The Sorcerer’s Diary [Part 14]

tsd

early warning [PG 13]


Sebetulnya, Daehyun sangat cemas. Bahkan ketika ia sekali lagi berpidato persuasif sebelum keberangkatan timnya ke dalam sebuah misi pencarian penting, kegugupannya melanda dengan cepat, hampir-hampir mengempaskan cengkeramannya pada sebuah tongkat sihir cokelat kayu yang bagian pangkalnya sudah kikis. Tangannya dipenuhi peluh-peluh besar, membuat pelitur kayu samar pada tongkat sihirnya menjadi lengket.

Sebabnya bukan sesuatu yang spesial; Daehyun hanya membawa empat orang—termasuk dirinya—sedangkan orang yang akan mereka konfrontasi memiliki sekurang-kurangnya enam sampai tujuh bocah andal berstamina penuh. Agak nekad dan sedikit sembarangan, memang, tapi lebih baik ketimbang hanya duduk-duduk di dalam prisma energi sembari menunggu hari ketujuh datang.

“Aku mendengar sesuatu, Daehyun,” Suzy memperingatkan. Dengan sigap, Daehyun memberikan sinyal dengan tangannya, membubarkan barisan untuk mulai berkamuflase. Suzy melompat ke semak belukar dan membangun sebuah perisai tak kasat mata untuk sembunyi. Youngjae menggumamkan mantera dan melancarkan sihir ke udara, memeriksa penangkal sihir di sekitarnya kemudian memilih cara aman untuk naik dengan cepat ke dahan pohon besar terdekat. Dalam sekejap,  ia telah tersembunyi di balik dedaunan lebat. Kontras dengannya, Himchan, entah mengapa masih berdiri di tengah jalan, mematung.

“Kau gila?” Daehyun menariknya ke samping dan menyihir keduanya menjadi transparan. Setelahnya, ia mengumpat di telinga Himchan, membicarakan betapa idiotnya ia barusan. Dengan puluhan kata kotor yang ditujukan padanya, nyatanya Himchan masih belum benar-benar bergerak. Sekon singkat selanjutnya, satu-satunya kalimat yang berhasil Himchan ungkap hanyalah, “Akhirnya kau mengerti konsep idiot juga.”

“Kau benar-benar berengsek.”

“Normalnya, itu kalimatku. Tapi, sudahlah. Aku menemukan sesuatu, dan kupikir aku bisa memberitahumu nanti… eh, itu dia, Zinni Porte. Dia terlihat sedang mencari sesuatu… kurasa?”

Atensi Daehyun teralihkan begitu saja dengan kehadiran Zinni Porte—salah satu petarung tangguh tim Hansel. Apa dan kenapa gadis itu bisa berada di sana, masti misteri. Namun, Zinni terlihat tengah mengorek-ngorek tanah, mencari sesuatu dengan tekun. Kalau bukan karena misi gila yang dijalankannya, Daehyun sudah pasti akan merekam adegan itu dengan sihirnya dan menyebarkannya di seluruh papan-papan iklan Rauchsst. Zinni yang mereka kenal adalah seorang gadis pendek yang idealis. Dengan wajah kotak dan dahi lebar. Hidungnya mencuat ke depan, menyejajari dagunya yang seolah ditarik ke atas. Bibirnya kecil, kulitnya putih pucat dengan bintik-bintik hitam di sekitar hidung dan pipi tirusnya. Dengan penampilan seperti itu dan karakteristik yang agak unik, hampir dipastikan Zinni tidak akan pernah melakukan tugas-tugas remeh, seperti, mencari sesuatu di tanah, barangkali.

“Dia berbalik, kelihatannya dia tidak menemukan apa-apa,” Himchan melanjutkan laporan langsungnya—meski itu tak perlu. Tanpa curiga, gadis itu melengang pergi, kembali ke arah tempatnya semula datang.

Perlu waktu dua sampai tiga menit yang damai untuk menetralisir sihir dan kembali mewujud ke bentuk semula. Suzy Lovegood sepertinya mengalami hari yang berat dengan bersembunyi di balik semak belukar. Kakinya penuh goresan—mungkin tersaruk atau digigiti semacam serangga kanibal.

“Zinni pergi ke arah sana,” Suzy menyampaikan seolah tak cukup jelas. “Dia tadi menggumamkan sesuatu saat mencari sesuatu di tanah dekat denganku. Katanya, sial sekali Duppont muda itu, mencari akar? Yang benar saja!

“Wow, Suzy! Suaramu mirip sekali dengan Zinni,” Himchan menimpali—yang sama sekali tak ada hubungannya.

“Terima kasih?” Suzy menjawab ragu-ragu sembari menjengitkan alis.

Daehyun mula-mula tak mengacuhkan informasi dari Suzy, tapi setelah ia memerintahkan timnya untuk berjalan pelan-pelan ke arah di mana Zinni menghilang, Daehyun kepikiran sesuatu. Ia mengatakan opininya dengan lantang pada rekan-rekannya.

“Hansel Duppont punya sihir yang berkaitan dengan alam. Kurasa ‘akar’ yang dimaksud adalah residual sihirnya. Tapi, mengapa ia mencari residual?”

Youngjae yang sedari tadi memilih diam dan memerhatikan dengan saksama, kini buka suara. “Kurasa, ada hubungannya dengan apa yang terjadi dengan Liam dan Isabella. Akar itu—jika aku tidak salah ingat—bisa digunakan sebagai pelacak jejak. Mungkin ia menggunakannya pada Liam dan Isabella untuk menyelamatkannya, atau bisa jadi, ia sedang mencari sesuatu untuk dibuktikan kepada semua orang. Karena kita semua tahu, timnya akan berada dalam bahaya jika tiga tim yang lain sama-sama berpikiran untuk menyerangnya.”

“Bukti,” Suzy bergumam. “Kalau ia menggunakan akar sebagai pelacak, ia tahu sejauh mana keduanya pergi, dan ketika keduanya kembali tanpa akar-akar tersebut…”

“Duppont berasumsi bahwa tempat di mana akarnya terpenggal, itu adalah tempat kejadian perkara—tempat di mana bencana dimulai,” Daehyun menyimpulkan. “Menggunakan Zinni Porte sebagai pelacak, menandakan bahwa timnya juga sedang melakukan investigasi. Mungkin mereka berupaya membuktikan Liam dan Isabella tidak bersalah dan bersih.”

Himchan mengangguk-angguk. Ia hendak menimpali beberapa asumsi Daehyun, namun hal itu ditekannya segera. Materi yang akan ia sampaikan mungkin akan mengejutkan siapa pun—bisa jadi memecah belah—maka dari itu, Himchan menahan diri sebisa mungkin. Paling tidak sampai mereka bisa menculik Isabella dan Liam.

Sebagai ganti, ia menjentikkan jari, menarik atensi tiga kawannya yang lain.

“Baiklah, cukup menarik. Sekarang, tebak siapa yang punya rencana penyergapan paling brilian?”

.

.

Zinni Porte tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kembali bergabung dengan kawanannya. Ketika dia datang, mata awas Hansel Duppont memberinya ucapan selamat datang yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Di antara bagian putih dan hitam biji matanya, alih-alih syaraf-syaraf halus mata berwarna merah samar, garis-garis halus berserat serupa dedaunan tampak bersilangan di bola matanya. Hansel hampir tak pernah membuat ekspresi yang tidak diperlukan, tapi ketika Zinni Porte datang, bibirnya menyeringai seram. Hidungnya yang mancung tertarik ke samping sehingga kedua lubangnya membesar tak wajar. Telinganya berkedut dengan warna merah darah. Ia menggenggam sebuah tongkat sihir yang diyakini Zinni baru saja digunakan untuk mengeluarkan sihir yang tak ditangkap olehnya—ada asap di ujung tongkat, sekaligus teriak nyaring Isabella di ujung yang lain.

“Dia masih histeris?”

Hansel mengabaikan pertanyaan Zinni. Ditariknya lengan gadis itu menjauh dari kerumunan. Hansel mengatur keduanya agar mendapatkan privasi yang diperlukan.

“Bagaimana?” Tanya Hansel sejurus kemudian.

Zinni menjengitkan kedua bahunya.

“Aku mencari hingga area tempat kau melihat mendung tebal itu. Tidak ada apa-apa. Akar-akarmu…”

“Residual sihir.”

“Ya, terserahlah. Benda itu tidak ada di mana-mana. Tidak terlacak.”

Hansel memicingkan mata, “Kau yakin?”

“Serius, deh,” Zinni merasa tersinggung. “Kau mempertanyakan yang mana: kejujuranku atau kemampuanku?”

Ketegangan bisa saja tersulut di antara keduanya. Hansel yang tak mudah meletakkan kepercayaan, dan Zinni yang mudah sekali terbakar karena cibiran. Keduanya bukan elemen yang sempurna untuk dipertemukan dalam satu tim, apalagi dalam tekanan luar biasa. Tapi, Zinni berubah pikiran. Ia terlalu lelah untuk bertengkar; atau masih cukup cerdas untuk tidak mencari masalah dengan salah satu bocah yang berpotensi untuk membunuhnya.

“Lupakan saja. Lagipula, aku punya berita yang lebih menarik ketimbang akar-akar bodohmu.”

“Residual sihir,” Hansel mengoreksi.

“Kita kedatangan tamu. Cukup banyak,” Zinni memperingati. Cengirannya yang serupa rubah mengembang saat Hansel menatapnya. “Tapi, yang paling menarik adalah tamu yang ini.

Tak perlu satu pun tarikan napas atau kedipan mata, tamu yang disebut-sebut Zinni menampakkan diri.

“Luar biasa sekali,” suara nyaring menembus dedaunan kering, meluncur maju seiring dengan pemiliknya yang tersibak dari kabut, tak jauh dari mulut hutan rimba. “Harus kuakui, kami meremehkanmu, Nona Porte.”

Hansel mengerutkan kening, “Daehyun. Kupikir kau cukup bijak untuk tidak muncul di sini. Katakan aku salah.”

Daehyun berdiri di depan, memunggungi tiga rekannya yang lain. Tongkatnya masih disarungi di balik parka hitamnya. Meski demikian, Daehyun sudah bersiap untuk segala kemungkinan yang terjadi—meski jauh di dalam benaknya, pertempuran dirasanya tak perlu. Berdiri penuh kewaspadaan di hadapannya adalah orang yang paling ingin Daehyun hindari, Hansel Duppont. Dari jaraknya berdiri, wajah Hansel tampak sempurna seperti terakhir kali ia melihatnya. Hidung bak seluncur taman bermain kanak-kanak, dagu yang menggantung simetris di bawah bibirnya, pipi lengkung dengan dua lesung pipit samar, dan mata lebar yang mengingatkan Daehyun pada karakter dalam komik-komik ilegal yang diselundupkan dari negara seberang—iya, Daehyun sangat suka bicara dengan pedagang pasar gelap. Daehyun—sebagai pria—hampir tak heran mengapa separuh dari tim Hansel terdiri dari kaum hawa. Ia sendiri hampir terlena dengan wajah melankolis tersebut. Serius, wajahnya tak menunjukkan sedikit pun tanda kejahatan—hampir tidak—jika saja tongkat sepanjang lima belas senti tak dijulurkannya ke depan—membuat Daehyun tergelak dan segera mencabut tongkat sihir dari balik parkanya.

“Iya, kau salah. Aku bisa di mana saja. Bijak bukan suku kata favoritku.”

“Cih,” Zinni Porte meludahkan air liurnya ke samping. Terutama saat matanya bersirobok dengan manik jernih Suzy Lovegood. “Kelihatannya kau yang menggiring mereka kemari setelah mendengarkan ocehanku, ya, gadis dungu? Benar-benar setolol kelihatannya. Bahkan tak curiga tentang jebakan. Ck.”

Suzy Lovegood tak bicara apa-apa. Tersenyum pun tidak. Ia cuma berdiri, memastikan tangan kanannya memegangi tongkat sihir sembari menunggu perintah selanjutnya. Perkataab Zinni Porte tak memengaruhinya sama sekali.

“Apa tujuanmu?” Hansel Duppont mengambil alih topik. Suaranya tenang dan penuh kuasa. Tubuhnya yang tegak dan ekspresinya yang penuh wibawa seakan membuktikan kepribadian Hansel yang sesungguhnya; seorang ahli strategi yang cermat. Para punggawanya berderet rapi di belakang dengan tidak beraturan, masing-masing menggenggam tongkat sihir dan bersiap mengingat-ingat mantera; masing-masing kelihatan tahu dan piawai tentang apa yang mereka lakukan.

Tapi, Daehyun tidak gentar. Di sisinya, berdiri seseorang yang telah membuat rencana penyergapan kelas wahid; mereka semua menyerang dari depan hingga lelah, dan biarkan musuh mengambil alih—rencana apa lagi yang lebih wahid dari ini?—sedikit tolol, kontroversial, dan sinting. Sekarang, si ‘ahli strategi’ sedang cengar-cengir memandang ke depan, memperkirakan resiko apa lagi yang dibutuhkan untuk menang.

“Sama seperti tujuanmu mengacungkan tongkat itu: Isabella dan Liam,” jawab Himchan. Bibirnya bergetar dan mendadak mengering setelah mengucapkan kalimat barusan. Seolah, ia masih tak percaya apa yang dikatakannya.

“Haha,” Zinni Porte tertawa merendahkan. “Kalian tidak bisa berhitung, Bung? Atau lupa eksistensiku. Dengan idiot-idiot di sana, satu serangan pun tak akan mempan.”

Logis dan realistis. Himchan tak bisa lebih setuju lagi. Orang-orang bilang ia adalah si jenius yang sinting. Dan demi mempertahankan nama besar tersebut, Himchan telah lama membuang kewarasannya jauh-jauh. Cara berpikirnya terbalik. Resiko-resiko yang diambilnya luar biasa pelik. Tapi, jika ada yang mencari hasil terbaik yang adil dan terbuka, maka Himchan adalah orang pertama yang akan direkomendasikan.

“Ada si Dungu yang berteriak, tuh,” Suzy berbisik. Tidak pernah benar-benar berbisik, karena Zinni Porte menjadi marah sekali setelah itu. Secercah sinar merah marun berbentuk elips memanjang terlontar ganas ke arah bahu Suzy. Untungnya, Suzy segera menghindar dan terselamatkan dari kematian sia-sia. Ia merunduk dan berguling ke samping kanan, melepaskan mantera dan cahaya biru sekaligus. Seketika, tubuh Zinni Porte terjengkang beberapa meter ke belakang, terantuk kerikil kemudian mendarat di dinding terluar undakan batu besar dengan suara berdebum yang membuat siapa pun linu.

“Kalau aku jadi kau, Nona Zinni,” Daehyun mengernyitkan dahinya saat mendengar suara tulang Zinni yang berkeretak saat berupaya bangkit. “Aku akan pura-pura mati dan membiarkan Nona Lovegood meremukkan tulang orang lain.”

Hansel Duppont, yang sedari tadi memerhatikan dengan waspada, kini mulai menyeringai. Bukan jenis seringai seram seperti pemburu yang bertemu dengan mangsa. Tapi seringai antusias, bak pemburu yang haus bertemu dengan pemburu lain.

“Kalian sudah melewati batas. Aku tidak akan segan-segan.”

.

.

Yuri sedang ditugaskan berjaga di bagian depan prisma energi—yang disinyalir terlemah di antara bagian yang lain—saat tiba-tiba perasaan tak enak menyerangnya di ulu hati. Krystal sudah terlelap, kelelahan. Sehun duduk di sampingnya, menjaga Baekhyun dan Krystal sekaligus meski sang pemuda tampaknya akan jatuh tidur sebentar lagi. Prisma energi bukan pilihan bijak untuk digunakan terus-menerus sebagai perisai pelindung. Akan tetapi, dengan satu orang yang terluka parah dalam sebuah tim, prisma energi menjadi esensial. Sifatnya yang melindungi sekaligus menyalurkan energi terpusat untuk proses penyembuhan, menjadikannya satu-satunya pilihan bagi Krystal dan timnya. Kekuatan yang hebat, memang; setimpal dengan resikonya yang juga ekstrem. Pencipta sihir prisma energi akan mengalami dehidrasi sihir yang parah. Kekuatannya akan terisap ke dalam prisma dan terus-menerus mengikis kesadarannya sendiri. Dalam kasus yang lain, penggunaan prisma secara kontinyu dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan kegilaan permanen bagi para penciptanya.

Maka, Yuri mafhum jikalau sesekali prismanya berkedip dan terbuyarkan lantaran Krystal butuh istirahat sejenak. Yuri juga tidak ingin punya teman satu tim yang menjadi sinting mendadak.

Sejauh ini—bahkan setelah perasaannya menjadi kacau—Yuri tak menemukan hal-hal aneh. Pepohonan, para hewan, cuaca… segalanya damai. Jenis damai yang melenakkan dan membuai. Kewaspadaan adalah mutlak, meski Yuri sesungguhnya ingin pergi sejauh lima meter ke depan, memuntahkan rasa mual di ulu hatinya tanpa ketahuan.

“Seseorang sedang memerhatikanmu dari jauh.”

Sebuah suara tiba-tiba muncul saat Yuri berusaha menekan rasa mualnya. Kalau ia tak tahu ada dua orang jiwa gentayangan yang menumpang di tubuhnya, barangkali Yuri sudah menembakkan cahaya sihir kemana-mana.

“Juniel?”

Aku Lee Hitidak penting sekarang. Waspada, Yuri. Aku tidak tahu dia apa. Energinya sangat aneh. Hampir tak tampak seperti manusia. Hanya satu yang jelas, targetnya adalah kau. Aku bisa merasakannya.”

Tubuh Yuri bergetar. Efek dari peringatan dini Lee Hi membuatnya harus berputar kembali ke sisi Krystal, membuat sang gadis perlahan terbangun dari istirahatnya. Sebelum Krystal bertanya dan membuat suara-suara, Yuri sudah membungkamnya dengan sebuah telunjuk yang ia letakkan cepat di depan bibirnya sendiri, memberi tanda bahwa segalanya harus sesunyi seharusnya.

Yuri berdiri waspada. Tongkatnya sudah ditarik dari balik pinggang, mengekori matanya yang menyalang waspada. Jantungnya berdegup kencang, namun Yuri berusaha mengendalikannya. Malam itu seharusnya cukup hangat dengan prisma energi yang mulai kembali bekerja dengan normal setelah Krystal bangun, tapi suhu tiba-tiba menurun dengan sangat cepat. Meskipun Yurilah yang meminta suasana sunyi, sesungguhnya terselip sedikit kekhawatiran di hatinya. Hutan, tadinya tidak sesunyi ini—seharusnya hewan nokturnal terlihat di jam-jam seperti ini, namun faktanya tidak ada. Takut kalau-kalau hal ekstrem terjadi, Krystal mulai berdiri.

“Ada yang aneh,” bisiknya. Tongkatnya sudah berjaga, melindungi bagian depan tubuhnya. Instingtif, Krystal memeriksa bagian selatan prisma, sementara Yuri pergi pelan-pelan ke bagian utara, berusaha tidak membuat suara apa pun. Mereka sudah siap untuk yang terburuk ketika tiba-tiba Baekhyun bangun dan berteriak di hadapan keduanya.

Se… rah… kan…”

“Baekhyun!”

Krystal refleks berteriak. Tubuhnya secara spontan berlari ke depan, di mana Baekhyun yang seharusnya sedang pingsan kini mengamuk seperti penyihir sinting. Pemuda itu merebut tongkat sihir Sehun dari dekapannya, kemudian berdiri di atas tubuh Sehun dan menginjak-injaknya tanpa ampun. Sehun yang masih kelelahan karena pengurasan energi sihir yang tiada habisnya sedari siang, tak sempat memberikan perlawanan. Ia harus puas dengan perlakuan tak wajar Baekhyun padanya.

“Yuri! Bantu aku!”

Krystal berteriak panik. Dengan tongkat sihirnya, ia sudah membelenggu Baekhyun dengan serangkaian cahaya yang melingkar di seluruh tubuhnya, tapi sang pemuda mematahkan sihir tersebut dengan mudahnya. Entah karena sihir Krystal terlalu lemah atau memang Baekhyun benar-benar lebih kuat dari biasanya. Putus asa, Krystal kembali meminta bantuan Yuri lantaran sang gadis tak kunjung datang.

Yuri, di pihak lain, berjalan sangat pelan. Berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya ia lakukan. Gadis itu peduli, sungguh. Hanya saja, kepalanya mendadak disesaki fragmen-fragmen aneh. Visinya soal Krystal yang sedang menyelamatkan Sehun dari cekikan maut Baekhyun, berganti seketika dengan pemandangan savana yang begitu luas. Ujungnya gelap, tenggelam dalam malam, membuyarkan garis horizon yang seharusnya ada. Tidak ada angin yang bergerak, kumbang yang melintas, atau hama pada ilalang yang biasanya membuat suara-suara bising.

Di savana yang begitu gelap tersebut, berdirilah ia menyaksikan pemandangan yang tak akan mungkin ia lupakan; peperangan misterius.

Seorang pemuda tinggi berdiri di depannya, melawan sesuatu yang tersusun dari bayangan. Wajah sang pemuda yang tertutup kabut membuatnya susah sekali dikenali. Apalagi ketika pemuda misterius tersebut berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Dari balik kabut, Yuri bisa melihat gigi taring mencuat dari mulutnya, turun begitu panjang dan kokoh melebihi dagunya. Kuku-kukunya menjadi cakar keperak-perakkan, ujungnya runcing, berkilat-kilat dalam gelap. Kedua kakinya yang semula berdiri tegap, kini bengkok ke depan, senada dengan tubuhnya yang agak bungkuk. Parka yang seharusnya menggantung sebatas betis, kini tersaruk ke tanah karenanya, menutup seluruh tubuhnya dari pandangan.

Bayangan di hadapan sang pemuda mulai bergerak, mengacungkan apa yang Yuri asumsikan sebagai jari. Jari-jari itu berkerut-kerut, berlendir, dan memiliki pori-pori yang cukup besar, persis seperti kulit luar pada reptil liar. Keanehan belum berhenti sampai di situ. Yuri sempat melihat dua buah benda besar serupa sayap menempel di belakang ruas tulang belakang bayangan tersebut. Sayap yang sebagiannya ternoda oleh cairan merah pekat.

Dua sosok tersebut tampaknya tak menghiraukan eksistensi Yuri. Keduanya beradu pandang, sama-sama tengah mempersiapkan sesuatu di balik tangannya. Yuri menyipitkan mata, mencari-cari keberadaan tongkat sihir atau media magis lain yang lazim dipergunakan dalam pertarungan. Namun, nihil. Keduanya telanjang tangan saling menyerang satu sama lain, menembak dengan cahaya dari ujung-ujung jarinya, kemudian membangun perisai energi yang mengerikan di sekeliling tubuh masing-masing.

Medan energi itu bagai magnet, menarik-narik jiwa Yuri dalam kepingan-kepingan kecil hingga sang gadis menjerit ngeri. Pita suaranya beresonansi terhadap energi misterius tersebut, membuat jeritan yang dihasilkannya lebih terdengar seperti bisikan halus. Yuri mencari-cari tongkat sihirnya, namun benda itu tak ditemuinya di mana pun di balik parkanya. Otaknya memroses cepat, mendorongnya untuk mencoba sebuah sihir besar yang belum pernah dilakukannya lagi sejak karantina; sihir tanpa mantra.

“Ayolah, Yuri.”

Ia terdesak. Kedua sosok misterius tersebut tampak tidak akan mengalah satu sama lain. Malam yang semula gulita kini menjadi benderang, dihiasi oleh cahaya merah dan biru yang membentuk sebuah balon transparan raksasa di atas tanah. Kedua cahaya itu bisa bertabrakan kapan saja, dan entah kerusakan apa yang bisa ditimbulkannya.

Ketegangan pekat begitu terasa saat sosok hitam di balik medan energi merah terangkat perlahan ke atas. “Terangkat” mungkin bukan istilah yang tepat, lantaran selanjutnya Yuri melihat sayap di punggung sang bayangan hitam mengepak perlahan. Sosok itu perlahan terbang. Balon energi mengikuti di sekelilingnya, sehingga ia semakin tampak mengintimidasi.

Lawannya tak habis akal. Dijentikannya jari dan seketika balon biru miliknya berubah, mengambil bentuk binatang yang paling tidak Yuri sukai: serigala. Tidak hanya satu, tapi dua. Sang penyihir masih di dalam medan energi biru tersebut, ketambahan seseorang yang mungkin difungsikan sebagai bala bantuan. Keduanya berdiri bersisian, membentuk kuda-kuda untuk menyerang.

Jiwa Yuri pecah. Ia sempat kehilangan fokusnya beberapa kali. Pemandangan menyeramkan itu dengan cepat berganti ke sosok Krystal yang tengah terjerembab di tangan Baekhyun, kemudian bergulir kembali ke pemandangan ganjil selanjutnya; kedatangan tamu baru di antara para sosok misterius yang tengah berperang.

Yuri mendengar namanya dipanggil, ditarik-tarik oleh sesuatu yang asalnya bukan dari savana. Tapi medan energi di sana terlalu besar bagi Yuri untuk tetap fokus. Matanya kerap kehilangan fokusnya, berganti-ganti grafis. Kadang ia mendengar Krystal berteriak meminta pertolongan, lalu selanjutnya ia mendengar gesekan energi dari sebuah tongkat sihir yang menyala-nyala di tengah para sosok misterius yang berhenti bertarung. Lalu suara itu berganti kembali menjadi keributan besar, serangan-serangan sihir yang tiada ampun yang entah datangnya dari mana. Lantas kembali ke Krystal.

Saat Yuri pikir segalanya sudah berakhir dan tekanan energi pada psikisnya sudah mereda, ia salah besar. Karena yang Yuri lihat selanjutnya adalah Jongsuk. Ia berdiri di antara ketiga sosok aneh tersebut dan merapalkan sebuah mantra yang tidak Yuri kenali. Seketika, ketiga sosok tersebut memudar, terbuyarkan menjadi pasir yang berputar spiral di udara, kemudian tersedot lengkap ke dalam sebuah benda yang mirip dengan pedang. Residual sihir terpancar jelas dari mata pedangnya yang tajam, sementara gagangnya digenggam kuat oleh Jongsuk.

Yuri membelalakkan mata tak percaya. Ia sungguh-sungguh tidak bisa mencerna apa yang baru saja ia lihat, tapi ia berusaha untuk tidak berteriak. Meskipun Jongsuk—atau siapa pun dia—tidak melihat ataupun mendengarnya, ia tetap tidak mau bersuara. Instingnya mengatakan agar ia menjaga diri agar tetap tak terlihat. Yuri bahkan membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri, sambil bertanya-tanya apa yang baru saja dilakukan Jongsuk, dan dari mana segala visi tersebut berasal.

Jongsuk menyarungkan pedang yang digenggamnya, kemudian menghilangkan benda tersebut dengan sihirnya. Selanjutnya ia memandang ke depan. Yuri merasakannya. Ia yakin bahwa di mana pun ia berada, Jongsuk tidak mungkin sadar akan presensinya, layaknya ketiga sosok aneh sebelumnya tak memperhatikannya. Alih-alih, netra Jongsuk menunjukkan sebaliknya. Ia menatap ke depan, kemudian tersenyum.

“Hadiahku untukmu, Nona Feckleweis.”

Yuri tertegun sebentar.

Jongsuk tidak sedikit pun menggerakkan bibirnya, melainkan hanya tersenyum tipis seperti biasa. Tapi Yuri tahu—siapa pun tahu—tak ada suara mengintimidasi seperti suara profesor yang satu itu. Seorang dan satu-satunya.

“Ketika kau kembali, aku yakin ada seseorang yang akan membunuhmu. Cobalah bekerja sama dengannya,” ujarnya lagi.

“Profesor Jongsuk? Benarkah itu anda, Profesor?”

“Nona Feckleweis,” suara itu tak mengindahkan pertanyaan Yuri. “Teman-temanmu tak bisa banyak membantu. Dari sini, hanya kau dan orang-orang yang kupilih yang bisa melanjutkan.”

“Apa maksud anda, Profesor?”

“Kau akan butuh bantuannya, bantuan orang yang kini sedang dalam perjalanan membunuhmu.”

“Bagaimana aku bisa meminta bantuan dari orang yang akan membunuhku, Profesor? Itu tidak masuk akal! Lagipula, apa ini? di mana ini?”

“Nona Feckleweis, waktumu sempit. Dark Witch sudah memulai gerakannya. Teman-temanmu dalam bahaya. Menyelamatkannya, butuh banyak sekali pengorbanan. Tapi, kalau kau menuruti kata-kataku, kau akan menemukan jalan pintas.”

“Bisakah anda berbicara dengan lebih jelas dan menghindari teka-teki, Profesor?”

“Aku tidak bisa,” Jongsuk memelankan suaranya. “Selalu ada yang memerhatikan, Nona. Dewan Sihir. Raville. Dan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah kita cemaskan. Lagipula, kalau aku mengatakan yang sebenarnya, dua jiwa di dalam dirimu tidak akan suka.”

Yuri refleks memegangi kalungnya yang tergantung di leher.

“Waktumu benar-benar sempit sekarang, Nona. Kaupunya potensi, dan bisa menjadi sangat kuat kalau kau mau. Tapi kau juga bisa sangat berbahaya. Jadi, ingat saja kata-kataku tadi. Dan…”

Grafis Jongsuk menjadi timbul-tenggelam seiring dengan teriakkan Krystal yang menggetarkan seluruh savana.

Sebelum bayangan Jongsuk benar-benar tergantikan oleh pemandangan mengerikan dari Krystal yang menggantung di pohon dengan tubuh penuh darah, Jongsuk berbisik padanya, mengucapkan sebuah pesan yang Yuri harap tak pernah dikatakan siapa pun.

“Kau tidak bisa menyelamatkan setiap orang, Nona.”

.

.

to be continued.


Nantikan chapter selanjutnya ya.

nyun.

16 thoughts on “The Sorcerer’s Diary [Part 14]

  1. Cynthia berkata:

    Siapa yg akan bantu yuleon??
    Krystal, Sehun meninggal gitu??
    Ato krystal aja??
    Gmn ini??
    Ditunggu bgt chapter selanjutxnya..
    Udah lama banget gak diposting..
    Ditungguu..

  2. mellinw berkata:

    aaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh akhirnya update jugaaaaa.
    yaampun kak, kayak biasa sih apa yang ditulis kakak ini dikemas dgn luar biasa, dan aku makin gak sabar dengan kelanjutannya kak, aduh aduh..

    itu siapa sih yang mau bunuh yuri? Liam?
    youngjae itu gimana dia nantinya?
    himchan nemuin sesuatu apa kak?
    gasabar loh ini
    hahahhaa

    Gimana yuri nantinya yah kak, daehyun juga gimana. Dan hansel semoga org yg bs diajak kerja sama nantinya haha

    ditunggu kelanjutannya kak. Selalu.

  3. Ckh.Kyr berkata:

    Krystal sama Sehun ga mati kan? Baekhyun nya juga gimana tuh?
    Trus yg mau bunuh Yuri siapa? Ok kita tunggu chapter berikutnya /plak

  4. Rania SonELF berkata:

    Kak Nyun,… Akhirx update lgi.. Sungguh aku merindukan tulisan”mu J.k Rowlin versi indo.

    Ya ampun itu Krystal nggak mati kan..?? Jöngsuk knapa bisa muncul tiba” gtu..?? Ciri khas ff kak nyun thu emang slalu misterius..

    Kak Nyun jngan lupakn TOZ & MOS yha,..

    Pada tanggal 21/10/16, BlackPearl Fairy Ta

    • Chysoo berkata:

      Kaknyuuun sudah berabad-abad aku menunggu postingan di blog kaknyun dan akhirnya muncullah cerita yg lagi2 super keren yg sepertinya harus cepat2 kk selesaikan karena menunggu sesuatu yang sangat tak menyenangkan :”)

      Yang paling bikin penasaran adalah pastinya ketika Yuri melihat sesuatu yg lain ketika ia harusnya membantu teman-temannya. Dan, kemunculan JongSuk ternyata membawa kabar dgn misteri besar :”) tak sabar utk part 15nya! Fighting kaaak

  5. Lulu KEG berkata:

    omegot Senangnya kak Nyun rilis TSD lagi….setelah sekian lama.. T_T
    why oh why aku ikutan tegang jiwaku serasa masuk ke dunia mereka/? Itu Baek ko bisa jadi gitu elah..dan tunggu yang dimaksud Zinni masih histeris itu siapa kak? Liam atau Issy? Salah satu diantara mereka seperti Baek kah?? lagi pak Jongsuk dateng2 malah nambah pr buat Yuri bikin daku amat sangat penasaran aja sama kelanjutan ceritanya..

    Emh, oke, plis, aku mau komen apa soal story-line yg emejing macem ini,, aku selalu kehabisan kata-kata. dan sumpah aku makin jatuh cinta dengan gaya bahasa yang mencirikan tulisannya kak Nyun banget.

    Anyway, trimakasih kak Nyun karna masih mikirin perasaan para pembaca yang masih nunggu kelanjutan karyamu kak (emang/gitu?/iya/enggakpun/aku/anggep/gitu) hehe pokonya makasih banget.. aku pasti selalu tunggu chapter selanjutannya^^

  6. Ersih marlina berkata:

    akhrnya akhrnya ka nyun update . Hihi snangnya

    o iya, msh pnasaran, itu jongsuk ko bsa ada di byangan yg yuri liat? Trus dia blang nya ” ini hadiah dariku ” jdi mksudnya byangannya jahat ?

    Trus dia blang yuri ga bsa nlong semua yg dia mau, org yg mau bnuh yuri pun itu org bsa bntu yuri. Ampun dah, frustasi jdi yuri pasti haha

    . Ka nyun. Tetep smangat yah. D tnggu lanjtan yg lainnya hehe

  7. kyulyulmiu berkata:

    Yeaaay kak nyun update walaupun aku telat sih akhirnya
    Duh itu daehyun udh ketemu si hansel
    Itu yuri dikasih visi sama joongsuk yg msih tekateki
    Penasaran siapa disini yg bakal bunuh dan bantu yuri,apalagi sama keadaan krystal dan yg lain
    Dtggu terus update nya kk nyun

  8. lalayuri berkata:

    Omaigat akhirnya kak Nyun update. Kak kangen bgt tau sama ff buatan kak nyun makanya pas aku iseng buka blog dan liat ff ini di update aku langsung teriak histeris. Kak storylinenya bener bener amazing dan buat aku gak sabar pengen baca part selanjutnya. Jangankan jadi yuri aku yg baca aja pusing apa maksudnya si jongsuk. Kak yg mau bunuh dan bisa menyelamatkan yuri itu jongin kah ? Soalnya dia gak muncul sama sekali di part ini. Ahh kak jangan lama lama dong updatenya, penasaran tingkat tinggi nih, gimana nasib yuri?, krystal sehun meninggal ?, gimana daehyun dkk ? tpi intinya aku berterima kasih karena kak nyun update nih ff dan ceritanya memuaskan

  9. Stella Kim berkata:

    OMG AKHIRNYA DIUPDATE JUGAAAAAAA!
    Yaampun seneng banget kak aku pas liat tsd chap 14, antara kaget senang dan gabisa percaya.

    Penantian selama ini ga sia-sia! Chap ini omg seru banget! Pheonix and wolf ‘s comeback?

    Baekhyun kenapa kak ini?? Sehun sama krystal juga ga selamat ya?? Oke chapter ini meninggalkan seribu tanda tanya buat aku.

    Terimakasih kak nyun untuk updatenya yg indah! Dan ditunggu update selanjutnya

  10. wulan berkata:

    Aaaaaaaahhhhhh, akhirnya kaknyun update…
    Aku seneng bangeeettt. Akhirnya, penantianku selama ini ga sia”.
    Baekhyun kenapa kak? Sehun sma krystal gpp kan ya?? Penasaran..
    Seperti biasa, cerita kaknyun itu selalu bagus dan bikin penasaran. Keren deh pokoknya.
    Ga sabar nunggu kelanjutannya, ditunggu update selanjutnya..😍😍

  11. zcheery berkata:

    Yeaaa akhirnya update jugaa~~
    Saking lamanya aku jadi lupa apa yg terjadi sama liam dan Isabella hahaha.. but, ur story is amazing as always, pemilihan kata juga baguss 👌👌 ditunggu kelanjutannya kak hahaha Gbu!~

  12. jati arum berkata:

    AstagaaaaaaAa rasanya uda lama banget gabaca ff kaknyu’nih. Keren keren keren, rasanya ngak sabar buat next chapter
    Pokoknya kakak kerennnn banget. Ff’nya juga

Leave your review, don't treat me like a newspaper.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s