?”

Natsu cuma menunjukkan tawanya, memamerkan deretan giginya hingga matanya menyipit sempurna—hampir tak terlihat. Saat suara riuh lamat-lamat terdengar, Natsu segera mengangkat salah satu tangannya. Telunjuknya teracung ke atas, pada sebuah kembang api yang meletup dwiwarna di langit yang gelap. Dua sampai tiga kembang api dwiwarna lain menyusul di sampingnya, membentuk bunga-bunga raksasa yang gemerlapan. Tepuk tangan bersahutan di sana-sini, sejenak membuat Yuri melupakan rasa penasarannya pada Natsu.

Keduanya menepi, mendongak ke atas untuk melihat pertunjukkan indah di atas langit Sapporo.

Yuri sudah berkali-kali melihat kembang api, tapi rasanya tak bisa dibandingkan dengan bahagianya saat ini. Natalnya mungkin sangat membosankan dan sederhana bagi kebanyakan orang, tapi bagi Yuri, Natal hari itu adalah Natal yang terbaik yang pernah dimilikinya sejak sang ayah meninggal. Sebuah Natal di mana ia tak lagi merasa kesepian atau terasing.

“Andai Hani menonton ini,” sahut Yuri. Uap dingin keluar dari mulutnya kala ia bicara. Tahu bahwa udara semakin tak bersahabat, ia memindahkan kotak lampion yang dibawanya di dekat kaki supaya kedua tangannya bebas masuk ke dalam kantung parka tebalnya. Ujung jari-jari tangannya menangkap sebuah benda tipis yang bersemayam di sana. Yuri menarik benda itu dari sakunya dan menemukan kartu tarot pemberian Kiri di sana.

Tercetak di atas kartunya, sebuah bintang yang bersinar terang di tengah-tengah latar belakang hitam-legam.

“Mereka membuat satu yang besar di atas sana, lihat, deh,” tanpa melihat sang gadis di sebelahnya, telunjuk Natsu mengarahkan Yuri untuk mendongak sekali lagi, sama-sama memandangi sebuah kembang api ragam warna berukuran besar yang menghiasi Sapporo. Berkat ukurannya yang besar, efek yang ditimbulkannya berupa seberkas sinar yang sangat terang seolah-olah bintang-bintang bertebaran di langit dan mencoba mengambil alih kegelapan.

Yuri menyipitkan mata dan mengalihkan pandang. Ia juga sempat mengucek matanya dan menggelengkan kepala dua sampai tiga kali demi membuat indera penglihatannya membaik setelah cahaya silau barusan.

Saat ia mulai menguasai diri, kartu tarot kembali menarik atensinya.

Yuri memandangi kartu The Star di tangannya entah untuk alasan apa. Ia menyoroti satu-satunya ikon dalam kartu. Dalam sekon yang singkat, ia mendapati sebuah fenomena familier. Sang gadis kembali menatap kartu di tangannya dan kembali mendongak untuk melihat jejak cahaya residual di langit pasca kembang api super besar barusan. Ia menunduk kembali, kemudian mendongak sekali lagi, sekurang-kurangnya tiga kali, sampai akhirnya ditatapnya Natsu diam-diam.

Sang pria sedang asyik menikmati festival di langit, tanpa tahu bahwa gadis di sebelahnya tengah memandangnya penuh makna.

The Stars—Bintang.

.

.

Luhan berlarian ke bandara begitu ia menerima kabar dari Sayaka. Saat ia akhirnya bertemu dengan sang gadis, saat itu sudah tengah malam. Sayaka terbaring di ruang kesehatan bandara. Wajahnya pucat, matanya pun bengkak. Ia berkali-kali terlihat panik kemudian menangis tak terkendali. Barulah ketika Luhan datang ia menjadi sedikit menguasai diri.

Berdasarkan apa yang diceritakan dari petugas kesehatan bandara, Sayaka yang sedang menunggu pesawat ke Tokyo tiba-tiba pingsan setelah menerima telepon dari seseorang. Usut punya usut, sang ibu menelepon, memberitahukan bahwa sang ayah baru saja mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit umum Tokyo. Saat Sayaka mulai sadarkan diri, ia meraung-raung tak terkendali, meminta sebuah penerbangan darurat ke Tokyo.

“Kami tidak bisa mengabulkan itu, Tuan Takegaya. Trafik pesawat pada malam Natal sangat padat. Nona Shimura melewatkan penerbangannya saat ia pingsan. Kami tidak bisa menjadwalkannya ulang untuk malam ini. Paling tidak, empat jam lagi, Nona Shimura baru bisa pergi ke Tokyo.”

Mendengar itu, pada awalnya Luhan tak dapat melakukan banyak hal. Ia bahkan tak segera mengajak Sayaka berbincang meski kondisi sang gadis berangsur membaik. Bukannya tak peka, hanya saja Luhan tahu batas. Untuk seseorang yang selama ini menggembar-gemborkan kebenciannya pada sang ayah tiri, tak seharusnya ia melontarkan kalimat-kalimat bagus dan menyentuh yang membuat Sayaka baikkan. Bahkan jikalau harus berdusta, Luhan tak akan mungkin mengatakannya.

Kebenciannya pada ayah tirinya sudah cukup membuat Sayaka terluka, ia tak perlu menambah luka sang kakak dengan berpura-pura bersimpati atas lara yang baru saja menimpanya bagai peluru.

Meski begitu, melihat Sayaka dalam kondisi lemah dan tak berdaya, tetap saja membuat hatinya teriris. Tak pernah ia begini sejak mimpi buruk yang menimpanya beberapa tahun lalu. Sayaka tak mengatakan apa pun. Bukannya tak mau, tapi ia tak tahu. Lagipula, Luhan sadar betul, orang bodoh mana yang akan mengajak bicara seorang pria yang—sampai beberapa saat yang lalu—membenci ayahnya habis-habisan. Sayaka pasti masih punya akal sehat untuk berpikir sampai ke sana.

“Aku sudah memesan penerbangan paling awal, empat jam lagi, untuk dua kursi,” Luhan memberitahu, setelah beberapa jeda dalam hening. Mata dan tangannya sibuk membenahi barang-barang di dalam koper Sayaka, praktis, Luhan tak melihat ekspresi Sayaka yang tertuju padanya penuh curiga.

“Dua seat?” tanyanya lirih.

“Aku ikut.”

“Tapi…”

“Meski tak ada yang mau kehadiranku, aku tetap ikut. Bukan karenamu, tapi karena ibuku.”

Luhan meletakkan sebuah kaus di tumpukkan teratas dalam koper, kemudian menutup kopernya rapat-rapat. Ia menghela napas.

“Kaubisa menangis sebanyak yang kaumau sekarang, tapi, jangan di depan ibuku. Seperti dirimu, dia mengalami hidup yang cukup berat. Kuharap kaumau mengerti.”

Mata Sayaka memerah. Suaranya meninggi.

“Apa kau sedang mencoba menambah luka pada orang yang sedang berduka, Takegaya-kun?”

“Aku tidak peduli pada kesanmu tentangku, toh, aku tidak sedang berusaha berdusta. Marahi aku sesukamu, umpat aku sesukamu, aku akan tetap pergi ke Tokyo, dan masih tetap akan melarangmu menangis di depan ibuku. Tidak ada yang berubah meski kau marah. Itu juga berlaku untuk tangisanmu. Tidak akan ada yang berubah hanya karena linangan air mata.”

Sayaka meremas selimutnya. Luapan amarah membebani pundaknya hingga ia kembali meneteskan air mata.

“Kau sama berengseknya dengan ayahmu.”

“Begitukah?” Luhan mendongak, menanamkan maniknya pada manik Sayaka dengan begitu intens. “Lantas kenapa? Kenapa kau menghubungiku? Mau agar pria berengsek ini tunduk padamu karena alasan cinta? Cinta yang mana? Yang sudah kauleburkan jadi debu di masa lalu?”

“Pergi dari hadapanku!”

“Kau yang memulai semuanya, kau juga yang merusaknya. Tapi kemudian kau datang lagi, itu pun untuk kemudian pergi. Sekarang kau menangis seolah-olah hanya kau yang tersakiti dalam drama yang kaujalani. Padahal, tidak. Kau mestinya tahu kalau aku, ibuku, mendiang ayahmu atau ayahku, sama-sama merasakan penderitaan serupa. Kami yang seharusnya berjalan ke depan, beralih untuk lebih baik, tertahan di tengah-tengah karena kehadiranmu. Kaulah penyebabnya, Nee-san. Kau berada di antara kami untuk mengingatkan dosa-dosa di masa lalu, menghalangi setiap dari kami untuk maju, menghalangi dirimu sendiri untuk lupa.”

“Aku memintamu untuk pergi, Takegaya-san!”

“Kau berakting seolah kaulah satu-satunya korban. Bukannya kau tidak tahu. Tapi, kau tak mau tahu. Kau melakukan banyak penyangkalan pada dirimu sendiri. Dendam yang ada dalam dirimu telah mengakar, menyesap sedikit demi sedikit rasa iba yang kaumiliki. Tak masalah jika aku atau ibu, tapi kau bahkan menyakiti ayahmu sendiri dengan terus-menerus membahas masa lalumu; betapa menderitanya dirimu, betapa jahatnya keluarga kami, betapa suramnya masa depanmu. Sebetulnya, kaulah yang membuat ayahmu gelap mata. Bukan aku atau ayahku, tapi kau sendiri. Kau yang membebaninya dengan penderitaanmu.”

“PERGI KAU!”

Luhan menundukkan kepala, menghela napas berat. Ia menyibak rambutnya yang turun ke wajah sebelum berbicara kembali.

“Maafkan aku, tapi bagaimana pun, harus ada yang mengatakannya. Setidaknya, biarkan ayahmu beristirahat dengan tenang di akhir hidupnya tanpa dibebani pikiran-pikiran soal masa lalu. Relakan semuanya. Berhentilah menangis. Membiarkan orang yang berharga pergi selamanya diiringi air mata, tentu bukan sesuatu yang indah untuk diingat.”

Luhan menarik sebuah sapu tangan dari saku celananya, kemudian meninggalkan sehelai kain bermotif kotak-kotak itu di atas selimut yang membungkus Sayaka.

Luhan menepuk tangan Sayaka sebentar, sebelum akhirnya ia menghilang dari pandangan sang gadis yang kemudian menangis histeris.

.

.

Di ruang tunggu terminal keberangkatan, Luhan nampak sibuk menelepon. Ponsel genggamnya bolak-balik berpindah tempat—dari telinga ke saku celana—tiap semenit sekali. Tanpa dialog.

Rupanya, nomor yang coba ia hubungi tak kunjung menjawab. Meski demikian, ia tetap mengulangi kegiatan membosankannya untuk beberapa menit selanjutnya. Barulah ketika arloji digital-nya menunjukkan angka 2.15, usaha Luhan berbuah hasil. Sahutan kecil seorang gadis—setengah berbisik—menembus gendang telinga Luhan—hampir membuatnya melompat senang.

“Halo?”

“Yuri… kau… belum tidur? Apa aku mengganggumu? Kalau aku membangunkanmu, aku minta maaf, aku akan menelepon besok pa—“

Setelah serangkaian suara keresek akibat Yuri berusaha untuk mengubah posisi tubuhnya, barulah ia bersuara.

“Tidak, aku belum tidur, baru saja pulang dari festival. Ada apa?”

Luhan memberi jeda pada pertanyaan yang dilambungkan sang gadis. Baru pulang? Dini hari begini? Kemana saja dia? Begitu banyak pertanyaan yang timbul dalam benak Luhan kemudian. Tahu bahwa ia tak punya hak untuk penasaran—mengingat dialah yang meninggalkan Yuri di tengah-tengah konversasi penting—Luhan menelan kuriositasnya kuat-kuat. Hari ini ia merasa sangat bersalah pada Yuri, untuk itulah ia membuat sambungan telepon dini hari begini. Tujuannya tidak boleh terdistraksi oleh pikiran-pikiran negatif lain.

“Um… soal festivalnya… aku minta maaf telah meninggalkanmu tiba-tiba… ayah Sayaka—ayah tiriku—meninggal dunia. Dia sempat pingsan di bandara dan ketinggalan penerbangan. Untuk itulah dia meneleponku. Maaf karena—“

“Tidak masalah,” balas Yuri. Matanya menelanjangi seisi kamar, sebelum akhirnya mendarat pada sebuah lampion tidur yang dihadiahi Kiri. “Bagiku, bukan masalah besar.”

Luhan sempat terdiam—menduga—barangkali ia salah memilih ucapan maaf. Perilaku yang ditunjukannya pada Yuri beberapa saat yang lalu memang tak bisa dimaafkan. Pergi pada gadis lain setelah menyatakan cinta? Sungguh bukan memori yang patut dibanggakan. Luhan sadar betul.

“Um, begini… tiga hari lagi, bagaimana kalau kita bertemu? Kudengar masih ada festival yang lain di Sapporo.”

“Tidak bisa,” Yuri memandangi kalendernya. “Aku akan pergi ke Tokyo sampai liburan musim dingin usai.”

“Oh, kebetulan!” Luhan hampir berteriak. “Kapan kau berangkat ke Tokyo? Aku juga akan ke Tokyo hari ini untuk pemakaman ayah tiriku. Bagaimana kalau bertemu setelah kau tiba di Tokyo? Kau yang memilih tempatnya. Oke?”

Yuri tak langsung mengiyakan. Dirinya sedang berkontemplasi, mengorek hal-hal yang luput ia sadari selama empat tahun terakhir. Jeda beberapa sekon yang dibuatnya, dimanfaatkan untuk memandangi sinar samar dari lampion Youniverse-nya. Di sebelah lampion, sebuah kartu tarot dari Kiri dan keychain perak miliknya menyala redup, memantulkan sinar bias dari lampion yang berputar.

Yuri tiba-tiba tergelitik ingin tertawa. Tahu bahwa itu akan menimbulkan serentetan pertanyaan cemas dari orang di seberangnya, Yuri susah-payah menahannya.

Sebagai ganti, Yuri cuma tersenyum kecil. Pita suaranya bergetar, memecah sunyi singkat yang—mungkin—tak lagi akan didapatnya.

“Oke. Aku akan menghubungimu segera setelah sampai di Tokyo. Sampai ketemu nanti.”

.

.

tbc


Hampir menuju ending.

nyun.

Iklan

41 thoughts on “Youniverse [16 of ?]

  1. Huaaaaaaaa
    Siapa yg meninggal ? Siapa yg pergi ?
    Siapa bintang itu ? Natsu? Luhan?
    Awalnya aku pikir luhan
    Knapa di bagian akhir yuri senyum dan setuju ?
    Duhhh padahal udah jdi natsyul shipper
    Bingunggg dan keren seperti biasanya
    Kerennnnnn kaknyun 🙌🙌🙌
    Otw chapter selanjutnya kaknyun

  2. Hai kaknyun. Huwaaa cepetnya ff ini udah mau tamat. Sebenernya udah baca chap ini sehari setelah kakak posting buat refreshing otak di tengah2 padatnya siswi kelas 12 yang baru selesai unas *eh malah curhat. Komentarnya baru sempet sekarang, kak. Maapkan. Yaaaa gimanapun ntar Yuri akhirnya sama siapa, hati ini tetep ke NatsuYul deh. Dan kayaknya aku bisa nebak jalan cerita selanjutnya dari ramalan madam Kiri di atas kkkk

  3. jangan bilang kiri bernasib sama kayak yuri, dan jangan bilang laki laki yang di sukain kiri ayahnya yuri? dan maksud dari ramalan yuri dapet kartu the death salah satu orang terpenting yuri meninggal? siapa kak nyun? Luhan? atau ibunya? atau siapa? ih penasaran sama endingnya 😦 kak nyun endingnya jangan sad ending ya, apalagi kalo yulhan couple. mudah mudahan happy ending ya kak nyun

  4. kaknyunn kalo ff ini tmat bikin ff yg school life lagi yaaaa..
    aku tuu sukaa banget dann bikin pemeran nya anak-anak NCT dong.. mereka ckep anett cihh.. nda ttahan liatnya..
    oiya kak ini ff bagus bangettttt,, pengen belajar dari kakak gimana cara menulis yang baik dan benar karena tulisan ff ku jelek banget. 😦

  5. maaf nih bacanya dari part segini :3 numpang jejak ya kaknyun :’3 dari kemaren ceritanya mau komen tapi pakw uc masalah mulu :3

  6. Ada yang bakalan meninggal ya selain ayahnya Sayaka sensei 😦 berharap banget kalo itu bukan Luhan deh yaa , soalnya udah jatuh hati banget ni sama Yulhan 😀 😄 jadinya gak rela kalo Luhan mati

    Penasaran juga eon sama gadis yang akan datang buat benahin hatinya Natsu , berarti ini endingnya bukan NatsuYul yaa *soksokan nebak*

    Makin makin kepo sama Endingnya ni eonn, semoga Endingnya sesuai sama apa yang aku harapkan *heheh tamak dikit*

  7. Who will die?
    Who’s the star?
    So kiri had past relationship with Yuri’s appa..
    Who will Yuri choose between luhan n natsu????
    Yulhan will meet again at tokyo….

  8. Wahhh rasanya gak mau end deh kak nyun, duh pas luhan mluapkan semua kata katanya ke sayaka rasanya kok aku kesel sendiri ya ngeliat sayakany. Kata kata luhan terlalu kasar tapi apa yang dia bilang bener

  9. Jinja??Pacar Kiri tu ayahnya Yurikan?
    Dunia emang kecil deh..hahaha..

    Semuanya terbeban dengan masa lalu masing-masing.
    Jdi keingat sama yeoja yang dipeluk Natsu saat main ski.Itu Yurikan??

Ain't a selfie, don't just look, write something

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s